Cinta Pertama Maudy

Cinta Pertama Maudy
Ingin Mempertahankan


__ADS_3

40


Pagi itu, Maudy mencoba membuat sarapan untuk mereka berdua. Beruntung Satria cukup pintar dalam hal penyediaan kebutuhan bahan pokok, karena diajarin mamanya sejak dini. Sehingga, Maudy tidak perlu membelinya keluar. 


Beras, minyak goreng dan bumbu dapur telah tersedia. Di kulkas pun ada telur, sosis, bakso dan beberapa macam sayuran. 


Maudy mengambil beberapa butir telur, wortel dan sawi daging. 


Ia pun mulai mengolah bahan makanan itu. 


Satria mendekat pada Maudy,  yang sedang asyik di dapur. 


"Ngapain, Dy?" tanya Satria. 


"Bikin sarapan, untuk kita," sahut Maudy tanpa menoleh. Dia sedang khusyu mengocok telur. 


"Nggak pengen cari sarapan di luar?" tawar Satria. 


"Nanti malam sajalah kita makan diluar. Sekarang biar aku masak aja," sahut Maudy. 


"Kalau pagi, banyak yang jualan menu sarapan, enak - enak lho!" terang Satria. 


"Ada apa saja?" tanya Maudy


Ada nasi uduk, nasi kuning, bubur ayam, kupat sayur dan pokoknya banyak banget deh, kue bandrosnya juga paling populer  lho, di sini," Satria menyebut nama makanan yang dijual di pagi hari. 


"Ah itu sih, di Bogor juga ada. Kapan - kapan saja kita cari sarapan itu. Untuk sekarang, aku lagi pengen masak aja," ucap Maudy. 


"Ya terserah kamu saja! Aku sih, nggak mau kamu repot - repot di dapur," ucap Satria. 


"Nggak apa - apa, sudah menjadi tugas seorang istri masak untuk suaminya, ops!" tiba - tiba wajah Maudy merona. Rasanya canggung mengucapkan kata itu. 


"Ciyeee… . Yang mau jadi istri baik!" goda Satria seraya menepuk bahu Maudy pelan. 


"Haish.. Jangan menggodaku!" desis Maudy. 


Satria terkekeh. "Mau aku bantu?" tawar Satria. 


"Boleh juga! Ini! Tolong cuci sawi dan wortel ini dengan bersih, tiga kali bilas!" ucap Maudy sembari menyodorkan sayuran di baskom. 


Satria pun meraih baskom berisi sayuran tersebut lalu mencucinya. 


Tanpa mereka sadari, mereka begitu menikmati kebersamaan mereka di dapur. 


Beberapa saat kemudian, omelet telur dan tumis sawi telah terhidang dengan rapi di atas meja makan. 


"Yuk, langsung kita sikat, udah laper nih!" seru Satria seraya duduk di kursi setelah sebelumnya mencuci tangan. 

__ADS_1


Maudy pun ikut duduk di hadapan Satria. 


Mereka berdua pun dengan tenang menikmati sarapan mereka. 


Sesekali Hanya terdengar denting sendok beradu dengan piring. 


"Ternyata enak dan nikmat makan masakan istri sendiri, walaupun makanannya sederhana," Satria berseloroh. 


Maudy tersipu mendengar ucapan Satria. 


Selesai makan,  Satria mencuci piring bekas mereka makan, sedangkan Maudy mendapat tugas membereskan dapur. 


Setelah itu, mereka berdua duduk bersantai di ruang televisi. 


" Sat, entar sore anterin belanja  ke super market ya!" ucap Maudy. 


"siyaapp!" sahut Satria. 


"Ada beberapa kebutuhan rumah tangga yang harus dibeli," terang Maudy. 


"Iyaa!" Satria menyahut. 


"Oh ya, Dy. Kapan kamu mulai bekerja?" tanya Satria. 


"Hari senin," jawab Maudy. 


"Nanti merepotkan kamu," ucap Maudy. 


