Cinta Pertama Maudy

Cinta Pertama Maudy
Bab 21


__ADS_3

Setelah mendapat lampu hijau dari mamanya, Keano bergegas meluncur ke Bogor untuk menjemput gadis pujaan yang selalu membuat hidupnya menjadi lebih berwarna. 


****


Tidak sampai dua jam ia telah sampai di kediaman orang tua Maudy. Maudy sangat terkejut dengan kedatangan Keano yang secara tiba - tiba. Karena dengan sengaja Keano tidak memberi kabar terlebih dahulu. Keano ingin memberi kejutan pada gadis cantik itu. 


"Kak Ken!" seru Maudy dengan wajah sumringahnya. Lalu ia pun turun dari mobil Robby dan berlari menuju pria tampan yang selalu dirindukannya setiap hari. 


Keano tersenyum tipis melihat gadis itu keluar dari mobil sepupunya. 


"Kamu mau kemana sore - sore begini?"  tanyanya seraya meraih tangan halus itu. Tatapannya tajam dan dingin. 


"Mau jalan - jalan sama Kak Robby, Kak Robby mau traktir aku makan, untung saja masih belum berangkat, kalau tidak kita tidak akan bertemu," tutur Maudy dengan polos. Ia belum memahami jika pria di hadapannya itu sedang tidak nyaman. 


Robby yang melihat kedatangan Keano ia pun menyusul turun dari mobil. 


"Sudah ada Keano, aku berangkat sendiri aja ya, aku pergi dulu ya ," ucapnya seraya menepuk bahu Keano lalu memandang  Maudy dan mengangguk. 


Maudy pun balas mengangguk. "Maaf ya, Kak, lain kali saja," sahut Maudy. 


Robby hanya tersenyum lalu meninggalkan pasangan itu dengan perasaan kecewa. 


Keano sebal kepada Maudy, karena gadis itu kurang peka, tidak mengerti perasaan dirinya yang tidak suka melihat Maudy dekat dengan sepupunya itu. 

__ADS_1


"Eh, sejak kapan dirinya merasa cemburu melihat kedekatan Maudy dengan sepupunya itu? Ah, entahlah! "


Maudy meraih tangan Keano lalu mengajaknya ke dalam rumah. 


Kini mereka duduk berdampingan, terasa kaku, dingin dan canggung, Keano masih kesal, karena tadi saat dia sampai di depan rumah Maudy, dia melihat dengan jelas Robby membukakan pintu mobil untuk Maudy dan dia juga melihat Robby memasangkan seatbelt untuk kekasihnya itu, posisi mereka begitu dekat. Dirinya terbakar amarah, ingin rasanya menarik Robby agar jangan dekat - dekat dengan gadisnya itu. Dia baru menyadari tatapan Robby kepada Maudy sangatlah berbeda. 


Namun, ia masih bisa berpikiran jernih, ia menyadari Robby adalah sepupunya dan Keano juga menyadari sebelum dirinya menjadi kekasih Maudy, Robby selalu memperlakukan Maudy seperti itu. Jadi ia berusaha menepis pikiran buruk terhadap Robby. 


Ia pun berusaha meredam amarahnya, Tapi ia masih enggan untuk membuka suara, ia masih menata hatinya agar tidak mengucapkan kata - kata kasar kepada Maudy. 


"Kok diam aja, Kak?" heran Maudy karena kekasihnya itu dari tadi hanya bungkam saja. 


Keano menghirup udara dengan pelan, ia berharap sesak di dadanya berkurang bahkan kalau bisa hilang. 


"Ya, kadang - kadang sih, kalau lagi bosan aja, karena saat ini temanku hanya Kak Robby," tutur Maudy tetap masih dengan kepolosannya. 


"Bisa nggak untuk kedepannya kamu jangan terlalu dekat dengan sepupuku itu, jaga jarak gitu!" tutur Keano penuh penekanan. 


"Kenapa?" heran Maudy seraya mengernyitkan dahi. 


"Aku nggak suka aja!" tegas Keano. 


"Kok, nggak suka?" Maudy semakin bingung. 

__ADS_1


"Kamu tahu nggak sih? Robby itu sepertinya suka sama kamu!" 


"Hahaha, Maudy tergelak. "Ya, nggak mungkin lah Kak, Kak Robby itu sahabat aku sejak kecil, dia itu sudah menganggapku sebagai adiknya," terang Maudy. 


"Tapi akhir - akhir ini, aku bisa merasakannya,  dari cara dia memperlakukan dan menatapmu sangatlah berbeda ," ujar Keano. 


Maudy menatap Keano dengan serius. "jadi aku harus bagaimana?" 


"Jaga jarak!" tegas Keano. 


"Apa aku bisa? Kak Robby sangat baik," lirih Maudy dengan sendu. 


"Bisa! Kamu pasti bisa, demi kita, demi hubungan kita, please! " ucap Keano penuh harap. sembari menggenggam tangan Maudy. 


"Baiklah, aku akan mendengarkan kata - kata Kak Ken, mulai hari ini aku akan jaga jarak dengan Kak Robby," janji Maudy. 


"Gadis pintar!" puji Keano senang karena gadisnya itu mau mendengarkan kata - katanya. 


Keano menatap Maudy penuh cinta tatapan garangnya berubah drastis melembut. 


Dibelainya rambut panjang, hitam berkilauan itu, tangannya perlahan menyentuh pipi mulus seputih keju itu. 


Perlahan mengusap bibir tipis yang terlihat moist itu dengan ibu jarinya, sangat jarang bisa merasakan benda tipis, merah merekah itu. Ia lupa sedang berada dimana? akses jalan pikirnya tiba - tiba buntu, Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Maudy, dada mereka berdebar sangat kencang. Keduanya sangat gugup. 

__ADS_1


"Ehem!" 


__ADS_2