
48
Sedangkan Karina, setelah memastikan orang suruhannya melakukan pekerjaannya dengan benar. Ia meninggalkan tempat itu,. Menuju ke tempat Satria bekerja.
Dengan telaten ia menunggu Satria di depan kantornya. Sesaat kemudian Karina menghampiri security yang sedang duduk di pos jaga.
"Pak, saya sedang menunggu Satria, kapan ya, dia selesai?" Karina bertanya seolah - olah dia sedang janjian dengan Satria.
"Mas Satria ya?" berpikir sejenak. "Untuk tepatnya saya kurang tahu, Mbak! Tapi biasanya jam sembilan udah selesai," lanjut Security itu.
"Boleh saya menunggu di sini?" tanya Karina. Kalau menunggu di luar Dia takut tidak bisa bertemu dengan Satria.
"Silahkan, Mbak!" ucap Security itu dengan sopan.
Tepat pukul sembilan, nampak segerombolan karyawan keluar dari kantor.
Senyum Karina mengembang di kala orang yang ditunggu berada di antaranya.
"Satria!" panggil Karina.
Sontak Satria terkejut melihat kehadiran Karina di sana.
"Karin?" Satria mendekat
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Satria.
"Nunggu kamu!" ucap Karina dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Duh, Karin ngapain sih, nunggu aku segala!" batin Satria.
__ADS_1
Ia pun mengajak Karina menjauh dari pos security.
"Kamu ngapain nunggu, aku?" tanya Satria dengan suara agak pelan.
"Aku, hanya ingin bertemu dengan kamu. Ada yang ingin aku tanyain sama kamu," sahut Karina santai.
"Ya udah, apa yang ingin kamu tanyain? Aku harus segera pulang, Maudy menungguku."
"Tidak di sini! Sebentar aja, kita ke kafe di depan sana!" ucap Karina seraya menunjuk ke sebuah kafe di seberang kantor Satria.
Tidak ingin, berdebat panjang lebar dengan Karina, akhirnya Satria menyetujuinya.
Sesampai di kafe Karina memesan dua cangkir coklat hangat untuk dirinya dan Satria.
"Aku tidak punya banyak waktu, cepatlah katakan!" Satria tidak sabaran karena Karina sepertinya mengulur waktu. Bisa - bisanya dia memesan dua porsi bakmie goreng.
"Sabarlah, Sat! Aku lapar!" sahut Karina enteng.
"Udah pas manisnya, nih, minum dulu! Ini kan minuman kesukaan kamu," ucap Karina seraya menyodorkan coklat tersebut kehadapan Satria.
Satria hanya diam tidak menggubrisnya, hanya sesekali dia melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Kok, nggak dijawab? Kamu baik - baik saja kan, selama ini?"
"Baik! Sangat baik! " sahut Satria tanpa ekspresi.
"Syukurlah!" ucap Karina.
"Kamu bahagia bersama Maudy?"
__ADS_1
"Bahagia!" sahut Satria.
"Sat, selama ini, tidakkah sedikitpun kamu memikirkanku?" tanya Karina dengan sendu.
"Maaf Karin, sepertinya tidak ada hal yang penting. Aku pulang saja!" ucap Satria seraya berdiri.
"Sat, please! Sebentar saja!" Karina mencekal tangan Satria dengan tatapan memohon.
Satria duduk kembali.
"Please Karina, ini hanya buang - buang waktu. Aku harus segera pulang, Maudy menungguku!" tegas Satria.
"Iya, aku tahu! Tapi tolong jawab dulu pertanyaanku! Apakah aku sudah tidak ada di dalam hatimu lagi? Secepat itu kamu melupakan aku?" tanya Karina dengan tenang.
Satria menghela napas panjang. Ditatapnya gadis di hadapannya itu. Memang betul dulu Satria pernah menyayangi dan menyukai Karina. Dia juga pernah merajut mimpi indah tentang pernikahan bersama Karina. Tapi entah mengapa, kehadiran Maudy begitu mudahnya menggeser Karina di hatinya.
Apa mungkin Dirinya hanya sebatas suka dan sayang saja terhadap Karina?
"Maaf Karina, jika jawaban yang akan aku berikan mungkin menyakitkan, tapi kenyataannya, kamu sudah tidak ada di dalam hatiku lagi. Jadi, tolong lupakan aku dan jangan mencariku lagi!" ucap Satria dengan tegas.
Deg!
Ah,memang menyakitkan jawaban yang Satria berikan. Terus apa artinya selama ini? Menjalin kasih selama setahun. Tanpa cinta kah?
Kalau di pikir - pikir lagi, selama berpacaran, Satria tidak pernah melakukan hal - hal yang intimm, hanya sebatas pegang tangan, ciumm pipi dan kening saja. Satria selalu menghindar kalau Karina minta di ciumm di bibir.
Karina menghela napas berat. " Setidak - tidaknya, kita bisa berteman baik kan?" lirih Karina putus asa. Sepertinya tidak ada harapan lagi untuk bersama Satria.
"Baiklah, kita bisa berteman baik, sekarang, aku harus segera pulang!" sahut Satria seraya berdiri dan berlalu dari hadapan Karina, tanpa menoleh lagi Satria keluar dari kafe itu.
__ADS_1
Karina membiarkan Satria pergi begitu saja. Karina pikir kalau dirinya memaksa Satria, yang ada Satria malah menjauh darinya.
Pelan - pelan ia akan mendekati Satria. Ia harus bisa mengambil hati Satria kembali.