
Bab 2
Sesampai di rumah gadis cantik berkulit putih itu, menjadi uring - uringan. Hatinya panas mengingat Satria berboncengan dengan gadis lain.
"Pantesan sekarang gak pernah ngajak pulang bareng, ternyata memilih membonceng cewek lain," gumamnya dalam hati.
"Uhgh! Sebel! Sebel! Satria mengabaikanku, gara - gara cewek itu," Maudy mengomel - ngomel sendiri. Ia mondar - mandir di kamarnya udah kayak setrikaan. Menghentak - hentakan kaki seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Maudy tidak terima kalau sampai Satria punya cewek. Dia belum siap diabaikan Satria. Semenjak kecil ia sudah terbiasa dimanja Satria. Ia takut jika Satria punya pacar, perhatian Satria teralihkan.
Ia memutuskan pergi ke rumah Satria, ia ingin menanyakan langsung siapa cewek yang diboncengnya tadi.
Tidak ada sepuluh detik Maudy sudah berada di rumah satria. Ia langsung masuk karena pintu pagar tinggi bercat hitam itu terbuka.
"Assalamualaikum Sat!" Ia langsung membuka handle pintu, memang semenjak kecik Maudy terbiasa keluar - masuk ke rumah Satria tanpa permisi, ibunya Satria sudah menganggap Maudy seperti anaknya sendiri sedangkan ayahnya Satria sudah meninggal semenjak Satria kecil.
__ADS_1
Namun, wajah ceria itu menjadi masam setelah melihat pemandangan di depannya itu. Ia melihat Satria sedang asyik mengobrol dengan seorang gadis.
Satria dan gadis itu terkejut karena Maudy membuka pintu secara tiba - tiba. Mereka pun menoleh ke arah Maudy secara bersamaan.
"Eh, Dy… sini masuk!" ajak Satria agak ragu.
"Hmm… kamu ada tamu ya?" tanya Maudy seraya masuk dan ikut duduk di sofa single berhadapan dengan mereka.
Sebenarnya dia sungkan ikut duduk gabung di sana, tapi terlanjur, kepalang sudah datang, masa balik lagi?
Nuansa canggung pun terasa di ruangan itu. Atmosfer di ruangan itu mendadak jadi dingin.
Maudy hanya mengangguk, begitu juga dengan Anastasia. Bagaimanapun juga mereka satu sekolah, cuma beda kelas saja, tentunya sering bertemu walaupun tidak akrab.
" Kamu ada perlu sama aku? " tanya Satria.
__ADS_1
" Ah, iya. Eh tidak!" sahut Maudy tidak jelas.
Kedua orang di hadapannya mengernyitkan dahi, bingung dengan jawaban Maudy.
"Maksudku, aku hanya mampir saja. Aku kira kamu sendirian," imbuh Maudy bingung mau jawab apa, karena biasanya juga kalau ia main ke rumah Satria tidak pernah ditanya - tanya mau ngapain.
"Ya udah deh, kalau gitu aku pulang saja," ucapnya seraya berdiri dan pergi dari sana.
Keluar dari rumah itu, Maudy benar - benar merasa dongkol karena Satria benar - benar mengabaikannya.
Ia pun sudah bisa menebak, kalau mereka itu sedang berpacaran. Ia sempat melihat Anastasia memegang tangan Satria saat dia masuk tadi. Cara Anastasia memandang Satria berbeda, begitu juga sebaliknya. Ada cinta di sana. Ah! Ia tidak mau membayangkan mereka, bikin sakit hati saja.
Satria
Ada perasaan tidak enak dan merasa bersalah saat Maudy memergoki dirinya sedang berpegangan tangan dengan Anastasia. Ia takut Maudy salah paham dan kecewa tapi kalau dipikir - pikir untuk apa merasa takut dan merasa bersalah pada Maudy.
__ADS_1
...Anastasia...
Anastasia tahu kalau Maudy sahabatnya Satria, kadang dia sebal kalau Satria selalu bercerita tentang Maudy. Tadi dia tidak suka saat Maudy datang. Dia merasa Maudy mengganggu kebersamaan dirinya dengan Satria. Untung saja Maudy segera berlalu, kalau tidak dia akan memperlihatkan kemesraan dengan Satria kepada Maudy. Agar Maudy merasa Jengah.