
35
Adzan subuh berkumandang indah, perlahan Maudy membuka matanya.
Tangannya terasa pegal dan kaku.
Deg!
Maudy tertegun dengan posisinya kini. Pantesan tangannya sangat pegal dan kaku, ternyata semalaman tangannya melingkar di leher Satria.
Wajah mereka begitu saling menempel. Perlahan Maudy melepaskan pelukannya, Satria pun terusik dengan pergerakan Maudy barusan.
"Sudah bangun?" tanya Satria.
Reflex Satria dan Maudy saling menjauh. Lalu keduanya duduk di bibir ranjang.
Maudy mengingat - ingat kejadian semalam. Yang dia ingat, terakhir kali berada di kamar mandi.
Maudy juga ingat, waktu itu kepalanya pusing dan setelah itu ia tidak mengingat apapun.
"Tadi malam kamu pingsan di kamar mandi," terang Satria.
"Kamu juga mengigau, memelukku dengan paksa, sampai aku tidak bisa melepaskan diri," imbuh Satria.
"Iya waktu itu tiba - tiba kepalaku pusing dan berkunang - kunang. Setelah itu aku tidak ingat apapun," sahut Maudy cepat. Pasti sangat memalukan saat dia mengigau.
"Apa sekarang masih pusing? Apa kita ke dokter pagi ini?" tanya Satria perhatian.
"Sekarang tidak pusing lagi, tapi aku lapar. Tadi malam aku melewatkan makan malamku," tutur Maudy.
"Ya, udah sholat subuh dulu, lalu. Kita cari makanan, siapa tahu di dapur sudah ada makanan yang tersedia, " ucap Satria.
"Aku duluan ya! Dari tadi malam aku nggak jadi mandi," seloroh Satria sembari menuju kamar mandi.
"Sat!" panggil Maudy.
"Iya!" jawab Satria. Menoleh.
"Mmm… tadi malam yang gantiin baju siapa?" selidik Maudy.
__ADS_1
"Aku!" sahut Satria dengan canggung.
'Sssh! Kenapa nggak minta tolong mamaku saja! " desis Maudy.
Membayangkan Satria memasangkan baju di badan saja, ia merasa malu.
" Maaf, aku tidak berani membangunkan Mama! Waktu itu aku panik, " sahut Satria.
"Ya udah! mandi gih sana, nanti subuhnya keburu ilang! " ucap Maudy mengalihkan pembicaraan.
Satria tidak menjawab, kembali berjalan menuju kamar mandi, ia hanya tersenyum tipis demi mengingat betapa susah payahnya ia memakaikan baju untuk Maudy tadi malam. Terbayang kembali raga Maudy yang tanpa sehelai benangpun.
Beberapa menit kemudian Satria telah selesai membersihkan diri.
Ceklek!
Satria keluar dari kamar mandi dengan handuk sepinggang. Terlihat segar dengan rambut basahnya. Bulir air masih menetes di bagian tubuh atasnya. Menguar dari badanya wangi khas sabun mandi.
"Dy,.. Aku lupa bawa baju ganti," keluh Satria.
"Oh, iya. Pinjam Kak Galih dulu ya?" sahut Maudy tanpa melihat ke arah Satria. Tadi saat Satria keluar dari kamar mandi, Maudy sempat melihat penampilan Satria yang membuat dirinya canggung dan malu.
" Iya, deh! "ucap Satria dengan santai mendudukan bokong*nya di ranjang.
Lalu Maudy bergegas keluar dari kamar dengan maksud mau meminjam baju kakaknya.
Tak berapa lama ia kembali dengan membawa kaos dan celana pendek, tidak lupa sarung untuk sholat milik kakaknya.
" Ini, Sat! " menyodorkan pakaian tersebut tanpa melihat Satria.
Satria pun meraihnya, lalu memakainya di hadapan Maudy. Saat akan mengenakan celana pendek, Maudy memalingkan wajah dan bergegas meninggalkan Satria menuju kamar mandi.
Brak!
Tidak sengaja dia menutup pintu kamar mandi agak keras. Saking groginya.
"Apa - apaan sih, Satria itu? Apa tidak malu memakai baju di depanku?" gerutu Maudy. Lalu ia memulai ritual membersihkan diri.
"Kenapa sih dia?" batin Satria sembari menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis demi melihat tingkah Maudy.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Maudy telah selesai dengan ritual mandinya, tetapi dia bingung, ia lupa membawa baju ganti.
"Duh, lupa bawa baju ganti," keluhnya.
Ceklek!
Ia menyembulkan kepala, melihat situasi di kamar.
"Sat?" mencoba memanggil Satria.
Tidak ada jawaban.
"Syukurlah dia sudah tidak ada di kamar," gumam Maudy.
Lalu Maudy keluar dari kamar mandi dengan maksud mengambil pakaian.
Saat dia sedang asyik memilih pakaian, tiba - tiba Satria masuk tanpa permisi dan berdiri tepat di belakangnya.
"Dy..! panggil Satria.
" Eh, iya! " Maudy terkejut. Tidak berani menoleh.
"Kalau sudah selesai, cepat keluar! udah ditunggu sama orang tua kita ," ucap Satria.
Tanpa Satria sadari matanya tidak mau lepas memperhatikan tubuh maudy yang hanya dibalut handuk. Bahu seputih keju yang masih basah itu terlihat nyata di hadapannya.
Maniknya turun ke bawah menatap lekat boko*ng Maudy yang padat berisi, pandangan Satria beralih ke p*aha Maudy yang putih seputih susu.
Glek!
Lagi - lagi ia menelan ludahnya sendiri.
Sepertinya Ia lelaki normal. Tubuhnya memanas melihat pemandangan yang menggiurkan itu. Ingatkan tadi malam tentang tu"buh polos Maudy kembali berputar - putar di otaknya.
"Sat! Cepat keluar aku mau ganti baju!" sentak Maudy kesal karena dari tadi Satria berdiri di belakangnya terus.
"Eh, iya, aku keluar!" seru Satria tergagap.
Setelah Satria keluar Maudy segera mengunci pintu dan bergegas mengenakan pakaian. Setelah menunaikan sholat subuh ia pun keluar kamar.
__ADS_1