
Bab 11
Para cowok tampan itu, terkapar lemah di teras belakang layaknya hiu terdampar. Kelelahan karena dikejar - kejar Maudy dengan tikus di tangannya.
"Sabl*eng tuh cewek!" umpat Keano dengan napas ngos - ngosan.
"Maudy emang lucu dan imut," ucap Robby sembari tergelak.
"Ish, imut apanya? Nyebelin gitu!" sergah Keano.
"Hahahhha, nggak nyangka aja, gadis kecil yang imut menggemaskan yang dulunya penakut dan manja, sekarang jadi pemberani dan usil kayak gitu," ucap Satria.
"Ho'oh, padahal dulunya cengeng sama penakut apa - apa minta di temenin," sahut Robby.
"Meskipun sekarang manja dan berisiknya masih tetep," imbuh Satria seraya tersenyum mengingat bagaimana Maudy yang waktu kecil sangat manja, berisik dan cengeng.
"Nggak nyangka aja sekarang malah jago silat, kita aja kalah," Robby menambahkan.
Sedangkan Keano hanya menjadi pendengar di saat Robby dan Satria ghibahin Maudy karena dia tidak tahu bagaimana Maudy waktu kecil. Meskipun Robby dan Keano saudara, tapi mereka jarang bertemu karena Keano besar di luar pulau. Baru belakangan ini mereka bertemu, setelah Keluarga Keano memutuskan kembali ke Jakarta.
Di saat mereka sedang mengatur napas yang berantakan, tiba - tiba mama Robby datang dari arah dalam bersama Maudy.
"Hei kalian para cowok, ayo bantu mama mengambil buah mangga, lumayan mangganya udah matang - matang daripada nanti dimakan codot," ucap mama.
Haduh, Ma, panas - panas gini disuruh manjat? Ogah, Ma, " protes Robby.
" Ayolah Rob, bantu mama, mama lagi kepengen makan mangga, Maudy juga," ucap mama.
"Beneran Dy, kamu ingin makan mangga?" tanya Robby pada Maudy.
"Ho'oh," jawab Maudy seraya menganggukan kepala dengan semangat.
"Baiklah - baiklah!" seru Robby lalu ia beranjak menuju pohon mangga yang buahnya sudah ranum itu.
Namun, setelah berada di atas ia hanya bisa mengambil satu, ia tidak bisa lagi memanjat lebih jauh, ia pun menyerah dan kembali turun.
"Lho, kok, cuma satu?" protes mama.
"Susah Ma, satu aja nih, buat Maudy," ucap Robby seraya menyerahkan mangga itu pada Maudy.
"Lho, ini masih mentah belum bisa dimakan," ucap Mama merebut mangga tersebut sebelum Maudy menerimanya.
__ADS_1
"Haduh, gimana sih Robb padahal mama pengen banget makan mangga. Sat, Ken, kalian bisa manjat?"
" Nggak tante, " sergah Keano cepat.
" Sat? " mama memohon pada Satria.
Satria menggaruk kepala yang tidak gatal." Tante lupa terakhir kali saya naik pohon mangga waktu itu, saya malah terjatuh," Satria cengengesan.
"Yah, gagal deh bikin jus mangganya," ucap mama kecewa.
"Saya aja Tante yang naik, kayaknya enak tuh, mangganya," seru Maudy sembari membayangkan mangga yang rasanya manis itu.
"Oh, Iya, seingat tante kamu kan jago manjat Hahahha," mama Robby tergelak.
Maudy pun dengan lincahnya menaiki pohon mangga itu.
"Hati - hati!" mama berteriak.
Keano hanya geleng - geleng kepala hanya demi melihat tingkah gadis itu.
Kalau Satria dan Robby sudah tidak aneh lagi dengan Maudy yang bisa manjat.
Mereka pun, menuruti perintah mama membentangkan kain taplak itu di bawah pohon mangga.
"Dy, lempar mangganya ke taplak ya, petik yang sudah matang," teriak mama.
"Hati - hati Dy, pegangan yang kuat, jangan lama - lama, cepat turun! " seru Robby mengkhawatirkan Maudy.
"Iya, Kak! Tenang aja," seru Maudy.
Maudy pun memetik satu persatu mangga yang sudah matang dan melemparnya ke bawah.
Satu!
Dua!
Tiga!
Empat!
Sepuluh!
__ADS_1
"Cukup Dy, kamu turun aja!" teriak mama.
"Udah kamu turun Dy!" Robby menyuruh Maudy turun, dia khawatir dengan Maudy kalau terlalu lama diatas.
"Turun Dy, cukup!" Satria ikutan berteriak ia juga mengkhawatirkan Maudy.
"Iya, sebentar, satu lagi, sayang banget udah matang dan besar lagi, pasti enak," sahut Maudy.
Ia pun merangkak untuk mengambil mangga besar yang agak jauh.
Namun, sayang dahannya licin, ia pun tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan akhirnya ia terpleset.
" Dy, awas! " teriak semua berbarengan.
Dengan sigap Keano menangkap tubuh Maudy. Alhasil ia bisa meraih tubuh Maudy. Namun Keano tidak bisa menjaga keseimbangan badanya.
Bruk!
Akhirnya mereka berdua jatuh ke tanah dengan Maudy berada di atas tubuh Keano.
" Aww!" pekik keano.
Lumayan sakit saat pantatnya menyentuh tanah berumput itu, ditambah Maudy M*enindihnya.
"Maudy tertegun sesaat, ia terkejut dan Syok , ia hanya terpelongo melihat wajah tampan Keano yang meringis kesakitan.
"Cepat bangun!" sentak Keano yang merasa risih bertumpukan dengan gadis itu. Ada perasaan aneh saat tubuhnya begitu dekat dengan Maudy. Ditambah Maudy menatapnya sedekat itu.
Dengan sigap Satria dan Robby membantu Maudy untuk bangun.
"Kamu tidak apa - apa ?" tanya Robby.
"Ada yang sakit?" Satria juga bertanya.
Maudy menggeleng.
"Hei kalian! cepat bantu aku! Di sini yang kesakitan itu aku, dia kan enak jatuhnya di badanku," ketus Keano.
Namun mereka tidak menggubris ocehan Keano, mereka hanya mengkhawatirkan Maudy. Padahal Maudy tidak apa - apa hanya sedikit kaget saja.
Ya! Maudy beruntung Keano bisa menangkap badannya rampingnya dengan tepat, meskipun akhirnya mendarat di tanah.
__ADS_1