
50
Akhir pekan telah di lewati dengan bahagia oleh pasangan pengantin baru itu.
Jalan - jalan, makan - makan dan tentunya menghabiskan malam - malam panas penuh gai*rah .
Seperti malam ini, untuk yang ketiga kalinya pengantin baru itu melakukan aktivitas menyenangkan di atas ran*jang.
"Satu kali lagi ya?" goda Satria penuh harap.
Glek!
Maudy menelan air liurnya. "Ya, ampun! Sebenarnya suaminya itu habis minum obat apa sih? Kok tidak ada matinya di atas ranja* ng," batin Maudy.
'Ya, ampun papaw! Please deh! Udah malam, besok kita masuk kerja lho, dan harus bangun pagi - pagi buta" Maudy mengingatkan.
Satria melirik jam yang menempel di dinding.
"Ah, iya kok nggak kerasa ya? Tiba - tiba udah jam sebelas aja. Padahal kita main habis isya lho!" ucap Satria seraya terkekeh.
Dia sendiri heran, bisa - bisanya dirinya ketagihan melakukan hal menyenangkan bersama istri yang baru dinikahinya dua bulan lalu. Saking enaknya pengen nambah terus. Apa tubuh Maudy mengandung micin ya?
"Apa mungkin semua pengantin baru begitu ya?" pikir Satria.
"Ya, udah deh! Kita tidur saja!" seru Satria lalu menarik tubuh Maudy ke dalam dekapannya. Dan akhirnya pasangan suami istri itu terlelap hingga adzan subuh berkumandang.
****
Sebelum berangkat kerja, pasangan suami istri itu selalu sarapan terlebih dahulu.
" Mamaw, hari ini aku lembur lagi,,mungkin pulangnya agak malam. Paling sekitar jam sembilan udah ada di rumah. Kamu pulangnya Naik taksi saja," ucap Satria di sela - sela sarapannya.
"Paw, aku bawa motor sendiri aja ya?" ucap Maudy.
__ADS_1
"Jangan! Kamu tidak boleh bawa kendaraan sendiri. Lalu lintas di sini sangat padat. Lebih baik naik taksi aja lebih aman," sanggah Satria.
Ck! Maudy berdecak.
"Tapi kalau naik motor, akan lebih cepat sampai rumah!" bantah Maudy.
"Tapi aku khawatir, kalau kamu naik motor. Berbahaya di jalanan yang padat, udah deh, pokoknya kamu naik taksi!" keukeuh Satria.
"Duh, Papaw! Kamu lupa siapa aku? Hal - hal seperti itu nggak perlu dikhawatirkan!" rengek Maudy.
"Iya aku tahu siapa kamu, kamu dari dulu cewek pemberani, jago silat, jago kebut - kebutan. Tapi sekarang kamu adalah istri aku, kamu tanggung jawabku, aku tidak mau terjadi apa - apa sama kamu. Bahkan aku tidak rela jika kamu kena hujan sedikitpun," tutur Satria lembut penuh penekanan.
'Iya baiklah, suamiku!" ucap Maudy mengalah. "Nggak dulu, nggak sekarang selalu protective," batin Maudy.
Selesai sarapan mereka berdua berangkat ke kantor. Seperti biasa Satria mengantar Maudy terlebih dulu.
Membutuhkan waktu tiga puluh menit, akhirnya mobil yang dikendarai Satria sampai di depan kantor Maudy.
Sebelum turun dari mobil, Maudy mencium tangan Satria dengan takzim. Dibalas satria dengan kecupan mesra di kening, lalu sekilas mengecup bibirr istrinya itu.
"Iya Papaw! Kamu juga hati - hati! Assalamualaikum!" ucap Maudy sebelum menutup pintu mobil.
"Waalaikum salam!" balas Satria saraya melambaikan tangan lalu beranjak dari sana mengendarai kereta besinya menuju tempat ia bekerja.
Tak jauh dari sana Karina dari dalam mobilnya mengawasi dengan wajah masam.
"Sia*lan! semakin hari semakin manis saja mereka," geramnya. Hati Karina dipenuhi dengan api cemburu.
Setelah kedua pasangan itu menghilang dari penglihatannya, ia pun bergegas pergi dari sana.
****
Sore hari, langit pun berwarna jingga. Maudy sedang menunggu taksi online pesanannya. Masih harus menunggu lima belas menitan.
__ADS_1
Tiba - tiba sebuah mobil berwarna merah berhenti di hadapannya.
Seorang pria muda mengenakan kacamata hitam turun dari mobil tersebut dan menghampiri Maudy.
"Hallo Kakak cantik kita bertemu lagi!" ucap pemuda itu dengan sebuah senyuman menghiasi bibirnya.
Maudy mengernyitkan dahinya. " Siapa lagi ini?" batinya.
"Hai, Kak! Aku Rio!" ucap pemuda itu mengenalkan diri seraya menyodorkan tangannya.
Maudy menatap pemuda itu tanpa membalas uluran tangannya . "Ini kan, laki - laki yang mengganggunya kemarin jumat. Dulu manggilnya eneng, sekarang Kakak," batin Maudy.
"Kamu lagi! Sebenarnya mau kamu apa?" ketus Maudy.
"Aku hanya ingin kenalan dengan Kakak cantik. Apa salah?" ringis pemuda yang bernama Rio itu.
"Hanya ingin kenal, tidak lebih!" ucap Rio menyakinkan.
"Maudy! Maudy menerima tangan Rio lalu melepaskannya dengan cepat.
"Oh, namanya Maudy ya? Namanya cantik seperti orangnya," gombal Rio.
"Udah, sekarang kamu menyingkir, aku lagi nunggu jemputan!" ketus Maudy.
"Kalau Kakak mau, ayo aku antar pulang, gratis, Kak!" tawar Rio.
"Tidak terima kasih!" ucap Maudy
"Hei, yang benar aja. Baru kenal kok, sudah ngajak - ngajak," batin Maudy.
"Ya udah, kalau Kakak tidak mau diantar tidak apa - apa," ucap Rio tenang.
Tak berapa lama taksi online pesanan Maudy telah tiba.
__ADS_1
"Maaf, taksiku sudah datang!" ucap Maudy seraya beranjak dari hadapan Rio dan menaiki taksi tersebut tanpa menoleh pemuda itu lagi.
Sepeninggalan Maudy, Rio menyeringai penuh arti. "Semakin penasaran!" gumamnya pelan.