
39
Dua mangkok mie rebus instan dengan tambahan sayur sawi, telur, sosis dan bakso telah tersaji diatas meja makan.
Dengan lahap Maudy mengeksekusi Mie buatan Satria itu. Jujur Maudy sangat lapar. Padahal mie itu sangat panas. Sesekali ia meniup - niup mie tersebut.
"Dy, enak nggak?" tanya Satria sembari memasukan mie yang masih berasap itu ke dalam mulutnya. Sesekali ia meniupnya.
"Enak!" sahut Maudy dengan mulut penuh mie.
"Jadi inget dulu, kita bertiga sefrekuensi, paling suka makan mie rebus. Kita selalu bergantian masak mienya," kenang Satria seraya melahap mie itu kembali.
"Tapi yang paling enak itu menurutku buatan kamu," imbuhnya.
"Ah, masa sih? Menurutku, mie instan itu rasanya sama aja. Bagiku, buatan kamu dan Kak Robby juga enak," tutur Maudy.
"Tapi aku paling suka, yang buat mie itu adalah kamu," ucap Satria.
"Mungkin, aku bikinnya pakai perasaan," ucap Maudy asal ceplos.
"Ah, iya!, dulu kan kamu cinta mati sama aku," cibir Satria.
"Itu kan dulu jamannya ABG!" sergah Maudy.
"Emang, sekarang rasa itu sudah tidak ada?" goda Satria.
"Kayaknya sih, sudah hilang, semenjak aku kenal--" Ucapannya terhenti di tenggorokan. Dia enggan mengucap dan mengingat nama itu.
Wajah Maudy berubah muram, selera makannya tiba - tiba menghilang, tapi beruntung mie dalam mangkoknya sudah kandas sejak tadi. Nggak masalah jika kini dia kehilangan selera.
Satria mengerti jika Maudy tidak ingin menyebut nama Keano. Jadi dia memilih untuk diam.
"Udah kenyang!" seru Maudy memecah keheningan.
"Besok aja cuci - cucinya, sekarang waktunya tidur!" seru Maudy.
"Ya sudah, ayo kita tidur!" sahut Satria.
"Jangan lupa gosok gigi dulu sebelum tidur!" Maudy mengingatkan.
__ADS_1
"Beres!" sahut Satria.
Mereka berdua pun beranjak dari meja makan menuju kamar tidur.
Langkah Satria terhenti di depan pintu kamar.
Menatap Maudy yang akan masuk ke kamar di sebelahnya.
"Dy!" panggil Satria.
"Iya," Maudy menghentikan langkahnya lalu menoleh.
"Kamu tidur di situ?" tanya Satria.
"Iya, kenapa?"
"Kita kan, sudah menjadi suami istri, masa tidurnya terpisah?" Satria setengah menggoda.
"Emangnya, kamu mau kita tidur bersama?" tanya Maudy.
"Terserah kamu, sih!" sahut Satria seraya mengangkat bahunya.
"Kita tidur sendiri - sendiri aja dulu, aku masih belum terbiasa," ucap Maudy.
***
Adzan subuh berkumandang merdu. Membangunkan setiap insan untuk menunaikan sholat.
Tak terkecuali Satria dan Maudy. Mereka pun terbangun untuk menunaikan sholat subuh. Semenjak kecil Satria dan Maudy dididik dengan baik dalam hal agama oleh kedua orang tua mereka.
Satria mengetuk pintu kamar Maudy.
Tok!
Tok!
Tok!
"Dy, sudah bangun? Ayo kita sholat subuh berjamaah," seru Satria agak kencang.
__ADS_1
"Iya sebentar!" seru Maudy.
Ceklek!
Maudy menyembulkan kepalanya. " Sholat berjamaah di mana?" tanya Maudy.
"Di mushola!" jawab Satria seraya menunjuk ke arah kamar paling ujung dengan telunjuknya.
"Oh, itu mushola?" tanya Maudy.
"Iya, yuk!" Satria mengajak Maudy menuju tempat itu.
Ruangan berukuran 4 x 4 meter itu, sengaja dijadikan mushola oleh Satria. Rumah kontrakan yang dipilih Satria atas rekomendasi Kak Galih itu, memiliki empat kamar dengan kamar mandi di dalamnya.
Suami istri itu dengan khusyuk menunaikan sholat subuh berjamaah.
Selesai sholat mereka berdua berdoa dan berzikir.
Selesai berzikir, Satria membalikkan tubuhnya lalu menyerahkan tanganya ke hadapan Maudy.
Maudy mengernyitkan dahi. "Apa?" tanya Maudy bingung.
Ck! Satria berdecak.
"Masa nggak tahu? kalau habis sholat itu, istri harus menciumm tangan suami," terang Satria.
"Hah? Harus ya?" Maudy terkekeh. Geli aja kalau harus menciumm tangan Satria.
"Ya udah, kalau nggak mau!" rajuk Satria. Lalu menarik tangannya.
"Eh, ya udah sini aku ciumm!" seru Maudy seraya menarik paksa tangan Satria.
Cupp!
"Nah, udah!" Maudy mennciumm tangan Satria dengan cepat.
"Kurang takzim, ituu!" cibir Satria.
"Ish!" desis Maudy seraya merotasikan bola matanya.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua pun terkekeh. Entah untuk apa mereka terkekeh?
Namun, yang pasti, ada perasaan bahagia dan nikmat setelah menunaikan sholat subuh berjamaah.