Cinta Pertama Maudy

Cinta Pertama Maudy
Menguntit


__ADS_3

47


Sudah satu bulan mereka menjalani kehidupan yang normal sebagaimana mestinya. 


Lambat laun pasangan suami istri itu pun mulai menerima satu sama lain. Sudah saling sayang, saling ketergantungan dan apalagi Satria, sekarang dirinya tidak bisa tidur kalau tidak ada Maudy di sampingnya. 


Selama sebulan ini kehidupan mereka berjalan dengan baik. Dua minggu sekali mengunjungi para sesepuh di Kota Bogor. 


Sesekali juga, Kak Galih berkunjung ke kontrakan mereka untuk memastikan kalau adiknya itu baik - baik saja. Terkadang juga Kak Galih menginap di sana jika sedang merindukan adiknya itu. Meskipun bekerja di perusahaan yang sama, tapi mereka jarang bertemu karena bekerja di departemen yang berbeda. 


Setiap hari, Satria selalu mengantar jemput Maudy ke tempat kerja, padahal di rumah juga ada sepeda motor matic hadiah pernikahan dari Kak Galih. Tetapi Satria tidak mengizinkannya, dengan alasan agar Maudy lebih aman dan nyaman bersamanya. 


Namun, Satria tidak menyadari jika selama ini kehidupannya diawasi oleh Karina. Karina masih belum menerima ditinggal oleh Satria. 


Karina yang berprofesi sebagai guru di salah satu SMA negeri favorite itu lebih banyak memiliki waktu untuk mengawasi gerak - gerik Satria. 


Karina juga mengetahui tempat tinggal Satria, tempat Maudy bekerja, dia juga hafal betul, jam berapa Satria mengantar jemput istrinya itu. 


Karina ingin balas dendam pada mereka. Gadis itu tidak terima melihat kebahagiaan sepasang suami istri itu. 


Selain sebagai tenaga pengajar negeri, karina juga memiliki beberapa tempat bimbingan belajar. Kehidupannya cukup mapan dan mandiri. Orang tuanya juga termasuk orang berada. 


***


"Si*al!" Karina mengumpat dalam hati, saat dirinya melihat perlakuan manis Satria pada istrinya itu. Padahal waktu berpacaran dengan dirinya Satria tidak semanis itu. 


"Enak, betul hidupmu itu! Bahagia di atas penderitaanku!" maki Karina geram. 


Belakangan ini Karina sering mengawasi kehidupan Satria bersama Maudy. Karina dengan cermat mengawasi gerak - gerik sepasang suami istri itu dari dalam mobilnya. 

__ADS_1


Sebelum pergi mengajar, Karina selalu mampir ke kediamannya Satria, hanya demi untuk mengetahui kehidupan Satria. 


Setelah pasangan suami istri itu berangkat, ia pun mengikuti dari belakang sampai ke kantornya Maudy. Setelah itu penguntitan pun berakhir. 


Sesekali juga Karina menguntit di sore hari, saat pasangan suami istri itu pulang bekerja, dan akan berhenti mengawasi sampai malam tiba. 


Ia berencana ingin memisahkan pasangan suami istri itu, bagaimanapun caranya. 


Namun, sampai saat ini, dia masih belum menemukan caranya, karena Satria selalu bersama Maudy. Tidak ada celah bagi Karina untuk mendekat.


Sore itu keberuntungan berpihak pada Karina. Maudy terlihat pulang sendiri. 


Maudy sedang menunggu taksi untuk pulang, Satria tidak bisa menjemput Maudy dikarenakan lembur sampai malam. 


Mengetahui Maudy sendirian, Karina menghubungi seseorang. 


"Beres, Non! Yang penting bayarannya," ucap orang yang ada di balik telpon. 


"Jangan khawatir untuk itu, aku akan membayar mahal jika kamu berhasil! Cepatlah, jangan sampai wanita itu pergi!" 


Jauh - jauh hari, Karina menyuruh seorang berandalan yang mau disuruh apa saja. Berandalan itu juga setiap hari mengikuti Karina mengawasi Satria dan Maudy dari mobil yang berbeda. Jika ada kesempatan seperti hari ini, maka dengan mudah karina menghubungi orang itu dan menjalankan aksinya.


Karina tersenyum jahat saat orang suruhannya itu sudah berada di depan Maudy. 


Maudy bingung karena tiba - tiba ada seorang pria muda keluar dari sebuah mobil. Maudy tidak terlalu curiga, karena pria muda itu terlihat cukup tampan dan rapi, walaupun ketampanannya tidak bisa menandingi suaminya. 


"Neng sendirian?" pria muda itu bertanya. 


Maudy hanya tersenyum tipis bahkan sangat tipis. Dia enggan menanggapi pria muda yang sok akrab itu. 

__ADS_1


"Lagi nunggu jemputan, Neng?" tanya orang itu lagi. 


"Iya, saya lagi nunggu suami saya!" bohong Maudy. Ia pikir dengan berkata seperti itu mungkin, pria itu tidak mengganggunya lagi. 


"Oh, mana suaminya kok belum datang juga?" 


"Sebentar lagi dia datang!" sahut Maudy seraya menyingkir beberapa langkah dari hadapan pria  itu. 


Namun, pria itu tidak menyerah. Dia malah mengikuti Maudy. 


"Kalau suaminya nggak datang juga, ayo saya anter!" ucap orang itu seraya menyentuh tangan Maudy. 


Sontak Maudy menepis dengan kasar tangan pria itu. 


"Hey, kamu tolong yah, jangan menggangguku, aku kan, sudah bilang aku lagi nunggu suami aku, jadi cepatlah menyingkir! " hardik Maudy dengan mata melotot. 


"Ih, si eneng kalau melotot tambah cantik!" goda orang itu dengan nada menjengkelkan. 


Kesal dengan dengan tingkah orang itu, Maudy pun pergi menjauh dari sana. 


Orang itu tidak lagi mengganggu Maudy, karena Karina menelponnya. 


📞 Karina : " Cukup Rio sampai di situ aja, biarkan dia pergi. Besok kalau ada kesempatan kita lanjut lagi." 


📞Rio :" Baik Bos, laksanakan! " sahutnya seraya menatap Maudy yang semakin menjauh. Lalu menutup telepon dari Karina. 


"Menarik juga tuh, Cewek. Cantik - cantik tapi galak! batinnya seraya menyeringai, penuh arti. 


Sedangkan Maudy, akhirnya ia berhasil mendapatkan taksi dan segera meninggalkan tempat itu. 

__ADS_1


__ADS_2