Cinta Pertama Maudy

Cinta Pertama Maudy
Bab 4


__ADS_3

"Dy, kenalin sepupu aku dari Jakarta, namanya Keano," Robby memperkenalkan Keano kepada Maudy. 


Maudy hanya mengangguk dan tersenyum tipis begitu juga Keano. 


Mereka pun sarapan dengan tenang, sesekali diselingi obrolan ringan seputar sekolahnya Maudy dan kuliahnya Robby yang masih semester dua. 


"Keano itu anaknya Kakak tante di Jakarta, untuk sementara akan tinggal di sini karena orang tuanya sedang ke luar negeri," ucap tante Tari setelah menyelesaikan sarapannya. 


Maudy hanya Mengangguk, sedangkan Keano tidak begitu mempedulikannya ia hanya fokus pada benda pipih yang dipegangnya. 


" Oh iya, Om Doni kemana Tante? " tanya Maudy, ia baru menyadari kalau papanya Kak Robby tidak ada. 


"Pagi - pagi sekali udah pergi mancing bersama teman - temanya," sahut tante Tari. 


"Oh," ucap Maudy


"Dy, ikut ke kamarku yuk, ada yang mau aku lihatin sama kamu," ajak Robby seraya menarik tangan Maudy agar beranjak dari sana. 


Maudy pun  mengikuti Robby. Keano heran  melihat kedekatan mereka. 


"Mereka berteman sejak kecil, satu lagi namanya Satria, biasanya mereka selalu bertiga," ucap tante Tari. Ia mengerti kalau Keano heran. 


"Oh," Keano hanya mengangguk. 


"Gak apa - apa gabung saja  sama mereka biar akrab juga," saran tante Tari. 


"Iya Tan,"  Keano pun berlalu dari sana. 


Terdengar suara cekikikan dari kamar Robby yang pintunya terbuka lebar. 

__ADS_1


Keano berdiri di depan pintu kamar Robby, dia melihat interaksi kedua orang berlawanan jenis itu, begitu akrab, apa lagi yang perempuan nggak ada jaim - jaimnya tertawa begitu lebarnya. 


Robby menyadari jika ada Keano di depan pintu yang sedang mengamati dirinya dan Maudy. 


"Ken, sini gabung sama kita, nonton anime jepang terbaru, lucu dan keren banget!" seru Robby seraya telunjuk menunjuk layar laptopnya. 


"What!?? Nonton anime? Gak salah tuh, Rob? Udah segede gini masih nonton yang gituan? cibir Keano seraya berlalu dari sana,"


Robby dan Maudy saling pandang lalu mereka terkekeh menertawakan Keano. 


"Ya gitu deh, sepupuku itu, nggak asyik, tahunya cuma belajar dan belajar," ucap Robby seraya menggelengkan kepala. 


"Eh, ngomong - ngomong Satria masih suka main ke sini?" tanya Maudy tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. 


"Udah lama enggak, kayaknya sibuk dengan dengan pacar barunya," sahut Robby tetap fokus pada layar. 


"Kok, kakak tahu?" selidik gadis berhidung mancung itu. sambil menoleh sebentar lalu kembali fokus menonton. 


"Ah, curang aku kok, gak dikasih tahu," sungut Maudy. Ada rasa sesak di dadanya. 


Robby hanya mengangkat bahu. 


"Katanya, ceweknya masih teman satu sekolah?" tanya Robby. 


"Iya!" sahut Maudy. 


"Nah, itu tahu?" 


"Baru tadi malam, tuh cewek ada di rumahnya Satria." 

__ADS_1


"Cantik?" 


"Tanya aja sendiri sama Satria!" sahut Maudy dengan nada agak kesal. 


"Kamu kok, kayak bete gitu?" 


"Enggak, sok tahu! 


"Iya, kamu marah Satria punya pacar?" 


Maudy diam dia tidak bisa bohong sama Kak Robby. 


"Udah biarin aja, Satria menemukan cintanya, kamu juga cari pacar sana!" ucap Robby dengan meledek. 


Hening. 


Hening. 


Mereka berdua Fokus pada layar laptop. Namun Maudy tidak benar - benar menonton. Dia memikirkan Satria, hatinya tidak terima jika Satria sudah punya pacar. 


Robby menoleh pada Maudy, dia mengerti apa yang sedang dipikirkan gadis bermata indah itu. 


Lalu ia memegang tangan halus putih itu. "Udah jangan mikirin Satria, masih ada aku yang akan selalu ada buat kamu, aku tidak akan kemana - mana. " 


"Apaan sih Kak!" seru Maudy seraya terkekeh. Melepas genggaman lalu memukul lengan atas Robby. 


"Tuh, kan nangis!" ujar Robby sambil menatap mata indah yang menggenang. 


"Hiks! Di tolak cinta itu ternyata menyakitkan," ucap gadis itu seraya menyusut hidung dan matanya menggunakan tangan. 

__ADS_1


Robby bergegas mengambilkan tisu yang ada di meja belajarnya. "jorok! Lap pakai tisu," ucapnya seraya membantu mengusap air mata di pipi seputih salju itu. 


Tanpa mereka sadari dari tadi seseorang dengan tatapan yang sulit diartikan sedang menyaksikan mereka lalu orang itu berlalu dari sana. 


__ADS_2