
57
"Kakak! Siapa itu?" seru seorang wanita dari arah pintu.
"Eh, udah bangun kamu? " sahut orang itu kaku.
Karina yang hendak menuju kamar mandi mengurungkan niatnya, ia menoleh ke arah suara itu.
Deg!
"Wanita itu!" batin Karina.
Sedangkan wanita yang berdiri di depan pintu itu pun tertegun melihat seorang wanita berada di kamar.
"Udah, nanti ceritanya, ya! Kamu sholat aja dulu!" sergah orang itu seraya mendorong wanita itu untuk menjauh dari kamar, lalu orang itu menutup pintu kamar meninggalkan Karina yang masih terbengong.
***
Beberapa saat kemudian, selesai sholat subuh, seluruh penghuni rumah berkumpul di ruang tamu. Suasana sangat canggung dan kikuk
"Kak Galih! Kenapa bisa ada Karina berada di rumah ini?" tanya wanita itu memulai pembicaraan.
"Jadi kamu kenal dengan Teteh ini, Maudy?" tanya orang itu yang ternyata adalah Kak Galih, kakaknya Maudy.
Sungguh sebuah kebetulan yang tidak terduga. Tadi malam, Galih membawa Karina ke rumah adiknya. Galih pikir lebih baik dibawa ke rumah adiknya ketimbang dibawa ke rumahnya, karena kalau dibawa ke rumah dirinya yang notabene pria single, akan menimbulkan fitnah di antara para tetangga.
Dan untungnya dia selalu membawa kunci cadangan rumahnya Maudy, sehingga dengan mudah bisa masuk, tanpa membangunkan penghuni rumah.
"Iya, Kak. Karina temanya Satria," jawab Maudy tanpa menjelaskan kebenarannya.
"Oh, kebetulan banget, jika ternyata kalian saling mengenal. Tidak salah aku membawanya ke rumah ini," seloroh Galih.
"Gimana ceritanya, kalian bisa bertemu?" tanya Maudy.
__ADS_1
"Tadi malam dia pingsan, Kakak bingung harus dibawa ke mana? Dan tidak mungkin kan, Kakak bawa ke rumah Kakak?" sahut Galih.
Maudy manggut - manggut tanda sudah mengerti.
Satria hanya diam, dia masih canggung dengan kehadiran Karina.
"Maaf ya, aku telah membuat repot kalian," sesal Karina.
"Tidak apa - apa, Teh! Sesama manusia memang harus saling menolong," tutur Galih.
"Lagi pula, mana tega saya meninggalkan seorang wanita pingsan di jalanan pada malam hari," imbuh Galih.
"Terima Kasih ya, Kak!" ucap Karina tulus.
"Sama - sama!" sahut Galih.
"Oh ya, apa kabarnya kamu,Satria?" tanya Karina kepada Satria yang dari tadi hanya diam saja.
"Mmm.. Baik!" sahut Satria singkat.
"Kok, terburu - buru? Bagaimana kalau sarapan dulu? Tadi saya sempat beli bubur ayam," ujar Galih.
"Maaf, saya memang terburu - buru. Saya mengajar pagi, hari ini. Saya juga harus kembali ke parkiran, mobil saya masih di sana," tutur Karina.
"Oh, baiklah, saya akan mengantar kamu, Karin. Boleh kan, saya panggil kamu dengan nama saja?" tanya Galih.
'Iya, itu lebih enak di dengar. Tidak perlu repot - repot mengantar saya. Saya bisa naik taksi online," tolak Karina halus.
"Tidak merepotkan! Ayo berangkat sekarang!" seru Galih antusias.
Karina memandang Maudy dan Satria bergantian lalu menatap Galih.
"Beneran tidak merepotkan?" tanya Karina.
__ADS_1
"Tidak apa - apa Karina. Biar Kakak saya yang antar kamu," Maudy menimpali.
"Tapi saranku, lebih baik kalian sarapan dulu, sayang banget kalau buburnya nggak dimakan," imbuh Maudy.
Akhirnya Karina menuruti ajakan Maudy untuk sarapan terlebih dahulu. Mereka Pun menghabiskan sarapan dengan tenang dan agak canggung.
Terutama Karina, ada perasaan aneh yang menyelinap dalam dirinya, bisa satu meja dengan mantan kekasihnya itu.
Sedangkan Satria, dia tidak begitu mempedulikanya. Ia berusaha bersikap biasa saja.
"Oh ya, kalian kenal di mana?" tanya Galih di sela - sela sarapannya, seraya menatap Karina dan Satria bergantian.
'Kita saling mengenal karena kita mantan kekasih! " celetuk Karina.
" Hah! beneran? " Galih tercengang.
'Uhuk!" Maudy tersedak. "Iya mereka mantan kekasih," sahut Maudy seraya tersenyum tipis.
Dengan sigap Satria memberi minum kepada Maudy.
"Pelan - pelan sayang!" ucapnya lembut seraya menepuk punggung istrinya itu. Satria tidak sedang bermain drama. Dia melakukan itu bukan karena ada sang mantan. Ia refleks melakukannya, mungkin sudah kebiasaan saja.
Satria juga biasa saja, ia tidak menampakan raut wajah apapun. Wajahnya terlihat datar. Suasana kembali kikuk.
"Ehem!" Galih berdehem untuk mencairkan suasana.
"Yuk, berangkat! Ajaknya pada Karina.
Karina mengangguk, lalu beranjak dan berpamitan pada Satria dan Maudy. Ia juga tidak lupa meraih tas selempang miliknya di atas meja makan.
Karina dan Galih menuju mobil yang sudah terparkir cantik di depan rumah.
Galih membukakan pintu untuk Karina. Saat akan masuk ke dalam mobil, sejenak karina tertegun.
__ADS_1
Lalu ia menoleh ke arah Galih. Diamatinya secara seksama pria rapi nan tampan di hadapannya itu.
Kamu!?! sentak Karina.