
"tuan,nona Shafira masuk rumah sakit" ucap Raffles saat panggilan berakhir.hati gelisah yang tadinya sudah agak meredup akhirnya meledak seketika saat mendengar kabar buruk yang di sampaikan oleh Raffles.rasa khawatir dan gelisah langsung melanda pikirannya, seakan-akan ada yang patah tapi bukan kayu.jarum jam yang terus bergerak seakan berhenti berdetak,dunia Alan seakan hancur berkeping-keping.seakan tersadar Alan langsung beranjak dari duduknya dan langsung memerintahkan Raffles untuk menyiapkan mobil.
"siapkan mobil,kita ke rumah sakit sekarang" titah Alan pada Raffles.
"Baik tuan" jawab Raffles dan langsung bergegas keluar dari ruangan diikuti oleh Alan.
Saat sudah di basement, Raffles dan Alan bergegas menuju mobil yang sudah di siapkan.Raffles langsung membukakan pintu belakang mobil untuk Alan masuk sedangkan dirinya langsung masuk ke kursi pengemudi setelah menutup pintu penumpang mobil yang di tempati Alan.
"percepat Raffles,jangan seperti siput" titah Alan lada Raffles.
"Baik tuan" jawab Raffles yang menambah kecepatan mobil yang di kendarainya.
Dalam perjalanan Raffles dan Alan sama-sama terdiam,jika Raffles fokus dengan kemudi sedangkan Alan fokus memikirkan keadaan Shafira.
**************
Seorang wanita sedang terbaring lemah di sebuah brankar rumah sakit.tubuhnya yang lemah dan wajahnya yang pucat sangat terlihat jelas.Alan yang sedang memperhatikan wajah Shafira langsung merasa bersalah lantaran karena dirinyalah Shafira menjadi sakit seperti ini.rasa bersalahnya semakin besar saat mengetahui fakta bahwa Shafira mengalami demam karena mengenai air hujan yang deras,begitulah analisis dokter yang menangani Shafira saat menjelaskan kabar Shafira padanya beberapa saat yang lalu.
Saat Alan sedang fokus memandangi Shafira , tiba-tiba mata Shafira mengerjap perlahan.saat terbuka sempurna yang ia lihat adalah langit-langit rumah sakit yang berwarna putih kemudian Shafira menoleh ke samping dan matanya menangkap sosok pria yang sudah familiar menurutnya siapa lagi kalau bukan Alan,tuannya sendiri yang sedang duduk di samping dirinya.
__ADS_1
"tuan Alan,kenapa saya di sini?" tanya Shafira saat ia menyadari kalau dirinya sedang terbaring di rumah sakit.
"kamu pingsan di jalan dan beruntung ada orang yang melihatmu dan membawamu ke sini" jawab Alan.
"tidak perlu di pikirkan,yang harus kamu pikirkan sekarang adalah tentang kesehatan mu" lanjut Alan.
"benarkah! saya tidak apa-apa tuan,jauh lebih baik sekarang" jawab Shafira dan kemudian memejamkan mata.
"istirahatlah,saya akan keluar sebentar" ujar Alan dan kemudian ia beranjak dari duduknya.
"baiklah tuan" jawab Shafira tanpa membuka matanya.
Saat di luar Alan bertemu dengan Raffles yang baru selesai membayar tagihan administrasi rumah sakit.Alan sebelumnya memang memberikan tugas untuk membayar seluruh tagihan rumah sakit Shafira terhadap Raffles.
"semua sudah di selesaikan tuan" jawab Raffles.
"kalau sudah selesai,kau boleh pulang" ujar Alan.
"terimakasih tuan,tapi apakah saya boleh melihat keadaan nona Shafira terlebih dahulu sebelum pulang" ucap Raffles pada Alan yang meminta izin untuk bertemu dengan Shafira.
__ADS_1
"kenapa kamu meminta izin kepada saya!,itu hak kamu, emang siapa saya yang tidak memberimu izin untuk bertemu dengan Shafira" jawab Alan yang merasa jengkel terhadap pertanyaan dari Raffles.
"maafkan saya tuan" ucap Raffles yang merasa bersalah tetapi percayalah di dalam hatinya sekarang sedang tertawa puas lantaran dirinya berhasil menggoda alan.tanpa menjawab,Alan langsung bergegas meninggalkan Raffles yang masih berdiri di depan pintu ruangan Shafira.
************
Tak lama kemudian,pintu ruangan Shafira terbuka kembali menampilkan sosok Alan yang masuk sambil tangan kanannya memegang kantong,entah apa isinya kantong itu.
"Dari mana tuan?" tanya Shafira saat Alan sudah duduk di kursi samping brankar-nya.
"aaah,itu saya tadi dari restoran yang ada di depan rumah sakit karena saya lapar.ini saya bawakan kamu makanan,saat mau kembali saya ingat sama kamu yang belum makan" ujar Alan yang menjelaskan dirinya pergi ke restoran lantaran dirinya kelaparan,tetapi bukan itu faktanya,dirinya sengaja datang ke restoran itu hanya untuk membelikan Shafira makanan sedangkan dirinya tidak lapar sama sekali.
"terimakasih tuan" ucap Shafira.
"maaf tuan,tapi saya belum lapar" lanjut Shafira,dirinya memang belum lapar saat karena mungkin dokter sudah memberinya suntikan vitamin.
"lapar atau tidak kamu harus makan,supaya badan kamu bertenaga" ucap Alan sambil tangannya membuka bungkusan yang ternyata isinya salah bubur ayam.
"tapi saya......" ucapan Shafira terpotong saat Alan sudah memasukkan sesendok bubur ke dalam mulut Shafira.
__ADS_1
"waktu saya sakit,kamu yang merawat saya sampai sembuh,maka saat ini biarkan saya yang merawat kamu" ujar Alan sambil menatap mata Shafira dalam sedalam samudra.Shafira yang sedang ditatap oleh Alan langsung menatap Alan kembali.seketika itu waktu seakan berhenti seolah-olah memberikan waktu kepada Alan dan Shafira untuk saling menatap satu sama lain dan merasakan perasaan masing-masing.
Bersambung.