Cinta Pertama Maudy

Cinta Pertama Maudy
Malam Terakhir


__ADS_3

60


Di dalam mobil pasutri itu sama - sama bungkam. Satria fokus mengemudi dengan wajah masam. 


"Kok, diam saja?" tanya Maudy. Ia merasa heran dengan suaminya itu. Biasanya ada saja yang diceritain. 


"Aku nggak suka kamu deket - deket sama laki - laki tadi! ' tegas Satria dingin. 


Aku nggak pernah  deket - deket sama dia. Dianya aja yang suka sok akrab. Tapi ya gimana lagi, dia kan teman kerjaku, tentunya bakalan ketemu dan ngobrol," jelas Maudy. 


"Ya, kamu hindari dia dong, jangan biarin dia deketin kamu!" rajuk Satria. 


"Lha, aku harus hindarin kemana? Aku kan lagi nungguin kamu di situ," sanggah Maudy. 


"Iya juga ya," ucap Satria. Nunggu di halte juga ia larang. Satria trauma istrinya baku hantam lagi sama pencopet. 


"Ya, udah deh, terserah kamu, yang penting jangan deket - deket sama cowok manapun, aku tidak suka!" tegas Satria. 


"Iya.. Iya.. Duh, suamiku sayang ini gemesin!" ucap Maudy seraya mencubit pipi Satria dengan gemas. 


Satria menangkap tangan itu. Mengelus - eluskan tangan lembut itu di pipinya. Ia menyetir menggunakan satu tangan. 


"Aku besok ke Semarang selama seminggu," ucapnya. 


Maudy menoleh. "Urusan pekerjaan?" tanyanya. 


"Hu'um," sahut Satria sambil mengangguk. 


"Seminggu ya?" tanya Maudy. 


"Iya!" sahut Satria seraya melepaskan tangan Maudy. Dan fokus menyetir kembali dengan kedua tangannya. 


"Pasti kangen!" seru Maudy. 


"Pasti!" sahut Satria. 


Lalu keduanya terkekeh. Selama menikah, pasangan itu tidak pernah berjauhan. Mungkin, selama seminggu ini mereka akan saling merindukan. 


"Jalan - jalan dulu ya? sebentar aja, kita makan di luar," ucap Satria. 

__ADS_1


Maudy mengangguk. Tidak ada salahnya mereka berkencan, sebelum Satria pergi ke semarang. 


******


Sudah enam hari Satria berada di Semarang. Ia disibukkan dengan pekerjaannya selama itu. 


Malam ini adalah malam terakhir  di Semarang. Besok dirinya akan kembali ke Bandung. 


Di hotel. 


Bukk! 


Satria melempar tubuh lelahnya ke kasur yang empuk milik hotel itu. 


Aahh! 


"Lelah sekali!" pekiknya. 


Mungkin karena hari adalah hari terakhir, jadi, pekerjaan sangat banyak dan harus segera selesai hari itu juga. 


Dengan kepiawaian dan kecerdasan yang dimiliki Satria, pekerjaan bisa selesai tepat waktu. Maka dari itu, Zelda lebih suka mengajak Satria ketimbang yang lainnya, karena Satria lebih bisa diandalkan. 


Hampir setiap hari, Satria selalu memberi kabar kepada istrinya di Bandung. Terkadang  video call-an, hanya sekedar untuk melepas rindu terhadap sang istri tercinta. 


Tok! 


Tok! 


Tok! 


Seseorang mengetuk pintu kamarnya. 


Satria pun bangkit dari tempat tidur dan bergegas membuka pintu. 


Ceklek! 


"Pak Satria!" panggil orang itu. 


"Iya, Bu Zelda?" sahut Satria. 

__ADS_1


"Besok kita kan udah balik. Bagaimana kalau malam ini kita keliling kota semarang? Barangkali Pak Satria mau mencari oleh - oleh untuk istrinya?" tutur Zelda. 


Satria berpikir sejenak. Ia pikir tidak ada salahnya ia pergi dengan bosnya itu hanya sekedar untuk mencari oleh - oleh untuk Maudy. 


" Baik, Bu!  boleh saya bersiap - siap dulu? tanya Satria. 


"Ok, saya tunggu di bawah, ya!" ujar Zelda. 


"Baik, Bu!" sahut Satria. 


****


Malam itu mereka berkeliling kota semarang berburu oleh - oleh. Satria yang mengemudikan mobilnya. 


Cukup banyak oleh - oleh yang mereka beli. 


"Pak Satria, tolong mampir ke restoran itu. Kata teman saya yang orang sini, makanannya enak - enak di situ," terang Zelda seraya menunjuk ke sebuah restoran mewah. 


Sedikit ragu, Satria pun menuruti perintah bosnya itu untuk mampir ke restoran. 


Setelah memarkir mobil, mereka berdua pun turun dari mobil dan masuk ke restoran itu. 


Zelda menarik tangan Satria dan mengajaknya duduk di kursi dekat jendela. 


Sebenarnya Satria risih tangannya dipegang oleh Zelda, tapi untungnya hanya sebentar. 


Tak berapa lama datang pelayan membawa daftar menu dan menyerahkannya kepada mereka berdua. 


Zelda pun memesan makanan yang menjadi andalan restoran itu. Sedangkan Satria, ia hanya memesan makanan yang kiranya bisa mengganjal perutnya malam ini.


Tak berapa lama pesanan pun datang. 


Makanan yang menggugah selera dan mewah itu telah terhidang  di meja. 


"Kamu nggak cuci tangan dulu?" tanya Zelda kepada Satria. 


"Oh iya, saya permisi," sahut Satria kikuk. Satria pun beranjak menuju wastafel dan mencuci tangannya di sana. 


Saat Satria sedang mencuci tangannya. Zelda memasukan sesuatu kedalam minuman Satria, lalu ia mengaduknya dengan cepat seraya tersenyum jahat. 

__ADS_1


 


__ADS_2