
61
Selesai mencuci tangan, satria kembali duduk dan mulai menikmati hidangannya.
Sesekali Zelda mencuri pandang terhadap Satria. Ia harus memastikan jika minuman yang telah ia campur sesuatu itu diminum Satria.
Ia menyeringai puas saat mengetahui Satria telah menghabiskan minuman itu.
Beberapa saat kemudian, terlihat Satria memijat pelipisnya. "Kok tiba - tiba pusing ya?" batinnya.
"Kamu kenapa, Sat?" tanya Zelda pura - pura perhatian. Padahal dalam hatinya ia bersorak, karena sepertinya, ramuan yang ia campur ke dalam minumannya Satria mulai menampakan hasil.
"Tidak apa - apa, Bu, hanya sedikit pusing," sahut Satria dengan tangan masih memijat - mijat pelipisnya.
"Kalau kamu kurang sehat, ayo kita pulang saja," ajak Zelda.
"Baik, Bu!" sahut Satria.
Satria
Tiba - tiba kepalaku pusing dan agak mual. Aku bertanya - tanya dalam hati apakah aku masuk angin?
Tiba - tiba saja jantungku berdetak kencang, pandanganku agak kabur. Ada sesuatu yang bergejolak dalam tubuhku. Seperti saat ingin menyentuh Istriku. Ah iya, sepertinya aku membutuhkan dia saat ini.
Sepertinya ada yang salah dengan tubuhku, tapi aku tidak tahu penyebabnya. Apa aku salah makan?
Aku tidak bisa menolak saat Bu Zelda memapahku keluar dari restoran.
__ADS_1
Ia membawaku kembali ke hotel. Aku tidak sanggup berjalan dengan tegap. Tubuhku sedikit bergetar dan menggigil.
Bu Zelda membantuku masuk ke kamar hotel. Ia membantuku untuk berbaring di kasur. Ia juga membantuku membukakan sepatu.
"Pak Satria , kamu baik - baik saja?" tanyanya.
"Sepertinya saya masuk angin, Bu. Badan saya juga terasa panas," ucapku.
"Saya bantu buka kemejamu, ya?" tanyanya lagi seraya meraih kancing kemejaku.
"Tidak perlu, Bu. Silahkan, Ibu kembali ke kamar Ibu," ucapku dengan mulut bergetar. Lalu aku menyingkirkan tangannya.
"Tidak apa - apa, aku bantu!" ucapnya terdengar lembut.
Tubuhku semakin tidak nyaman, napasku memburu tidak karuan. Aku diam saja saat Bu Zelda membuka kancing kemejaku.
Aku berusaha menepisnya. Aku tidak menyukainya, karena ini salah. Tapi tubuhku semakin bergejolak saat bosku itu menyentuh dadaku.
Pandanganku sedikit kabur, kadang aku melihat Bu Zelda seperti Maudy yang tengah tersenyum menggodaku. Aku pun menyentuh wajahnya.
Tapi sekuat tenaga aku mengembalikan kesadarannya. "Bukan! Dia bukan Istriku!" teriakku dalam hati seraya menggelengkan kepala.
Tiba - tiba Zelda sudah berada di atas tubuhku. Ia sudah berhasil melepas pakaianku. Kini, aku dan dia polos tanpa sehelai benangpun.
Ia mulai menelusuri bagian - bagian sensitifku. Aku tidak bisa menolaknya. Aku memejamkan mata. Gejolak itu semakin menguat. Aku benar - benar tidak menyukai situasi ini. Aku harus bisa melawan keinginan gila tubuhku ini.
Sekuat tenaga aku mengumpulkan kesadaranku kembali. Aku beristighfar dalam hatiku.
__ADS_1
Aku mendorong tubuh wanita itu agak kasar, sehingga ia terjungkal ke samping.
Lalu aku berlari ke kamar mandi dan mengunci diriku di sana.
"Alhamdulillah, akhirnya aku berhasil melepaskan diri dari jerat setan! Hampir saja melakukan perbuatan dosa," batinku.
Lalu aku mengguyur tubuhku dengan air shower. Aku harus mendinginkan tubuh ini.
Masih bisa aku dengar jika wanita ja*lang yang hampir menghancurkan hidup dunia akhiratku itu menggedor - gedor pintu kamar mandi.
"Sat! Satria! Buka pintunya! Kamu tidak bisa mengabaikanku begitu saja!" teriak Zelda seraya menggedor - gedor pintu kamar mandi.
Satria bergeming ia tidak mempedulikan teriakan bosnya itu.
Lelah berteriak - teriak, akhirnya Zelda menyerah.
'Si*alan! dasar Brengsekkk! dikasih enak nggak mau. Awas saja nanti!" umpat Zelda dalam hati sambil menendang pintu kamar mandi yang tidak bersalah.
Setelah berpakaian lengkap dan sedikit merapikan diri, Zelda Pun keluar dari kamar Satria dengan perasan jengkel.
Ia tidak mengerti, dirinya yang begitu cantik dan seksih tidak berhasil menggoda seorang Satria. Padahal kebanyakan pria selalu bertekuk lutut di hadapannya.
Satria
Maudy
__ADS_1