
44
Siang hari di rumah kontrakan.
Dua jam kemudian Satria telah sampai di kontrakannya.
Maudy pasti menertawakan keadaan dirinya yang sangat menyedihkan.
Ia berharap Maudy sedang tidur siang.
Ia pun mengendap - ngendap seperti pencuri.
"Baru pulang?" tanya seseorang yang begitu ia kenal suaranya. Ya itu Maudy yang baru keluar dari kamarnya.
"Ya ampun! Apa yang terjadi dengan kamu?" cecarnya seraya menahan tawa.
"Nanti aja ceritanya, aku mau mandi dulu. Oh iya, ada makanan di meja makan. Makan saja!" ucap Satria. Lalu ia masuk ke kamar.
Sepeninggalan Satria, Maudy beranjak menuju meja makan, melihat apa yang di bawa Satria.
Maudy membuka bungkusan tersebut. Matanya berbinar dikala melihat begitu banyak makanan.
" Wah, kebetulan nih, buat makan siang!" seru Maudy.
Ia pun mulai memindahkan makanan tersebut ke dalam piring.
Hmm.. Gurame bakar, udang crispy, tahu, tempe bacem, tumis kangkung dan entah apa itu apa namanya, cumi pakai saus merah ada taburan wijennya, tidak ketinggalan sambal terasi dan sambal kecap.
Maudy memandangi makanan yang menggugah selera itu. Ia tidak sabar ingin segera mencicipinya. Padahal sering juga sih, makan kayak gituan.
"Kok, nggak di makan?" tanya Satria yang sudah selesai membersihkan diri. Kini laki - laki itu terlihat segar.
"Nunggu kamu. Banyak banget makanannya. Kamu sudah makan?" tanya Maudy.
"Belum, tadi nggak sempat makan, keburu pulang. Jadi, aku bungkus saja," sahut Satria.
__ADS_1
"Nah, bagus dong! Kita makan bareng - bareng, pasti lebih nikmat," ucap Maudy
Satria pun ikut bergabung di meja makan. Satria duduk di hadapan Maudy.
"Emang tadi, waktu janjian sama Karina nggak makan?" selidik Maudy
"Enggak!" sahut Satria.
"Lho?" Maudy heran.
"Udah yah, kita makan aja! Ngobrolnya nanti saja!" ucap Satria ketus. Sepertinya Satria sedang bad mood.
Maudy pun tidak banyak bicara lagi. Ia memilih segera mengeksekusi makanan yang menggugah selera itu. Mereka makan dalam diam.
Selesai makan, Satria mengajak Maudy untuk duduk di kursi yang ada di halaman belakang.
"Gimana tadi?" tanya Maudy.
Satria menghela napas kasar. "Karina marah banget sama aku," ucapnya dengan wajah sendu. Lalu Satria menceritakan semuanya kepada Maudy tanpa ada yang ditutup - tutupi.
"Ish, bukannya bersimpati kepadaku, malah membenarkan tindakan bar - barnya Karina," rengek Satria seraya merotasikan matanya dengan malas.
"Kamu yakin, putus dari Karina dan lebih memilih hidup denganku? Kamu tidak akan menyesal di kemudian hari, kan?" cecar Maudy.
"Aku sudah memutuskan, aku tidak akan pernah menyesalinya! " yakin Satria.
"Pikirkan sekali lagi, aku beri kesempatan kepada kamu untuk mengubah keputusan itu sekarang," pinta Maudy.
"Aku sudah yakin! Aku tidak akan mengubahnya! " tegas Satria.
"Beri aku alasan!" ucap Maudy.
"Pertama, aku merasa bahagia saat melihat mama bahagia dengan pernikahan ini. Kedua, perceraian sangat dibenci oleh YANG DI ATAS! tegas Satria.
" Baik, waktu kamu udah habis! kamu tidak boleh berubah pikiran lagi," tegas Maudy.
__ADS_1
"Kamu juga! Kamu harus mendukung keputusanku ini, mari kita memulai kehidupan yang baru. Aku mohon mari lupakan masa lalu kita. Aku akan menghapus nama Karina dari hatiku. Dan kamu hapus nama Keano dari hatimu, sampai saat ini orang itu tidak ada kabar sama sekali. Lupakan dia! " ucap Satria lembut. Namun, penuh penekanan seraya menggenggam tangan Maudy yang sedang duduk di hadapannya itu.
Walaupun dalam hati masih ragu, tapi Maudy tetap mengangguk. Pada kenyataanya tidak mudah menghapus nama seseorang yang sudah terukir dalam hati.
Namun, satu hal yang ia yakini, ia pasti bisa melewatinya. Toh, pada dasarnya Satria lah, cinta pertamanya. Mungkin saja cinta itu bisa bersemi kembali.
Maudy menatap lekat pemilik manik hitam itu. Begitu pula sebaliknya, Satria menatap secara intense pemilik bulu mata lentik itu.
Ada getaran aneh saat tatapan mereka beradu.
Cuppp!
Entah keberanian dari mana, Satria mengecupp benda kenyal dingin dan ranum itu. Meja di hadapannya bukan lagi sebuah penghalang.
Maudy tersipu mendapat kecupppan mendadak dari suaminya itu.
Tidak sampai di situ, Satria berdiri dengan kedua tangan masih menggenggam kedua tangan Maudy.
Mengajak Maudy berdiri juga, kini mereka sejajar.
Sett!
Satria menarik tubuh Maudy ke dalam pelukannya dengan erat. Maudy hanya diam. Ia pun ikut meresapi pelukan hangat itu. Kini tangan Maudy melingkar di pinggang Satria. Begitu pula sebaliknya.
Satria sedikit merenggangkan pelukannya. Ia kembali menenggelamkan bibirnya di bibir Maudy. Perlahan tapi pasti Maudy membalasnya.
Setttt!!
Tanpa aba - aba Satria menggendong Maudy dengan ala - ala pengantin baru.
Aww! pekik Maudy terkejut. Karena tiba - tiba tubuhnya melayang.
Satria dengan tergesa - gesa membawa gadis itu ke dalam kamarnya.
Bukk!
__ADS_1
Satria menjatuhkan tubuh Maudy di atas ranjangg dengan pelan.