Cinta Pertama Maudy

Cinta Pertama Maudy
Bab 18


__ADS_3

Bab 18


Tuk!


 Keano menyentil bibir mungil itu. 


"Aw, sakit!" Maudy memekik seraya menyentuh bibirnya. 


"Fpht…. Hahahaha," Keano tidak bisa menahan tawa. 


Maudy memberengut kesal, karena merasa dipermainkan. 


"Ngapain bibirnya dimonyongin gitu, terus itu matanya kenapa ditutup segala," cibir Keano seraya terkekeh. 


Maudy tidak menjawab ia hanya cemberut sembari menyesap jus avocadonya sampai tandas. 


"Ngarep dicium ya?" goda Keano. 


"Lha, Kakak ngapain deketin wajahnya ke wajahku , kalau bukan mau mencium, emang mau ngapain lagi?" sungut Maudy dengan wajah sudah semerah buah cherry. 


Keano tersenyum lebar. "Duh, kamu gemesin kalau lagi kesal," ujar Keano sembari mencubit kedua pipi mulus Maudy. 


"Maaf ya, sudah bikin kamu kecewa, tadinya sih, iya, aku mau ci*um bi*bir kamu, tapi aku teringat pesannya mama kamu," terang Keano seraya mengelus lembut pipi mulus Maudy. 


"Pesan mama?" heran Maudy. 


Keano mengangguk. Lalu menceritakan obrolan dirinya dengan mama. 


"Flashback on" 


Di ruang tamu. 


"Tante, saya minta ijin mau mengajak Maudy jalan - jalan malam ini, boleh?" tanya Keano sesopan mungkin. 


"Silahkan saja, Nak!" sahut mama. 


"Terima kasih, Tante!" ujar Keano girang. 


"Tapi ingat, pulangnya jangan malam - malam , sebelum pukul sepuluh sudah harus ada di rumah!" papa menimpali dengan tegas. 


"Baik, Om!" sahut Keano. 


"Apa kalian pacaran?" tanya mama. 


"Emang boleh tante?" Keano balik bertanya. 


"Tante sih, tidak melarang. Namun, kalian harus tahu batasan. Kalian masih sekolah apa lagi Maudy, sebentar lagi ujian akhir, harus belajar sungguh - sungguh agar bisa masuk universitas negeri. Jangan melakukan hal yang aneh - aneh. Harus bisa jaga diri," ucap mama bijak. 

__ADS_1


"Baik, Tante. Saya akan selalu ingat pesan Tante." 


"Flashback off" 


"Nah, gitu ceritanya, kita tidak boleh melakukan hal yang aneh - aneh,"


"Emang ciuman itu hal yang aneh?" polos Maudy. 


"Yah, mungkin menurut mama kamu  itu termasuk hal yang aneh," sahut Keano. 


"Sebenarnya, itu hal yang biasa dilakukan anak muda di jaman sekarang, tapi aku tidak mau melakukannya dulu dengan kamu, karena aku takut tidak bisa mengendalikan diri dan kebablasan. Seperti waktu bersama Anastasia aku hampir saja kebablasan melakukan hubungan terlarang. Untung saja mamaku datang tepat waktu, mengetuk pintu waktu itu, " gumam Keano dalam hati. 


" Kak!  Kak Ken? Kok malah bengong? " Maudy membuyarkan lamunan Keano. 


" Eh, iya maaf! " Keano terperanjat. 


" Kok, melamun?" tanya Maudy. 


" Ah, enggak! " Keano bekilah. 


"Apa sekarang kita langsung pulang?" tanya Maudy. 


"Ah, iya, papa kamu bilang, sebelum pukul sepuluh, sudah harus ada di rumah, " ucap Keano. 


"Sekarang masih jam sembilan," sahut Maudy. 


"Duduk di taman? Jadi, kamu masih ingin berduaan ya sama aku?" goda Keano. 


"Ish! Iya…Iya deh!" sungut Maudy. 