"Enggak lah, Dy! Kita kan satu arah, ketimbang kamu naik transportasi umum." 


"Oke lah, kalau begitu!" sahut Maudy. 


Tiba - tiba ponsel Satria berdering kencang. Ada panggilan yang masuk. 


Namun, panggilan itu Satria reject. 


Ponsel Satria kembali berdering nyaring untuk yang kedua kalinya. 


Lagi - lagi Satria menolaknya. 


"Kok, nggak diangkat?" selidik Maudy. 


"Karina yang telepon," jujur Satria. 


"Kasihan, angkat saja!" saran Maudy. 


"Dia pasti ngajak jalan, aku  bingung menghadapinya,  aku selalu merasa bersalah padanya, tapi aku juga masih belum berani untuk jujur pada dia," ucap Satria sendu. 

__ADS_1


"Sat, kamu mencintainya, kan?" tanya Maudy


Iya, aku mencintainya. Makanya, aku jadikan pacar. 


"Sebelum tahu dari orang lain dan merembet kemana - mana, lebih baik kamu ceritakan secepatnya pada dia," saran Maudy. 


"Kalau dia marah bagaimana?" ucap Satria. 


Ya, bilang aja, kalau kita menikah karena terpaksa, kamu hanya ingin menolong keluargaku agar tidak menanggung malu. 


"Kalau dia tidak terima bagaimana?" 


"Ya, kamu rayu dia, sampai dia menerima alasan kita menikah."


"Kamu bilang juga, kita menikah hanya untuk sementara." 


Satria tertegun mendengar ucapan Maudy barusan. Rasanya tidak suka Maudy berkata seperti itu. 


Meskipun ia menikahi Maudy karena terpaksa, tapi ia bukan seorang bede*bah yang akan mempermainkan sebuah pernikahan. 


"Kok, kamu bilangnya begitu? " tanya Satria dengan raut kecewa. 


"Memang betul kan, kita  menikah hanya untuk sementara? Kalau waktunya sudah tepat kita akan berpisah." 


"Dy, aku tidak suka kamu berkata seperti itu!" sentak Satria. 


"Meskipun kita menikah secara terpaksa, tapi aku menganggap pernikahan ini dengan serius. Aku tidak akan mempermainkan sebuah pernikahan. Kamu tidak lihat? Betapa bahagianya mama dengan pernikahan kita. Aku tidak akan menghancurkan kebahagiaan mama!" ucap Satria tegas berapi - api. 


"Terus aku harus bagaimana? Aku tidak ingin menghalangi hubungan kamu dan Karina. Aku hanya memberi kesempatan kepada kamu, agar kamu bisa meraih cinta kamu!" Maudy menjeda perkataannya lalu mengambil napas pendek. 


"Terus kamu maunya , aku tetap jadi istri kamu dan Karina menjadi kekasihmu, begitu?" lanjutnya emosi. 


Henning 


"Sat, aku ingin kamu bahagia, tanpa terbebani dengan pernikahan ini." Maudy bersungguh - sungguh. 


"Kamu jangan diam saja! Kamu maunya gimanaaa?" Maudy agak kesal karena Satria membisu. 


"Aku hanya ingin mempertahankan pernikahan ini," ucap Satria seraya menatap lekat wajah Maudy. 


"Tapi, beri aku waktu untuk menyelesaikan masalahku dengan Karina. Aku hanya tidak ingin Karina tersakiti," Satria bersungguh - sungguh. 


"Baik, aku akan selalu mendukung apapun itu keputusanmu .  Aku mohon, jangan ditunda - tunda, jangan bertele - tele nanti pembaca nggak suka :-D. Segera selesaikan!" tutur Maudy  tegas. 


"Iya! Iya! Aku janji," ucap Satria. 


Pembicaraan pun berhenti sampai di situ. Baik Maudy ataupun Satria sama - sama tenggelam dalam lamunan mereka masing - masing. 

__ADS_1


__ADS_2