Cinta Pertama Maudy

Cinta Pertama Maudy
31


__ADS_3

31


Seorang ibu mendorong putranya untuk duduk di kursi akad. 


"Yah, keduluan!" gumam Mama Robby. Tadinya ia juga akan mendorong anaknya ke meja itu. Namun, keduluan oleh Mamanya Satria. 


"Ma! Rengek Satria, dia terkejut karena secara tiba - tiba mamanya mendorong dirinya ke meja akad tanpa meminta persetujuannya terlebih dulu. 


"Sudah, kamu menurut saja sama Mama, pernikahan ini harus tetap berlangsung, kasihan keluarga Maudy jika pernikahan ini batal. Mereka akan menanggung malu kalau kita tidak menolongnya," bisik Mama seraya menekan bahu Satria agar tetap diam di tempat. 


"Bagaimana Pak Rudi? Apakah bapak menyetujuinya?" tanya Pak penghulu. 


Papa Rudi bimbang dibuatnya, jika pernikahan ini batal tentunya ia akan menanggung malu .  Sedangkan nanti malam acara resepsi akan digelar secara meriah. 


"Pa, kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Kak Keano. Maudy ingin menunggu Kak Keano," ucap Maudy sendu. 


"Tapi, Nak, otomatis pernikahan hari ini akan batal!" ucap papa. 


"Tidak apa - apa, lebih baik pernikahan ini batal saja," Maudy berkata dengan mata sudah berkaca - kaca. 


"Nak, pikirkanlah! Keluarga kita akan malu jika pernikahan ini batal," ucap papa. 


Maudy diam sesaat, ia jadi bimbang. Ia pikir, kasihan juga orang tuanya jika harus menanggung malu. 

__ADS_1


Ting! 


Tiba - tiba sebuah pesan dari Keano masuk ke ponsel Maudy. 


Maudy segera membuka pesan itu. 


" Maudy, maafkan aku, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita, setelah aku pikir - pikir, ternyata aku belum siap untuk menikah pada waktu ini, tolong lupakan aku saja. Aku beserta orang tuaku pergi keluar negeri, aku akan melanjutkan kuliahku disana. 


Keano. 


Deg! 


Sesaat dunia Maudy menjadi runtuh dan gelap, sungguh ia merasa kecewa dengan keputusan yang Keano buat. Dia tidak mempercayainya. lalu ia berusaha menelpon Keano. Namun, sayang, saat itu juga ponsel Keano tidak aktif. 


"Keano Brengse** umpatnya dalam hati. Ingin sekali ia mengumpat kasar saat ini. Namun ia harus bisa menahan diri karena masih banyak tamu di ruangan itu. 


" Baiklah! Maudy bersedia, " ucap Maudy dengan tenang, padahal dalam hatinya dipenuhi amarah yang berkecamuk. 


"Dy? Satria menatap Maudy dan menggelengkan kepala. Satria harap Maudy menolak pernikahan ini. Bagaimanapun aneh saja jika tiba - tiba Satria menjadi mempelai pengganti. 


Jalan akses pikiran Maudy menjadi buntu. Ia tidak bisa lagi berpikir jernih setelah mendapat pesan dari Keano. Hatinya dipenuhi rasa kecewa, amarah, benci dan juga tidak percaya. Karena laki - laki yang selama ini ia cintai begitu pengecutnya meninggalkan dirinya di hari pernikahan mereka. 


"Kamu yakin, Nak?" tanya papa untuk meyakinkan lagi. 

__ADS_1


"Yakin, Pah! Lagi pula Keano tidak akan pernah datang!" tegas Maudy. 


"Maksudnya?" tanya Papa. 


"Nanti saja ceritanya, yang terpenting pernikahan ini harus segera berlangsung," tutur Maudy dengan raut datar. 


"Maudy jangan gegabah!" sentak Satria mengingatkan. 


"Sudah! Sudah! Jangan banyak bicara lagi, kita segera laksanakan pernikahan ini!" selak Mama Satria tidak sabaran. 


Satria tidak bisa berkutik lagi jika mamanya yang memaksa, akhirnya pernikahan antara dirinya dan Maudy terjadi juga. 


Dengan kecerdasan yang dimiliki Satria, Ia bisa melafalkan ijab kabul dengan lancar setelah diajari dua kali terlebih dulu. 


Sah! 


Sah! 


Kata sah pun menggema di ruangan itu, dilanjutkan dengan untaian doa. 


"Kalian telah sah menjadi suami istri secara agama, segera melengkapi dokumen agar bisa menikah secara negara, ' tutur pak penghulu. 


Setelah itu beliau berpamitan undur diri. 

__ADS_1


__ADS_2