Keano tersenyum lebar, lalu meraih tangan Maudy, mengajaknya beranjak dari tempat itu, tangan mereka saling menaut, sampai mereka meninggalkan tempat itu. Tidak peduli beberapa pasang mata memandang iri kepada pasangan manis yang baru jadian ini. 


Setelah meninggalkan kafe tersebut, mereka mampir ke taman yang ada di sekitar komplek perumahan kediaman mereka. 


Meskipun malam, taman itu cukup dalam penerangan, lampu taman menyala cukup banyak di setiap sudut taman. 


Maudy dan Keano duduk di sebuah ayunan yang  di sekitarnya banyak ditumbuhi pohon cemara dan mangga.


Tangan mereka dari semenjak masuk taman belum terlepas sama sekali, seolah - oalah enggan berpisah. Maklumlah namanya juga lagi bucin - bucinnya. 


"Oh, iya hampir lupa, ada sesuatu untuk kamu," ucap Keano memecah keheningan seraya melepas genggaman tangganya. 


Ia mengeluarkan sebuah kotak ungu beludru dari saku celananya. Lalu ia membuka kotak tersebut dan mengeluarkan sebuah kalung emas putih  cantik dengan bandul hati. 


" Kalung Ini buat kamu," ucapnya seraya menyerahkan kalung cantik itu pada Maudy. 


"Wah, cantik banget, pasti mahal?! Seru Maudy dengan mata berkilau. 

__ADS_1


"Tidak mahal, nanti kalau aku udah bisa nyari uang sendiri aku belikan yang mahal bahkan sama tokonya sekalian," ujar Keano serius. 


Maudy sangat tersanjung, hatinya berbunga mendengar perkataan Keano. 


"Oh, iya, di dalam bandul hati ini, aku simpan foto kita berdua," ucap Keano seraya membuka bandul hati itu lalu diperlihatkannya pada Maudy. 


Maudy terharu melihat foto yang menampakan wajah dirinya dan Keano yang sedang tersenyum bahagia  di pasang di bandul hati itu. 


" Kamu suka dengan kalung ini? " tanya Keano. 


Maudy mengangguk. "Suka banget! Makasih, ya Kak!" 


Keano mengangguk dan menyunggingkan sebuah senyuman. Senyuman yang bikin Maudy klepek - klepek. 


"Sini aku pasangin!" ucapnya seraya meraih kalung dari tangan Maudy lalu menyuruh Maudy membelakanginya. 


Dengan khidmat ia memasangkan kalung itu di leher Maudy. 


Glek! 


Keano menelan air liurnya saat melihat leher putih mulus milik Maudy. 


"Cup! Ia mengecup leher seputih susu itu. 


" Kak!"


Maudy agak terkejut dan merinding dibuatnya. 


Maudy pun bergeser sedikit karena terkejut." Sudah selesai, Kak? " tanyanya dengan gugup, sungguh seperti tersengat aliran listrik saat Keano mengecup tengkuknya. 


" Maaf, sudah! " ucap Keano canggung. 


Lagi - lagi mata mereka bertabrakan, sama - sama saling mengagumi. Yang satu cantik dan yang satunya tampan. 


Sekali lagi Keano tidak bisa menahan diri saat melihat bibir mungil berwarna pink milik Maudy. 


Ia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Maudy, ia sudah tidak peduli lagi dengan janjinya kepada mama Maudy. Pokoknya saat ini ia ingin menenggelamkan diri di sana. 


Maudy gugup, dadanya berdebar - debar. Apakah hari ini ia akan melakukan ci"uman pertamanya? 


Keano semakin mendekat, hampir tidak ada celah lagi di antara mereka, Keano memiringkan wajahnya. Jantung Maudy semakin melompat - lompat. 


Begitu juga dengan Keano, meskipun bukan ci"uman pertama, tapi tetap saja ia merasa gugup. 


"Maudy!!!!" 


Sebuah teriakan membuyarkan semuanya. 

__ADS_1


__ADS_2