Cinta Pertama Maudy

Cinta Pertama Maudy
Zelda


__ADS_3

58


"Kamu!?" sentak Karina. 


"Kamu kan, pemilik mobil yang pada waktu di restoran itu? Aku masih ingat dengan mobil ini. Dan setelah aku perhatikan, itu memang benar, kamu!" cecar Karina seraya menunjuk ke arah Galih.


"Maksudnya?" tanya Galih bingung dengan dahi mengernyit. 


"Yang waktu itu, aku salah naik mobil!" seru Karina. 


"Ah iya, aku ingat! Kamu kan, cewek yang ngomel - ngomel sama aku waktu itu" sahut Galih seraya tergelak. 


"Ya ampun dunia emang sempit. Maaf ya waktu itu, aku marah - marah sama kamu," sesal Karina. 


"Iya.. Aku juga yang salah udah ngerjain kamu, habisnya waktu itu kamu jutek nyebelin banget!" seloroh Galih. 


"Udahlah! Lupakan saja! Yang lalu biarlah berlalu, tidak usah diperpanjang lagi," ucap Karina. 


"Iya, betul itu! Ayo silahkan naik! Supaya kita tidak terlambat bekerja," ucap Galih. 


Setelah Karina masuk dan duduk, Galih menutup pintu mobil. Lalu ia pun masuk juga di bagian kemudi. 


"Boleh aku minta nomor ponselmu?" tanya Galih sembari fokus menyetir. 


"Ini kartu namaku, silahkan ambil!" ucap Karina seraya menyerahkan kartu namanya. 


"Wah, kamu pemilik tempat  bimbel?" tanya Galih. 


Karina mengangguk. 


"Bisa les apa saja di tempatmu?" 


"Semuanya mata pelajaran, aku spesialis matematika, bahasa inggris dan mandarin," sahut Karina. 


"Kamu mengajar sendirian, ?" 

__ADS_1


"Tidak! banyak juga temanku yang ikut gabung di sana." 


Galih manggut - manggut. 


****


Maudy mengintip dari balik tirai. Ia tersenyum tipis melihat interaksi antara kakaknya dan mantan suaminya. 


"Ngapain di situ sayang? Belum siap - siap?" tanya Satria seraya memeluk pinggang Maudy dari belakang. 


"Lihat Kakak dan Karina, sepertinya mereka langsung akrab. Jarang - jarang lho, Kak Galih, ngobrol - ngobrol sama cewek," ucap Maudy. 


"Jangan - jangan Kak Galih suka deh, sama Karina!" tambah Maudy. 


"Udah ah, biarin aja, nggak usah ngurusin Kak Galih, lagian terlalu dini menyimpulkan, mereka kan, belum lama bertemu," ujar Satria.


"Udah yuk, kita siap - siap berangkat kerja!" ajak Satria seraya merangkul istri tercinta. 


Setelah mengantar Maudy ke kantornya, Satria pun bertolak menuju ke tempat ia bekerja. 


"Selamat pagi, Pak Satria! " Wanita cantik itu menyapa Satria seraya tersenyum ramah. 


"Eh iya. Selamat pagi juga Bu Zelda!" balas Satria dengan sopan. 


Zelda adalah atasan Satria di kantor. Akhir - akhir ini sering mengajak Satria bertemu klein. Bahkan tak segan - segan Zelda mentraktir Satria makan siang usai bertemu klein. 


Satria sih, biasa saja. Ia pikir itu hanya bentuk perhatian seorang pimpinan terhadap bawahannya. 


"Pak Satria, ikut keruangan saya!" titah bos cantik itu. 


"Baik, Bu!" sahut Satria seraya mengekor kepada bosnya itu. 


"Silahkan duduk, Pak!" Zelda mempersilahkan Satria untuk duduk. Satria pun duduk di depan Zelda. 


"Nanti malam, Pak Satria ada acara?" tanya Zelda. 

__ADS_1


"Tidak, Bu!" jujur Satria. 


"Baguslah! Kalau begitu, bisa  temani saya nanti malam?" Zelda menghiba. 


"Dalam urusan apa ya, Bu?" tanya Satria hati - hati. 


"Menghadiri pesta pernikahan putri dari salah satu Klien kita," sahut Zelda. 


"Siapa saja yang ikut, Bu?" tanya Satria. Satria bertanya seperti itu karena memang biasanya ada beberapa karyawan yang ikut jika klien yang mengundang. 


"Hanya kita berdua!" sahut Zelda. 


"Kenapa tidak dengan Dimas saja, Bu?" 


"Ish..! Banyak tanya kamu, saya maunya sama kamu. Karena saya nyamannya sama kamu!" desis Zelda seraya menatap lekat manik jernih milik Satria. 


"Maaf, Bu. Boleh saya menolak?" tanya Satria hati - hati. 


"Kenapa menolak?" tanya Zelda kesal. 


"Kecuali urusan kerja, yang lainnya saya tidak bisa!" tegas Satria. 


"Kamu menolak saya!" sentak Zelda tidak terima. 


"Maaf, Bu. Bukan maksud saya menolak Ibu. Hanya saja, saya tidak bisa menemani Ibu dalam urusan pribadi," tutur Satria. 


"Memangnya kenapa? Toh, cuma menemani saya ke pesta pernikahan. Lagi pula yang mengundang salah satu klien kita," ketus Zelda. 


"Ya, kalau begitu, Ibu bisa mengajak Dimas," saran Satria. 


Braak! 


Zelda menggebrak meja. 


"Saya maunya pergi sama kamu! Karena saya sukanya sama kamu!" sentak Zelda. 

__ADS_1


Seketika Satria kaget saat Zelda menggebrak meja dan mengatakan suka pada dirinya. Satria terpelongo. 


__ADS_2