
Saat ini Alan, Raffles dan Shafira sedang berjalan di basement perusahaan untuk menuju mobil mereka.di basement ini tidak ada orang sama sekali, hanya ada mereka bertiga saja.
Suasana tampak sepi dan sunyi,tidak ada pembicaraan sama sekali.mereka bertiga hanya diam dan tetap berjalan dengan kecepatan sedang.namun tiba-tiba Shafira berhenti karena telapak kakinya terasa sedikit sakit tetapi Alan maupun Raffles tidak menyadari bahwa Shafira berhenti dan tertinggal di belakang.Alan dan Raffles tetap berjalan meninggalkan Shafira yang tertinggal.
Shafira berhenti untuk melihat apa penyebab kakinya bisa sesakit ini dan ternyata hanya batu kerikil yang masuk ke dalam sepatu high heels yang ia kenakan.setelah ia memperbaiki sepatunya, Shafira mendongakkan kepalanya dan ternyata Alan dan Raffles sudah agak jauh darinya.
Saat Shafira berniat mengejar Alan dan Raffles,ia tiba-tiba saja melihat bayangan seseorang yang bersembunyi di tiang basement yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.awalnya Shafira tidak curiga sama sekali namun saat ia melihat orang itu memegang pistol dan mengarahkannya tepat ke arah dada Alan,Shafira baru menyadari bahwa Alan dalam bahaya.
"Tuannn awaaaaaaas" Shafira langsung berlari menuju Alan dan kemudian terdengar bunyi tembakan yang sangat memekakkan telinga.
Dooor
"akhhhhhh" teriak Shafira.dirinya berteriak dengan sangat kencang saat dirinya mendengar suara tembakan yang nyaring diikuti dengan bagian belakang bahu kiri Raffles yang mengeluarkan banyak darah.ya,yang tertembak bukanlah Alan melainkan Raffles yang melindungi Alan dengan berdiri tepat di belakang Alan.
Dooor
Raffles yang tertembak pun langsung menembak balik orang yang berbaju serba hitam itu dan tembakannya pun mengenai betis kanan orang misterius itu.
__ADS_1
setelah itu ia langsung terduduk di lantai basement dengan tangan kanannya yang memegang bagian belakang bahu kirinya dan pistol yang semula di pegang-nya langsung terlepas dari tangannya.
Sedangkan Alan langsung memangku Raffles yang terduduk di lantai basement namun sebelum itu ia sempat melihat seseorang berbaju serba hitam yang berlari menjauhi mereka dengan membawa sebuah pistol dan berlari dengan kaki yang pincang akibat tembakan yang dilayangkan oleh Raffles.kemudian setelah itu ia langsung memangku Raffles dan berusaha untuk menutup luka Raffles dengan tangannya agar darah yang keluar tidak bertambah banyak.kemudian ia melirik ke arah Shafira yang baru saja ingin berlari mengejar orang yang telah menembak Raffles.
"Tidak usah di kejar Shafira,itu berbahaya" teriak Alan kepada Shafira dan itu tentu saja di menghentikan langkah Shafira.
"bertahanlah aku akan membawamu ke rumah sakit" ujar Alan yang berbicara kepada Raffles dan masih bisa di dengar oleh Raffles walaupun itu terdengar samar-samar di telinganya karena dirinya seperti setengah sadar akibat luka yang ada di bahunya.Shafira yang melihat itu langsung menghampiri Alan dan Raffles yang sudah berjalan menuju mobil mereka.kemudian Shafira juga menyusul mereka,namun sebelum itu ia terlebih dahulu mengambil pistol yang tergeletak di lantai yang sebelumnya di gunakan Raffles untuk menembak pria misterius itu.
*************
Di sebuah rumah mewah tepatnya di dalam sebuah ruangan elegan namun terlihat menyeramkan.terlihat seorang pria yang agak tua sedang duduk di sebuah kursi kebesarannya dan satu orang pria lagi yang berdiri di hadapannya dengan betis kaki sebelah kanan yang masih mengeluarkan darah.
"jangan katakan pada saya kalau kamu gagal membunuhnya" ucap pria yang langsung berdiri dari duduknya dan terlihat wajahnya yang memerah karena menahan amarah.
"Maafkan saya tuan Holmes" ucap pria yang berdiri dengan suara yang terdengar pelan namun masih bisa di dengar di telinga Holmes.
"Maaf? saya tidak habis pikir dengan kinerja kamu,bagaimana bisa seorang pembunuh bayaran tidak bisa membunuh seorang Alan yang lemah itu.sekarang segera angkat kaki dari rumah saya dan jangan pernah tunjukkan muka pengecut itu di hadapan saya!!" titah holmes pada pria itu dengan nada suaranya yang berteriak dan membentak.
__ADS_1
"Bayaran saya sudah di transfer kan tuan?" tanya pria itu.
"apa? kamu minta bayaran? kerja kamu saja tidak becus,bagaimana bisa kamu meminta bayaran,bahkan uang sepersen pun tidak akan saya berikan padamu" ucap Holmes dengan berteriak serta telunjuknya yang menunjuk-nunjuk wajah pria itu.
"Dasar pria tua,lihat saja nanti aku akan balas dendam padamu" batin pria itu dan kemudian ia segera meninggalkan tempat Holmes dengan perasaan dendam yang dalam.
************
Di sebuah rumah sakit,tepatnya di sebuah ruangan ICU rumah sakit terlihat lampu merah yang ada di dinding di atas pintu ruangan menyala pertanda operasi sedang di jalankan.
Sedangkan di tempat duduk di koridor rumah sakit tepatnya di depan ruangan ICU terlihat Shafira yang sedang duduk dengan gelisah.kemudian terlihat juga Alan yang berjalan bolak-balik di hadapan ruangan ICU,mereka berdua terlihat sama-sama gelisah dan khawatir terhadap Raffles. ya,yang saat ini berada dalam ruangan ICU dan sedang menjalani operasi adalah Raffles. semua tim dokter sedang berusaha untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di bahu bagian belakang Raffles, walaupun keberhasilan operasi ini mencapai sembilan puluh sembilan persen namun tetap saja semua tim dokter sangat berhati-hati dalam bekerja.
Begitu juga dengan Alan dan Shafira,mereka juga saat ini tengah berkutat dengan pikiran masing-masing.Alan tidak akan bisa hidup tanpa Raffles karena mereka sangat akrab bahkan sudah seperti saudara sendiri.
Saat Alan dan Shafira tengah berperang dengan pikiran masing-masing terdengar pintu ruangan ICU terbuka dan diikuti dengan lampu merah yang mati pertanda operasi sudah selesai dan terlihat seorang dokter laki-laki yang keluar dari balik pintu.Alan yang melihat ada seorang dokter yang keluar langsung menghampirinya dan menanyakan keadaan Raffles.
"Bagaimana keadaan saudara saya dok? tanya Alan dengan perasaan menggebu-gebu.
__ADS_1
"saudara anda baik-baik saja dan operasinya berjalan dengan lancar.kalian bisa melihatnya setelah ia dipindahkan ke ruang perawatan" jawab dokter dengan tersenyum lebar dan Alan yang mendengar itu langsung menghela nafas lega dan begitu juga dengan Shafira.
Bersambung.