
Ehem!
Sontak Keano dan Maudy terkejut dengan deheman itu, Segera Keano menarik wajahnya.
Suasana canggung dan malu dirasakan oleh pasangan kekasih itu.
"Om! sapa Keano kepada papanya Maudy dengan sopan dan salah tingkah menahan rasa malu.
" Baru datang? " tegur papa dengan wajah datar seolah - olah tidak terjadi apa - apa.
" Iya, Om! " sahut Keano.
" Tumben? Biasanya hari sabtu? " selidik papa seraya duduk di depan pasangan itu, dengan meja sebagai penghalang di antara mereka.
"Mmh, iya Om, ada yang ingin saya sampaikan," sahut Keano.
"Apa itu?" tanya papa.
"Besok pagi saya ingin mengajak Maudy ketemu orang tua saya," tutur Keano.
Papa mengernyitkan dahi seraya memandang Keano dengan heran.
"Mama saya hanya ingin mengenal Maudy saja, tidak ada hal yang penting, Om." keano memberi penjelasan kepada papa Maudy.
Papa manggut - manggut, tanda sudah mengerti.
"Boleh, Om?" tanya Keano sesopan mungkin.
"Boleh, tapi pulangnya jangan larut - larut!" tiba - tiba mama datang menjawab pertanyaan Keano sembari meletakan minuman dan beberapa camilan di meja.
Kalau mama sudah memberi izin tentunya papa juga, karena apapun yang dikatakan mama biasanya sama dengan papa.
__ADS_1
"Terima kasih, Tante, tadinya saya ingin mengajak Maudy menginap di rumah orang tua saya."
"Tidak boleh! Mama dan papa serentak menjawab berbarengan. Apa kata dunia jika anak gadisnya menginap di rumah seorang laki - laki.
Keano mengangguk." Baik Tante! "
Hening
Suasana kembali hening, Keano salah tingkah karena papa dan mama berada di antara dirinya dan Maudy, padahal ia ingin berduaan dengan gadis itu. Sedangkan Maudy dia biasa saja, ia sibuk dengan ponselnya.
Mama yang pintar membaca situasi, segera beranjak dan meraih tangan papa untuk pergi dari sana.
Namun papa hanya diam saja, beliau tidak mengerti maksud mama.
"Pa, ayo!" seru mama.
"Kemana?" tanya papa bingung.
"Ngapain?"
"Ish, udah pokoknya ikut Mama," ucap mama agak kesal karena papa tidak mengerti dengan kode yang mama berikan. Akhirnya mama menarik tangan papa dengan paksa dan pergi dari tempat itu.
Keano bisa bernapas lega setelah kepergian orang tua Maudy.
Ia pun menoleh pada Maudy, Ish, ternyata gadisnya itu sedang sibuk dengan ponselnya.
Ia pun mengambil telepon genggam Maudy dan menaruhnya di meja.
"Lihat aku, jangan lihat hape terus!" kesal Keano.
"Eh, iya Kak, maaf!" sahut Maudy cengengesan.
__ADS_1
"Besok kita akan ketemu mama, mama ingin kenal sama kamu," ujar Keano.
"Iya, aku tadi sudah dengar!" sahut Maudy.
"Aku sudah bilang sama mama, kalau aku ingin menikah secepatnya dengan kamu," tutur Keano.
Uhuk!
Maudy yang sedang meminum syrup dinginnya seketika tersedak mendengar perkataan Keano.
"Minumnya pelan - pelan aja!" ucap Keano seraya menepuk - nepuk punggung Maudy dengan lembut. Ia mengambil tisu lalu membantu Maudy mengelap mulut Maudy yang basah.
"Terima kasih!" ucap Maudy sembari mengeringkan baju yang terkena muncratan syrup dengan tisu. Untung saja hanya sedikit yang muncrat sehingga ia tidak harus ganti baju.
"Kakak sih, bikin aku terkejut!" keluh Maudy.
"Apanya yang bikin kamu terkejut?" ucap Keano seraya terkekeh.
"Itu, yang mau mengajak aku menikah secepatnya," sahut Maudy tersipu.
"Aku serius, ingin mengajak kamu menikah secepatnya!" tegas Keano.
"Hah? Beneran itu?" Maudy tidak percaya.
"Beneran lah, emang aku terlihat seperti bercanda? " jawab Keano serius.
Maudy terdiam, ia bingung, harus senang atau bagaimana mendengarnya.
"Kamu mau kan? Menikah denganku secepatnya?" tanya Keano dengan tatapan penuh harap.
Kira - kira Maudy menjawab apa ya??
__ADS_1