CINTA SANG CEO

CINTA SANG CEO
Episode 72


__ADS_3

Tengah hari,disaat semua orang sibuk dengan pekerjaan maupun beristirahat hanya untuk melepas penat.


Shafira terbaring di atas kasur king size yang empuk.bukan!ini bukan mansion Alan melainkan sebuah apartemen.ya,kemarin malam Shafira meminta Aaron untuk pulang saat itu juga.


Flashback on


Shafira yang saat itu tengah termenung sendiri di ruang rawatnya merasa sangat tidak nyaman.ia memang tidak suka saat berada di rumah sakit apalagi bermalam di sini.


Shafira ingin sekali pulang,tapi kemana? ia tak tahu tujuan.sempat terpikir untuk kembali ke rumah pamannya,namun pikiran itu langsung cepat-cepat ia tepis.ia tidak mau menambah beban pamannya lagi.


Pulang ke rumah Alan pun ia tak sudi.memang sebenarnya ada sedikit rasa ingin pulang ke rumah "pria" itu,selain merindukan mansion yang mewah itu ia juga merindukan pemiliknya siapa lagi jika bukan Sang Tuan. namun semua hanyalah angan,ia tidak akan dan tidak mau menginjakkan kaki ke mansion itu lagi.


"Shafira kenapa kau tidak tidur lagi? ini sudah sangat larut,tidurlah...... besok kau sudah boleh pulang" lamunan Shafira buyar ketika Aaron tiba-tiba berdiri di hadapannya.


"ehhh.... kau sudah kembali?" dengan senyuman yang terpatri di bibirnya Shafira bertanya pada Aaron.

__ADS_1


"iya... kau tidurlah aku akan menjagamu malam ini.jangan pikirkan tentang apapun...... karena sekarang kesehatanmu lebih penting" Shafira mengangguk,ia membenarkan ucapan Aaron.untuk sekarang kesehatannya yang paling utama.


namun,bukan itu yang di pikirannya sekarang.ia ingin sekali pulang,tapi kemana? meminta bantuan pada Aaron pun ia segan.


"hmmmm Aaron...... bolehkah aku meminta bantuan mu?" ujar Shafira bertanya pada Aaron yang saat ini duduk di sofa yang tak jauh dari brankar Shafira.


Aaron yang mendengar itu langsung menolehkan kepalanya yang semula menatap handphone lalu menatap Shafira.alisnya berkerut seolah bertanya pada Shafira dengan bingung.lalu kemudian berkata dengan hati-hati.


"Boleh...... apa yang kau inginkan? katakan saja padaku...... jika bisa aku akan membantumu" jawab Aaron.


"katakan..... kau ingin meminta bantuan apa padaku" karena Shafira tak kunjung berkata,Aaron dengan inisiatif sendiri bertanya.


"hmmmm aku..... aku ingin sekali keluar dari rumah sakit ini.tapi.... tapi aku tidak punya tempat tujuan.bisakah kau memberikanku penginapan atau setidaknya sebuah rumah kos yang sederhana" ucap Shafira dengan kepala yang menunduk.


"kau cukup pinjamkan aku uang untuk membayarnya dan kemudian aku akan bekerja dan melunasi hutangku padamu" dengan nada suara yang tergesa-gesa Shafira melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


Sedangkan Aaron dengan sabar menunggu ucapan Shafira selesai.ia menatap Shafira dengan tatapan yang tidak terbaca.raut mukanya terlihat sangat tenang tetapi matanya tidak bisa berbohong.matanya mengisyaratkan akan kesedihan.dalam hati kecilnya,Aaron merasa bersalah.bersalah pada Shafira orang yang sudah ia tabrak.padahal ia yang berhutang pada Shafira namun seakan-akan Shafira lah yang berhutang padanya.


"kau tidak perlu khawatir kan soal itu Shafira,aku akan memberikanmu apartemen.sekarang kau tidurlah,besok aku akan mengantarmu" dengan senang hati Aaron akan memberikan Shafira sebuah apartemen.menurutnya sebuah apartemen tidak akan cukup jika di bandingkan dengan hutangnya yang hampir menghilangkan nyawa Shafira.


"ehmm..... tapi aku ingin pulang sekarang,aku tidak suka rumah sakit" Shafira menjawab dengan kepala tertunduk.sebelumnya ia tidak menyangka akan ucapan Aaron. namun tidak ia pedulikan,yang ada di pikirannya sekarang hanyalah pergi dari rumah sakit ini.


Aaron agak terkejut dengan perkataan Shafira,namun apa yang di ucapkan Shafira ada benarnya juga.sebenarnya ia juga agak tidak betah di rumah sakit,maka dengan itu tanpa berpikir panjang lagi ia mengiyakan permintaan Shafira.


Aaron langsung bergegas mengantar Shafira ke apartemennya yang ada kota ini setelah mendapat izin dari dokter akan kepulangan Shafira.tentu setelah mengantar Shafira ke apartemennya Aaron kembali ke rumah utamanya.


Flashback off


Shafira sadar dari lamunannya saat kepalanya berdenyut pusing.sebenarnya ia masih sakit,namun itu tidak ia pedulikan.dengan keluar dari rumah sakit,itu sudah membuatnya sedikit lega,setidaknya.


Namun pikirannya kembali tertuju pada Alan.bagaimana keadaanya sekarang? apakah Alan mencarinya? kenapa Alan berbohong padanya? semua pertanyaan itu terus berputar di otaknya.seperti benang yang kusut.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2