
49
Ceklek!
Sekitar pukul sebelas Satria telah sampai di kediamannya.
Dengan hati - hati ia membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang ia pegang. Ia takut membangunkan istrinya. Tadi Satria sudah berpesan pada Maudy agar jangan menunggunya.
Setelah membersihkan diri di kamar mandi yang ada di kamar tamu, Satria pun masuk ke kamarnya.
Ia tersenyum melihat istrinya tengah terlelap.
Perlahan ia membaringkan tubuhnya di samping istrinya itu. Satria tidak ingin wanita yang terlelap itu terganggu.
Belakangan ini sudah menjadi rutinitas wajib, jika tidur harus memeluk guling hidup di sampingnya itu. Nyaman, hangat dan menentramkan itulah yang dirasakan Satria saat memeluk Maudy.
Otomatis Maudy bisa merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Ia pun tersenyum. Senang rasanya, suami yang ditunggu dari tadi akhirnya pulang juga.
"Kamu baru pulang?" tanya Maudy seraya menyentuh tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Eh, kamu terbangun? Maaf ya, kamu jadi terbangun," sahut Satria seraya mengeratkan pelukannya.
"Maaf ya, aku pulang terlambat!" imbuh Satria.
"Nggak apa - apa! Kamu sampai rumah dengan selamat aja, aku udah senang," sahut Maudy.
Cuppp!
Satria mengecupp tengkuk Maudy.
"Duh, geli!" Maudy merinding dibuatnya.
Cuppp! Cupp!
Satria kembali mengecupp tengkuk Maudy secara bertubi - tubi.
"Duh, geli tahu!" rengek Maudy seraya terkikik. Lalu ia membalikan badannya. Kini mereka berhadapan.
"Ngantuk Nggak?" tanya Satria.
"Ngantuknya hilang!" sahut Maudy seraya mengerucutkan bibirnya.
"Mmmh, main sebentar yuk?! " goda Satria.
__ADS_1
"Hahh, main?" Maudy loadingnya lama.
Cupp!
Satria mengecupp bibirr ranum itu sekilas. Ia gemas dengan istrinya yang masih bingung itu.
Sett!
Kini pria gagah itu sudah berada di atas Maudy dengan senyuman lebar menghiasi bibirr tebal seksihnya.
"Emang kamu nggak cape?" tanya Maudy.
"Nggak! biasanya capeknya hilang kalau habis main," sahut Satria cepat.
Ck! Maudy berdecak.
"Bukanya tadi pagi sebelum berangkat kerja kita sudah main?" Maudy seolah mengingatkan, tapi tangannya mengelus rahang yang ditumbuhi bulu halus milik Satria.
"Sekarang mau lagi!" tegas Satria.
"Larut malam begini?" goda Maudy. Sedangkan tangannya mengelus - elus dadaa yang cukup bidang itu.
Satria tidak menjawab. Ia malah semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya itu.
Menghisap bagian - bagian yang sudah menjadi candunya. Yang ranum - ranum di sikat tanpa ampun.
Rasa kantuk Maudy seketika lenyap. Ia terbuai dengan sentuhan suaminya itu. Maudy Klepek - klepek Seperti ikan mujair tanpa air. Bak cacing kepanasan menggeliat tidak karuan.
Tidak peduli malam semakin larut. Kedua insan yang dilanda hassratt memabukan itu semakin menggila tergulung ombak kenikmatan.
Beberapa saat kemudian kegiatan menyenangkan itu akhirnya selesai juga.
"Terima kasih!" ucap Satria seraya mengecupp kening istrinya itu. Lalu berbaring di samping Maudy seraya menarik selimut untuk menutupi keduanya.
Maudy hanya tersenyum. Lalu merebahkan kepalanya di lengan Satria, sedangkan tangannya berada di atas dadaa Satria. Sesekali mengelus lembut dadaa yang ditumbuhi bulu itu.
'Jangan begitu, nanti aku minta lagi! " goda Satria seraya mencekal tangan Maudy. Jujur sentuhan Maudy itu bisa membuat Satria meremang.
" Ish! " desis Maudy seraya memukul dada Satria pelan.
" Dy..! " panggil Satria dengan mata terpejam.
" Hmmm! " sahut Maudy.
__ADS_1
"Kita sudah menikah hampir dua bulan lamanya lho," ucap Satria.
"Iyaa, terus??" sahut Maudy dengan mata terpejam juga.
"Masa panggilan kita tidak berubah? Kamu jangan panggil aku" Satria" nggak sopan tahu, sama suami panggil nama! " tutur Satria.
" Terus aku harus panggil apa dong?" tanya Maudy seraya memutar - mutar telunjuknya di dada Satria, terkadang membuat sebuah huruf.
"Apa saja, asal jangan panggil nama!" sahut Satria.
"Kalau aku panggil abang, nanti jadinya Bangsat!" Maudy terkikik.
"Aa Satria? Akang Satria? Ah, terlalu aneh diucapkan," ucap Maudy sambil terus berpikir.
"Bagaimana kalau, mama- papa, mami- papi, ayah - bunda? untuk membiasakan sejak dini jika kita punya anak nanti," ucap Satria.
"Boleh juga, sih! tapi aku ingin panggilannya berbeda dari yang lain. Kayak artis - artis panggilannya unik," ucap Maudy.
"Apa ya?" Satria ikut berpikir serius.
"Ah iya! Bagaimana kalau kamu panggil aku Mamaw, dan aku panggil kamu Papaw!" seru Maudy.
Satria berpikir sejenak. " Boleh juga!" seru Satria.
"Papaw!" Maudy memanggil Satria.
"Mamaw!" balas Satria memanggil Maudy.
Lalu keduanya terkikik merasa absurd dengan tingkah masing - masing.
Cupp!
Saking senangnya Maudy menciumm pipi Satria.
Cupp!
Satria membalas mengecupp bibirr Maudy.
Tidak puas dengan hanya mengecupp di situ , kecupannpun mulai merambat kemana - mana. Dan akhirnya membangkitkan sesuatu yang memiliki tegangan tinggi.
"Papaw!" lirih Maudy yang tak kuasa berkata - kata lagi, karena suaminya itu sudah membuat dirinya tidak berdaya lagi.
Beruntung besok weekend, jadi suka - suka merekalah mau main sampai pagi juga.
__ADS_1
Maklum namanya juga pengantin baru, masih hangat - hangatnya.