
54
Nyawa mama pada waktu itu tidak bisa ditolong lagi, mama mengalami serangan jantung. Mama menghembuskan napas terakhir setelah dirawat di rumah sakit selama tiga hari.
Papa sangat terpukul pada waktu itu. Ia sangat kehilangan istri tercintanya. Tapi papa harus kuat. Karena Keano juga masih membutuhkan dirinya.
Tanpa memberitahu kerabat, papa memakamkan mama di TPU dengan bantuan petugas pemakaman.
Sengaja papa menyembunyikan kematian mama. Papa tidak ingin ada yang mengetahui kondisi keluarganya saat ini.
Terutama keluarga Maudy, sampai saat ini papa masih kurang setuju jika putranya bersanding dengan kalangan biasa.
Sehari setelah kepergiaan mama, Keano sadarkan diri. Namun, sayang dia kehilangan seluruh memorinya. Dia tidak bisa mengingat apapun, bahkan namanya sendiri ia tidak tahu.
Semakin terpukul lah papa. Ditinggal pergi oleh istri untuk selama - lama, dan kini putra semata wayangnya kehilangan ingatan.
Setelah kondisi kesehatan Keano mulai stabil, papa membawa Keano Ke Amerika untuk berobat di sana.
__ADS_1
Hampir dua bulan lebih Keano berobat di sana. Kesehatannya mulai membaik secara bertahap. Kini ia pun sudah bisa berjalan kembali, meskipun terkadang mudah lelah karena terlalu lama berjalan. Hanya saja ingatanya yang belum pulih sedikitpun. Dengan penuh kesabaran papa merawat Keano.
******
Enam bulan berlalu, kondisi kesehatan Keano sudah kembali seratus persen, kecuali ingatannya.
Sore itu, Keano berbincang - bincang santai dengan papa di ruang tamu.
"Pa, kata papa kita berasal dari indonesia?Keano ingin kembali kesana. Siapa tahu bisa membantu memulihkan ingatan Ken," tutur Keano.
"Tidak untuk saat ini, Ken. Papa belum siap kembali kesana. Itu hanya akan mengingatkan papa pada mamamu," tolak papa.
Papa masih ingat betul dialah yang mengirim pesan singkat kepada Maudy atas nama Keano.
"Tapi, pah! Sampai kapan kita disini? Ken, ingin ziarah ke makam mama. Ken, juga ingin mengenal kerabat - kerabat kita disana. Mungkin Ken, banyak teman di sana," ujar Keano serius.
Papa menghela napas, bingung harus beralasan apa lagi untuk menolak keinginan putranya itu.
__ADS_1
"Ken, nanti ya, kalau papa sudah siap. Kalau papa sudah bisa menerima kepergiaan mama," kilah papa.
"Begini aja, papa tetap disini, biar Ken, kembali ke sana sendiri," ujar Keano.
"Tidak! Papa tidak setuju. Nanti kamu di sana tidak ada yang mengurus," ujar papa.
"Ya ampun, Pa, Keano bukan anak kecil. Keano bisa mengurus diri sendiri. Keano sudah sehat. Lagian, bukankah papa bilang di sana kita punya saudara? Keano bisa tinggal bersama saudara di sana," rengek Keano.
"Iya, papa tahu kamu sudah sehat, tapi kamu amnesia. Papa hanya ingin kamu tetap dalam pengawasan papa," tutur papa.
"Baiklah! Tapi sampai kapan? Keano hanya ingin kepastian, kapan kita bisa pulang ke tanah air?" tanya Keano.
"Tahun depan kita pulang ke sana!" jawab papa.
"Janji ya, pa?" rengek Keano.
"Iya papa janji!"
__ADS_1
"Ya ampun, aku harus benar - benar bisa mengulur waktu, aku harap Keano melupakan keinginannya untuk kembali ke tanah air," batin papa ketar - ketir.