
Bab 6
Maudy
Maudy merasa tidak enak hati jika terus - terusan menghindar dari satria. Dia tidak ingin persahabatan yang dijalin semenjak kecil harus hancur hanya karena Satria tidak menerima cintanya.
Ia pun memutuskan untuk bersikap biasa saja terhadap Satria. Ia pun bergegas ke rumah Satria untuk meminjam buku Matematikanya Satria kembali, karena ia ingat ia pernah menyelipkan surat cinta disana, ia ingin memastikan apakah Satria sudah menemukannya? Jika belum maka ia akan mengambilnya kembali.
Sesampai di rumah Satria dia tidak jadi masuk, karena ia melihat Satria sedang berbicara dengan seorang gadis yang ia yakini adalah Anastasia. Mereka duduk di teras menghadap pintu rumah, sehingga mereka tidak menyadari kehadiran dirinya di balik pagar yang sedikit terbuka.
Ia masih bisa menguping pembicaraan mereka yang membahas surat itu.
Ia pun menghela napas kasar, sesak memenuhi dadanya disaat mendengar perkataan Satria.
Ia pun berlalu dari sana dengan membawa hati yang sakit. Ternyata pada kenyataannya dia tidak akan bisa bersikap biasa saja jika melihat kedekatan mereka.
Minggu
Robby mengajak Keano jogging pagi - pagi sekali, tidak lupa mengajak Maudy dan Satria. Sebenarnya jogging itu rutin dilakukan ketiga sahabat itu. Namun, akhir - akhir ini karena kesibukan mereka di sekolah, rutinitas itu jarang dilakukan lagi, ditambah Satria lebih memilih menghabiskan waktu dengan kekasihnya ketimbang dengan sahabatnya.
"Yuk, udah siap?" tanya Robby kepada Maudy yang baru keluar dari rumahnya.
"Siap!" seru Maudy.
Sekilas Maudy dan Keano saling melempar senyum hanya untuk sekedar basa - basi.
__ADS_1
Keano terlihat tampan dan keren mengenakan baju olahraga, setelan celana pendek dan kaos tanpa lengan berwarna hitam, dengan sepatu sport merk terkenal berwarna putih. Maudy saja dibuat kagum oleh penampilannya.
Tiba - tiba Robby menghentikan langkah Maudy secara tiba - tiba.
"Sebentar Dy!" lalu pemuda tampan yang mengenakan training abu - abu dengan kaos warna putih itu, bersimpuh dihadapan Maudy hanya untuk sekedar membetulkan tali sepatu sport warna merah bata itu.
"Kebiasaan! Kalau keinjek nanti kamu bisa jatuh lho," ucapnya seraya berdiri kembali, tangannya menyempatkan untuk mencolek pipi Maudy sekilas.
"Makasih Kak!" sahut Maudy seraya tersenyum lebar.
Robby mengangguk sambil menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Ck, lebay banget sih, ngapain repot - repot naliin sepatunya orang? Biarin aja dia tersandung tali sepatunya, salahnya sendiri nali aja gak bisa!" cibir Keano.
"Sirik!" hardik Maudy.
Lalu mereka pun melanjutkan, lari paginya.
Mereka berhenti di sebuah taman yang ada di kompleks tersebut.
" Capek! " keluh Maudy seraya menyusut peluh di dahi dan lehernya menggunakan tisu.
"Ck! Manja banget sih baru segitu aja udah ngeluh capek, " ejek Keano.
__ADS_1
"Suka - suka aku lah, yang capek aku, kok, kamu yang sewot," balas Maudy sambil mengerucutkan bibirnya. Ia sedikit kesal dengan pemuda tampan itu, dari tadi berkomentar pedas terus.
"Udah, jangan berantem melulu, ayolah, kita istirahat di sana!" Robby menengahi mereka sambil menunjuk ke bangku di taman itu, sedangkan tangan yang satu menarik tangan Maudy.
Maudy tertegun, sepasang kekasih yang sedang duduk di sekitar taman menyita perhatiannya.
Sang gadis dengan telaten, menyeka peluh pemuda di sampingnya. Sedangkan sang pemuda tersenyum bahagia.
Melihat pemandangan itu dadanya kembali sesak, ingin rasanya menghilang dari sana atau mengubur diri di dalam tanah.
"Harus kuat, nggak boleh cengeng!" janjinya dalam hati.
"Lho, itu kan Satria!" seru Robby.
"Sat!" panggil Robby.
"Satria pun menoleh, ia tersenyum seraya melambaikan tangan.
Robby, Maudy dan Keano menghampiri sepasang kekasih itu.
"Pantas saja nggak mau gabung. dengan kita, ternyata sedang asyik-asyikan sama cewek" , goda Robby.
Satria hanya cengengesan sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Lho, Anas?" seru Keano yang terkejut melihat keberadaan Anastasia di tempat itu.
__ADS_1
"Kak Keano?" Anastasia tak kalah terkejut.