
Prank!
Karina membanting telepon seluler milik Satria itu ke lantai. Handphone tersebut terbelah menjadi dua. Baterainya terlempar sampai ke kaki Satria.
Satria memungut kepingan handphone itu. Belum juga ia duduk dengan benar. Tiba - tiba Karina menyiramkan segelas es jus jeruk mandarin ke kepalanya.
Byurr!
Cairan dingin berwarna orange itu, meleleh dari atas kepalanya sampai memenuhi seluruh wajah Satria. Beruntung, ia mengenakan kaos hitam, sehingga kaos itu tidak ikut berubah menjadi jingga.
Tidak sampai di situ, Karina mendekati Satria, dan_
Plakk!
Sebuah tamparan keras mendarat dengan mulus di pipi milik Satria.
"What the fu**,*k!" maki Satria namun kata - kata itu hanya terucap dalam hatinya.
Ia sangat kesal, belum juga rasa terkejutnya hilang karena disiram jus jeruk dingin, dengan tiba - tiba gadis itu kalap dan menamparnya.
Satria mengatur napasnya, agar dirinya tidak terpancing emosi.
Damn!
Breng*sek!
Jahat!
Si*alan!
Gadis cantik itu mengumpat, memaki tiada henti. Meluapkan amarah dalam dirinya. Terlihat jelas dadanya naik turun.
__ADS_1
Satria diam seribu bahasa. Dia menerima kemarahan Karina. Satria rasa ia pantas mendapatkannya. Karena Satria pikir, yang salah adalah dirinya.
"Mengapa? Mengapa Kamu begitu teganya melakukan itu padaku? Apa salahku!? teriak Karina.
Beruntung satria memilih gazebo yang terpencil, meskipun Karina berteriak, tidak akan begitu memancing perhatian orang.
Sungguh gadis itu tidak terima, kekasih yang begitu dicintainya, tiba - tiba menikah dengan orang lain dan memutuskannya.
Padahal selama ini semua baik - baik saja.
"Satria, Jawab !" sentak Karina seraya memukul - mukul dada bidang itu. Sedangkan air matanya telah luruh menyebrang di pipi mulusnya.
"Karina, tenang! Ayo duduk dulu, biar aku jelaskan!" ucap Satria seraya menuntun Karina untuk duduk.
Karina menepis tangan Satria, tapi gadis itu tetap mendudukan dirinya. Dadanya masih naik turun menahan gejolak amarah.
Satria pun ikut duduk di hadapan Karina. Lalu Ia meraih tisu di atas meja dan mulai membersihkan rambut dan wajahnya yang mulai terasa lengket dan tidak nyaman.
"Tapi nasi sudah menjadi bubur. Aku tidak mungkin mundur lagi." Satria pun mulai menceritakan asal mula dirinya menikahi Maudy.
"Berarti kamu terpaksa menikahinya, kamu tidak mencintainya kan? Kalau begitu ceraikan saja dia, lalu menikahlah denganku!" ucap Karina berapi - api.
Satria menggeleng lemah. "Maaf, aku tidak bisa! Aku tidak bisa mempermainkan sebuah pernikahan. Bagaimanapun itu, Maudy sudah sah menjadi istriku" tutur Satria seraya menunduk, dia tidak sanggup melihat wajah Karina yang menatap dirinya dengan tajam. Ia terlalu merasa bersalah pada gadis itu.
Braaak!
Karina menggebrak meja, dirinya sangat kesal mendengar penuturan Satria.
Gadis itu membuang napas kasar, lalu berdiri dan meraih tasnya. Ia berlalu dari hadapan Satria tanpa pamitan terlebih dahulu, dengan membawa luka menganga di hatinya. Sakit! tapi tidak berdarah.
Satria terlonjak, Karena gadis yang biasanya lembut itu, bisa - bisanya menjadi damage (bar - bar). Satria mengelus dadanya.
__ADS_1
"Karin!" panggil Satria.
Tapi dia tidak berusaha mengejarnya. Satria ingin memberikan waktu kepada Karina untuk sendirian.
Mungkin, dengan sejalannya waktu, lambat laun, gadis itu bisa menerima kenyataan dan memaafkannya.
"Permisi!"
Dua orang pramusaji datang dengan membawa dua nampan berisi makanan.
Kedua pramusaji itu menatap bingung ke arah Satria yang nampak berantakan.
"Kang, kami tidak jadi makan, apa boleh di bawa pulang?" tanya Satria. Sayang banget kalau tidak di bawa pulang. Udah bayar mahal - mahal pula.
"Oh, boleh banget! Mari ikut saya!" ucap salah satu paramusaji.
Satria pun mengikuti pramusaji tersebut ke bagian depan.
Sedangkan pramusaji yang satunya, membereskan meja yang sedikit terlihat kacau. Banyak cairan jingga berceceran di tempat itu.
Layang - layang terbang melayang.
Jatuh ke lapangan di ambil orang.
Jauh - jauh pacarku datang
Sudah dekat diambil orang
(pantun dikutip dari buku idiom TIB)
Mungkin pantun tersebut sangat cocok untuk Karina.
__ADS_1