CINTA SANG CEO

CINTA SANG CEO
Episode 68


__ADS_3

Alan bukan Islam....... ya,perlu di garis bawahi "ALAN BUKANLAH BERAGAMA ISLAM",bahkan informasi ini baru ia dapat satu hari yang lalu.informasi ini membuatnya sedih,hatinya sakit.... lebih dari apapun.


"kenapa hidupku harus seperti ini? kenapa tuhan tidak adil padaku? bahkan saat aku baru saja merasakan kebahagian,engkau jatuhkan lagi ke dalam jurang yang sangat dalam....COBAAN APA LAGI INI?" ia berteriak,ia sakit,ingin mengadu tapi pada siapa? bahkan langit pun merasakan kesedihan ini.Hujan yang tadinya hanya rintik-rintik,kini bahkan semakin deras.menenggelamkan teriakan Shafira yang menggema di kamar yang gelap ini.


Suara tangis Shafira terdengar sangat menyedihkan.mungkin ia harus bersyukur karena cuaca hujan malam ini,dengan begitu ia tidak perlu khawatir dengan suara tangisnya yang bisa saja di dengar oleh penghuni mansion ini.


Setelah sekian lama ia tidak menangis dan mencoba untuk menerima takdirnya dan tepat malam ini,air mata itu tidak bisa lagi ia bendung.


Perasaan khawatir,kesal dan marah pun bercampur menjadi satu.mengeluarkan semuanya dengan cara meneteskan air mata.


Kenapa tuhan tidak adil padanya? Apa salah dirinya? Kenapa takdir ini begitu mempermainkan dirinya? semua pertanyaan itu selalu muncul di pikirannya.ini lucu,sangat lucu.


Pertama,kedua orangtuanya yang meninggalkan dirinya.kedua,pamannya yang membencinya dan sekarang cintanya pun akan direnggut dengan sebuah perbedaan.ya,perbedaan antara dirinya dan Sang Tuan.


Melangkah pun sudah terlanjur,Berhenti juga tidak akan bisa lagi."Cinta Beda Agama" mungkin kata-kata itulah yang cocok untuk menggambarkan percintaannya.Namun yang sangat membuatnya sakit hati adalah mengapa Alan tidak memberitahunya sejak awal.apa alasan Alan berbohong padanya? kalaupun karena cinta,itu bukanlah solusinya.

__ADS_1


Puas meratapi kesedihan,Shafira menyudahi tangisnya.sekarang bukanlah waktu untuk menangis,melainkan memikirkan cara untuk menyelesaikan semua ini.


Sebuah ide tiba-tiba melintas di pikirannya.ide yang sangat gila namun harus ia lakukan.Tanpa menghidupkan lampu kamar,Shafira berjalan menuju meja riasnya.walaupun tanpa penerangan namun matanya masih cukup jeli untuk melihat,dibantu dengan cahaya remang-remang dari sinar bulan yang masuk ke celah-celah jendela kamarnya.


Tangan putih itu membuka laci yang ada di meja rias dan mengambil benda tajam yang ada di dalamnya.Belati kecil dan sangat tajam itu sekarang berada di genggaman tangan mulusnya.tatapan matanya tertuju pada belati dengan raut muka yang tidak terbaca.tiba-tiba seringaian kecil muncul di bibirnya.


Jangan kalian pikir bahwa Shafira akan bunuh diri! hilangkan pikiran itu jauh-jauh dari otak kalian.ia bukanlah gadis seperti itu,Shafira masih cukup waras untuk melakukan hal sekeji itu.belati itu akan ia gunakan untuk membuka pintu utama mansion ini.ya,sebuah ide yang terlintas di pikirannya tidak lain dan tidak bukan ialah kabur dari mansion mewah ini.


Sebuah ide yang tidak mengharuskan nyawanya melayang.namun rencana itu cukup gila,lantaran ini malam hari dan di luar hujan turun dengan sangat deras. tapi walaupun begitu inilah satu-satunya cara agar terhindar dari Alan dan menghentikan takdir yang bodoh ini.


"Baiklah....... hanya ini satu-satunya cara.bagaimanapun,aku harus menghentikan takdir bodoh ini" Shafira berujar dengan penuh tekad dan semangat.walaupun harus mengorbankan cintanya,namun tidak ada pilihan lain lagi.ia harus melakukannya.


Malam belum terlalu larut.masih banyak orang yang berlalu lalang maupun pejalan kaki ataupun yang menggunakan kendaraan.


Shafira melihat ke sekelilingnya,matanya menatap ke seluruh gedung-gedung yang menjulang tinggi di hadapannya.lalu,beralih menatap orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


Hujan deras yang terus mengguyur kota tidak menggoyahkan niatnya sama sekali.kakinya terus melangkah tanpa tau tujuan.


Tidak mudah untuk kabur dari mansion Alan.namun dengan tekad yang kuat ia berhasil keluar dari mansion itu.penjagaan yang tidak terlalu ketat memudahkannya untuk keluar.sekali lagi Shafira bersyukur pada cuaca saat ini,berkat hujan yang deras semua bodyguard Alan tidak berjaga terlalu ketat.


Langkah kaki Shafira terhenti ketika sebuah cahaya sangat menyilaukan mata sembabnya.Refleks kedua tangan mulus itu menutupi mata.penglihatannya menangkap sebuah mobil yang melaju ke arahnya,Shafira baru sadar bahwa saat ini ia sedang berdiri tepat di tengah jalan.waktu seakan memperlambat.mungkin inilah endingnya, akhir dari sebuah kisah.Tidak apa jika saat ini ia harus menghadap Sang Ilahi.Biarkan saja sang malaikat maut mencabut nyawanya.


cittttttttttttttttttttttttttt....


BRAKkkkkkk.....


Tubuh kecil itu melayang,mata indahnya terpejam seakan menikmati suasana.kemudian tubuh itu jatuh menghantam jalan aspal yang keras.kepala,hidung dan mulut indahnya mengeluarkan cairan merah.ya,itu darahnya sendiri.dirinya masih cukup sadar untuk mengetahui apa yang baru saja terjadi.sebelum mata indah itu benar-benar terpejam dengan remang-remang Shafira masih bisa melihat orang-orang yang mengerumuninya.


Lalu dengan perlahan,kesadarannya mulai hilang.mata indah itu dengan rapat terpejam.membuat orang-orang menjadi panik melihatnya.


Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan sigap mengangkat tubuh kecil Shafira.dengan langkah lebar ia membawa Shafira masuk ke dalam mobilnya,menidurkan Shafira di kursi penumpang, kemudian ia sendiri masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.setelah itu,ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit.ya,itu tujuan utamanya sekarang.

__ADS_1


Mobil Ferrari berwarna hitam itu melaju dengan kencang,membelah jalanan ibu kota,menerjang hujan deras yang menghadang.ia tidak peduli,yang ia pedulikan sekarang adalah bagaimana caranya agar membawa gadis yang sudah ia tabrak menuju rumah sakit secepatnya.ya,dirinyalah yang sudah menabrak gadis ini,maka ia jugalah yang harus BERTANGGUNG JAWAB.


Bersambung.


__ADS_2