Cinta Pertama Maudy

Cinta Pertama Maudy
Bab 8


__ADS_3

Bab 8


Semenjak kejadian itu, Satria terlihat murung dan menutup diri, ia selalu menghindar jika diajak kumpul - kumpul. 


Robby dan Maudy sudah berusaha menghibur Satria. Namun, Satria hanya ingin sendirian untuk saat ini. 


Sedangkan Keano, ia bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa - apa, ia tidak terlalu memikirkan kejadian kemarin, ia anggap semua hanyalah angin lalu. Hidup harus tetap berjalan apapun yang terjadi, mungkin itu yang menjadi filosofinya Keano. 


Anastasia merasa bersalah kepada Satria, dia selalu berusaha mendekati Satria kembali, ia berharap Satria mengampuninya. Namun, sayang satria bergeming , Satria terlanjur sakit hatinya.


******


Malam itu seperti biasa, selesai mengerjakan tugas sekolah Maudy duduk bersantai di ruang televisi. 


"Assalamualaikum! "


Ceklek! 


Terdengar seseorang mengucap salam dan membuka pintu, lalu orang itu tanpa sungkan langsung nyelonong ke ruang televisi. Karena memang rumah Maudy tidak terlalu besar, jarak antara ruang tamu dan ruang televisi hanya terhalang lemari besar saja. 


"Dy, kok sepi?" tanya orang itu seraya duduk di samping Maudy. 


"Eh, iya, orang tuaku dan Kakak lagi ke rumah Uwak," jawab Maudy tanpa menoleh pada orang itu. 


"Kamu nggak ikut?" tanya orang itu kembali. 


"Kamu kan tahu, tugas kita akhir-akhir ini banyak, ini saja baru selesai," sahut Maudy. 


Tiba - tiba orang itu merebahkan kepalanya di bahu Maudy. 

__ADS_1


Maudy hanya diam saja, begitulah dia, orang di sampingnya ini jika sedang galau pasti mencari Maudy untuk berkeluh kesah. Ya, dialah Satria. 


"Ternyata dibohongi itu  sakit banget Dy, " lirihnya. 


"Kamu masih cinta dia Sat?" tanya Maudy. 


"Entahlah, aku tidak bisa merasakannya lagi yang ada hanya rasa benci dan kecewa," ucap Satria. 


"Ya, udah kamu maunya sekarang apa?" tanya Maudy. 


"Aku tidak mau apa - apa," sahut Satria. 


Maudy menghela napas panjang. 


"Kalau kamu masih cinta dia, maka, maafkanlah dia dan balikan lagi sama dia," Maudy memberi saran. 


"Ogah!" sergah satria.


"Aku ingin melupakan semuanya, aku tidak ingin berhubungan  dengan dia lagi." 


"Ya udah, gak apa - apa gitu aja, yang penting kamu tetap hepi jangan murung terus," ucap Maudy. 


"Kamu pasti senang dan ngetawain aku ya Dy?" 


"Ya ampun, jahad banget si, kamu, berprasangka buruk sama aku," hardik Maudy yang tidak terima dituduh seperti itu. Lalu ia mendorong kepala satria. Namun Satria bergeming, kembali merebahkan kepalanya di bahu Maudy. 


"Ya ampun Dy, gitu aja marah, aku kan hanya bercanda," jangan dimasukan ke dalam hati.


"Sensitif tahu! Secara aku pernah ditolak cinta sama kamu, jadi wajar kamu menuduhku seperti itu," Maudy bersungut - sungut. 

__ADS_1


"Maafkan aku ya, Dy, kamu pasti sakit hati banget waktu aku tolak tempo itu,"


"Udahlah lupakan saja, nggak usah diingat - ingat lagi, malu tahu! " hardik Maudy . 


Satria hanya terkekeh mendengar ocehan Maudy. 


"Apakah sekarang kamu masih suka sama aku?" goda Satria. 


"Ish! Pertanyaan macam apa itu?" Maudy tersipu. 


"Jawab aja!" sergah Satria serius. 


"Nggak! Kamu pernah menolakku mana mungkin aku masih menyimpan rasa itu!" sahut Maudy dengan tegas. Namun, hatinya mengatakan tidak yakin. 


"Syukurlah!" ucap Satria lega, tapi dalam hatinya ada sedikit rasa kecewa. Entahlah!. 


"Cinta itu bikin rumit saja, lebih baik kita berteman, karena kalau berteman tidak mungkin ada kata putus kan?" Satria berseloroh. 


Maudy hanya tersenyum tipis. Lalu ia menyingkirkan kepala Satria dari bahunya. 


"Laper nggak?" tanya Maudy. 


"Hmmm.. Kayaknya iya!" Satria tersenyum lebar. 


"Aku bikinin mie rebus, mau?" tanya Maudy. 


"Mau dong!" jawab Satria. 


Lalu mereka beranjak ke dapur untuk membuat Mie instan rebus, yang biasanya jika Maudy buat ditambahin, telur, sosis, dan sawi. 

__ADS_1


"Ternyata bersama Maudy selalu membuatku nyaman seperti biasanya," gumam Satria dalam hati seraya menyungingkan senyum tanpa diketahui Maudy. 


__ADS_2