
38
Di sebuah kafe, nampak sepasang manusia sedang duduk sambil sesekali menyesap minuman ringan.
Sang wanita dengan manja bergelayut di pundak sang pria. Sedangkan sang lelaki tanpa ekspresi duduk tegap, terlihat sesekali mengusap tengkuknya.
"Sat, dua minggu kemarin kamu tidak jadi ke rumahku, padahal kamu sudah berjanji mau mengajakku nonton. Seminggu itu juga kamu tidak kembali ke Bandung. Kamu tidak memberiku kabar. Beberapa kali aku cari ke kosan, kamu juga tidak ada di tempat. Aku tahu seminggu ini kamu sudah kembali, tapi kamu sepertinya menghindariku, dan aku mendengar kabar jika kamu sudah pindah ke kontrakan baru. Sebenarnya ada apa sih, Sat?" Karina mengeluh. Sedangkan tangannya tetap melingkar di lengan Satria dengan manja.
"Maaf, ada acara keluarga, aku tidak bisa meninggalkannya. Juga hapeku lagi error, jadi tidak bisa segera menghubungimu,lalu di kantor juga banyak pekerjaan, " bohong Satria.
Sepertinya ia masih belum berani menceritakan pernikahannya kepada Karina.
"Beneran nih? Kamu tidak sedang berbohong, kan?" cecar Karina.
"Tidak Karin!" ucap Satria agak ragu. Tapi Karina tidak memperhatikannya.
"Oh, iya bukankah waktu itu, temanmu bernama Maudy menikah? Bagaimana, lancar acaranya?" tanya Karina.
Sebenarnya waktu itu Satria mengajaknya untuk hadir di pesta pernikahan Maudy. Namun, sayang dia juga harus menghadiri pesta pernikahan sepupunya.
Entahlah jika Karina waktu itu hadir di pernikahan Maudy, mungkin jalan ceritanya akan lain.
"Ah, iya. Lancar!" sahut Satria gugup. Ia merasa bersalah karena telah berbohong pada gadis di sampingnya itu.
"Nonton yuk! Kamu kan udah janji mau ngajak aku nonton," rengek Karina.
"Iya, baiklah!" ucap Satria meng-iya-kan ajakan Karina. Satria tidak punya keberanian untuk menolaknya.
Untuk sesaat, dia melupakan Maudy yang tengah menunggunya di rumah.
Kendatipun memberi kabar pada istrinya itu, mengingatnya saja, tidak!
Malam sabtu itu, Satria menghabiskan malam bersama Karina. Hanya sekedar menonton dan makan.
Keasyikan memanjakan kekasihnya itu, ia lupa jika Maudy menunggunya.
__ADS_1
Tepat pukul dua belas malam.
Setelah mengantarkan Karina ke kediamannya. Satria bertolak menuju kontrakan.
Beberapa menit selanjutnya, mobil yang Satria kendarai telah terparkir rapi di garasi rumah kontrakannya.
Deg!
"Maudy!" pekiknya dalam hati.
"Kenapa aku bisa lupa, jika sekarang dia berada di rumah ini," rutuknya dalam hati.
Padahal sebelum bertemu dengan Karina, dia sangat bersemangat untuk bertemu istrinya itu.
Ah, istri? Cukup menggelikan menyebut sahabatnya itu, "istri".
Pintu tidak dikunci, ia pun dengan mulus masuk ke dalam.
Langkahnya terhenti saat melewati sofa yang ada di ruang tamu.
Ia melihat Maudy tertidur pulas di sana dengan posisi telentangg.
"Apa dia sudah makan?" tanyanya lagi dalam hati.
"Bodohnya aku, bisa - bisanya melupakan Maudy," rutuknya dalam hati.
Ia pun berlutut di bibir sofa, memperhatikan gadis yang tengah tertidur pulas dengan mulut setengah terbuka.
Ck!
"Masih seperti dulu, kalau tidur mulutnya menganga," cibir Satria seraya terkekeh geli.
"Dy, ayo pindah ke kamar!" Satria berusaha membangunkan Maudy dengan menepuk pipinya lembut.
Maudy terusik, ia pun membuka matanya.
__ADS_1
"Eh, kamu sudah pulang?" tanyanya sembari mengumpulkan seluruh nyawanya.
"Hemm, kamu kok tidur disini?" tanya Satria.
"Ah, iya ketiduran. Tadinya aku nungguin kamu, Tapi kamu nggak pulang - pulang. Aku telepon nggak diangkat. Aku chat, juga nggak dibalas," keluh Maudy seraya mendudukan diri.
"Ah iya, Maaf banget ya. Aku lupa ngabarin kamu. Tadi aku bersama Karin," jujur Satria. Lalu ikut duduk di samping Maudy.
"Sama Karin Ya? Apa kamu sudah ceritain tentang kita?" tanya Maudy.
"Belum, aku tidak memiliki keberanian untuk menceritakannya," ucap Satria lemas lalu menyandarkan punggungnya di sofa.
"Maaf ya, ini semua salahku, coba waktu itu aku tidak egois dan menolak pernikahan ini. Mungkin kamu tidak akan susah seperti ini," ucap Maudy menyalahkan dirinya.
"Sudah, kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Mamaku juga ikut andil," sergah Satria.
"Sudah malam, Dy! Sebaiknya kita tidur. Besok kita lanjutkan ngobrolnya," ucap Satria.
"Ah iya, kamu sudah makan malam kan?" tanya Satria.
"Hehehe belum," ringis Maudy.
"Tadinya aku ingin ngajak kamu makan di luar. Aku ingin mencicipi makanan khas sini," imbuhnya
"Ya Ampun, Dy. Maafin aku yah. Pasti kamu lapar?" Satria merasa bersalah.
"Iya aku lapar!" sahut Maudy.
"Sekarang aku bikinin Mie rebus aja ya? Besok aku janji bawa kamu jalan - jalan dan makan sepuasnya di Kota ini," janji Satria.
"Boleh juga!" seru Maudy.
Mereka berdua pun menuju dapur untuk membuat mie rebus instan.
Sebenarnya Maudy bisa membuat sendiri, tapi Satria memaksa. Ia bilang untuk menebus kesalahannya karena pulang terlambat.
__ADS_1
Sengaja Satria membuat mie rebus dua mangkok, padahal dia sendiri tidak lapar.
Ia hanya ingin menemani Maudy makan.