Cinta Pertama Maudy

Cinta Pertama Maudy
Bab 27


__ADS_3

Keano semakin merangsek tubuh Maudy, tangannya mengelus punggung seputih keju itu dengan liar.


"Kak! Eh! Maudy mendorong dada kekasihnya itu dengan lembut. Ia menyudahi dengan paksa  aktivitas taut menaut barusan.  


" Kenapa? " tanya Keano dengan sorot mata lembut penuh damba. 


" Cukup! Nanti kebablasan," sahut Maudy tersipu. 


" Memangnya kalau kebablasan kenapa? Bukankah kamu menikmatinya?" ucap Keano seraya menempelkan dahinya ke dahi gadisnya itu. 


"Ish, ingat janji kita?! Pantang melakukan hal - hal yang aneh sebelum halal!" desis Maudy. 


"Kalau aku ingin melakukan hal - hal yang aneh itu sekarang, gimana?" ucap Keano seraya memeluk  erat  pinggang ramping itu. 


"Ish! Jangan bercanda!" seru Maudy seraya meninju dada Keano. 


"Aku tidak bercanda!" bisik Keano di telinga Maudy. 


Sontak Maudy terkejut, karena bisikan itu membuatnya risih, geli dan membuat tubuhnya meremang. 


Namun, otak Maudy belum buntu, masih bisa berpikir jernih. 


Brukk! 


Refleks Maudy mendorong tubuh Keano, karena, tangan pria bertubuh tegap itu, menyusup ke balik pakaiannya. 


"Aw!" pekik Keano. 


"Maudy!" geram Keano. 


"Duh! Maaf, Kak, tidak sengaja!" sesal Maudy, karena telah membuat kekasihnya itu terjungkal dan kesakitan di bagian bo*kongnya. 


Maudy pun membantu Keano untuk berdiri dan memapahnya untuk duduk. 

__ADS_1


Keano meringis seraya mengelus - elus bo*kongnya. 


"Duh, maaf ya, Kak! Kakak juga sih, main raba sembarangan aja, aku tuh, terkejut," ringis Maudy. 


"Duh, ini sih, namanya KDRT!" keluh Keano. 


"Ck!" Maudy berdecak seraya merotasikan kedua bola matanya dengan malas. Lalu tergelak. Akhirnya mereka berdua pun tertawa bersama. 


"Sudah ah, ayo diminum kopinya, palingan udah dingin, setelah ini kita pulang, ya!" rengek Maudy dengan manjah. 


"Udah deh, jangan manja - manja gitu, nanti aku nggak bisa menahannya!" ketus Keano. 


"Coba, aja kalau berani! " ancam Maudy. 


Hahahah.. Akhirnya mereka berdua kembali tergelak, setelah puas tertawa bersama, mereka pun menyeruput coffee latte art buatan Maudy. 


"Maudy!" panggil Keano terdengar serius. 


Keano ingin mengatakan sesuatu. Namun ia ragu. Tiba - tiba saja lidahnya menjadi kelu. 


"Kakak, ingin mengatakan sesuatu? Katakanlah! jangan ragu gitu," ucap Maudy. 


Setelah keberaniannya  terkumpul, Keano pun mengatakannya dengan hati-hati. 


"Aku dijodohkan oleh Papaku!" lirih Keano. 


"Hah? Dijodohkan?" Maudy terkejut. Seketika raut wajahnya muram. 


"Iya!" ucap Keano pelan seraya menunduk. 


"Kakak hanya bercanda, kan? Pasti ngeprank aku, ya? cecar Maudy. 


"Aku tidak bercanda, Maudy!" sahut Keano masih tertunduk. 

__ADS_1


"Terus, Kakak bersedia?" tanya Maudy dengan suara melemah. 


"Ya, nggak lah! Aku menolaknya," jawab Keano tegas. 


"Bagaimana kalau papa kamu memaksa?" 


"Aku akan teguh menolaknya, aku akan memperjuangkan cinta kita, hubungan kita!" ucap Keano yakin. 


"Apa Kakak sudah tahu,  akan dijodohkan dengan siapa?" 


"Tidak, dan aku tidak mau tahu!" 


"Bagaimana kalau wanita itu lebih cantik dari aku? Apa Kakak akan tetap menolaknya?" selidik Maudy. 


"Ck! Kamu tidak percaya sama aku? Walaupun yang dijodohkan itu lebih cantik dari kamu, tapi bagiku kamulah yang paling cantik, aku cintanya cuma sama kamu. Kalau nurutin cantik secara lahiriyah, mungkin dari dulu aku sudah gonta - ganti pasangan. Tidak mungkin aku bisa bertahan bersama kamu sampai empat tahun, " tutur Keano panjang kali lebar. 


Sebenarnya Maudy sedikitpun tidak meragukan Keano, Maudy bisa merasakan betapa tulusnya Keano kepada dirinya, hanya saja dia takut tidak memiliki kekuatan untuk melawan papa Keano. 


Cup! Keano mengecup kening Maudy. 


" Jangan bengong!" 


Cup! Kembali mendaratkan bi*birnya di bi*bir ranum milik gadis itu. 


"Masih ragu?" tanyanya lembut. 


"Aku tidak pernah meragukanmu, aku hanya takut takdir mempermainkan cinta kita," sahut Maudy sendu. 


"Jangan khawatir, kita akan berjuang bersama - sama. Aku pasti akan memperjuangkan kamu dan cinta kita," tutur Keano yakin. 


Maudy sedikit lega mendengar perkataan Keano, dia berharap, dirinya tidak kehilangan laki - laki yang sudah mengisi seluruh ruang hatinya selama empat tahun ini. 


Maudy pun melabuhkan pelukannya kepada pemuda tampan itu, dengan senang hati Keano membalasnya. Dalam diam mereka berdua tenggelam dalam pelukan hangat. 

__ADS_1


__ADS_2