
Hari ini,seperti biasa ketika matahari sudah menampakkan sedikit sinarnya,Alan sudah rapi dengan setelan jas dan kemejanya.pria itu nampak bergegas menuruni anak tangga satu persatu dengan langkah kakinya yang panjang.
Langkahnya terhenti ketika melihat sang pujaan hati tengah duduk di sofa ruang keluarga dengan televisi yang menyala.senyum Alan terukir di kedua sudut bibirnya yang seksi.kakinya melangkah dengan perlahan mendekati wanita pujaannya yang mungkin tidak sadar dengan keberadaannya saat ini.
"selamat pagi" sapaannya membuat sang wanita mengalihkan pandangannya yang semula menatap televisi kemudian beralih menatap dirinya.
"hmm...pagi juga tuan" Shafira langsung beranjak dari duduknya saat melihat sang tuan yang berdiri tegap di hadapannya.
"bagaimana keadaanmu?sudah lebih baik? jika belum istirahat saja di dalam kamarmu" Alan bertanya dengan suara bass-nya sambil mendudukkan bokongnya di sofa berwarna putih itu.
"sudah jauh lebih baik sekarang tuan,......dan terimakasih untuk buburnya semalam,itu lumayan enak" Shafira menjawab dengan senyuman di bibirnya.melihat Alan yang duduk,Shafira juga mengikutinya.jadilah sekarang mereka duduk di sofa yang saling berhadapan.
Alan mengalihkan pandangannya saat mendengar ucapan Shafira.bagaimana tidak,perkataan Shafira secara tidak langsung memuji dirinya.Ahhh Alan rasanya ingin sekali berteriak karena saking senangnya.
"Tuan Alan kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Shafira yang keheranan melihat sang tuan senyum-senyum sendiri sedari tadi.
"ahhh..apa? saya tidak senyum...mungkin kamu salah lihat" jawabnya dengan santai,saking bahagianya Alan tidak sadar jika dirinya tersenyum.
Shafira menatap Alan dengan bingung, jelas-jelas beberapa detik yang lalu ia melihat sang tuan tersenyum sendiri dan kenapa sekarang Alan menyangkalnya.apa memang dirinya yang salah lihat?ahh tapi tidak,matanya masih sangat sehat,tidak mungkin ia salah lihat.hati dan pikiran Shafira tidak bisa bekerja sama sekarang.seakan lelah dengan hati dan pikirannya Shafira langsung memfokuskan pandangannya menonton televisi di hadapannya.menghiraukan Alan yang masih saja tersenyum lebar.
**************
Saat sinar matahari tepat berada di atas kepala,Alan masih saja sibuk berkutat dengan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya.sesekali matanya beralih menatap layar laptop yang juga berada di atas meja.tangannya juga sibuk membuka lembar demi lembar berkas itu dan kemudian membubuhkan tanda tangan di atasnya.tangan besar dan berotot itu juga sesekali menari di atas keyboard laptop,entah apa yang ia tulis.
__ADS_1
Hari ini sepertinya memang hari tersibuk bagi Alan,banyak berkas yang harus ia pelajari sebelum di tanda tangani.jika saat ini ada Shafira mungkin Alan tidak perlu lagi membacanya karena sebelum berkas itu di serahkan padanya maka Shafira akan terlebih dahulu mempelajarinya.jika ada yang bertanya di mana Shafira! tentu saja saat ini Shafira berada di rumah karena itu merupakan perintah dari Alan.
Flashback on
Saat selesai sarapan,Shafira baru saja ingin melangkahkan kakinya namun terhenti ketika mendengar ucapan dari Alan.
"Shafira hari ini kamu saya izinkan di rumah saja,pulihkan kembali tenaga dan pikiranmu" ucap Alan yang memutar badannya sehingga menghadap Shafira yang ada di belakangnya.
"Tuan itu tidak perlu,saya sudah sehat dan bertenaga" Shafira menyangkal ucapan Alan dengan mengatakan dirinya sudah sangat sehat.
"Tidak, itu sudah keputusan saya...jangan membantah" skakmat! Shafira tidak bisa lagi membantah ucapan Alan,sebenarnya ia senang jika mendapat cuti, tapi setelah di pikir-pikir mungkin nanti ia akan bosan di rumah sendirian yang sebesar ini walaupun ada para pelayan.tidak mungkin kan para pelayan menemaninya saja karena mereka disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.
"Baik tuan" dengan sangat berat hati Shafira mengiyakan perintah dari sang tuan.
flashback of
Masih sibuk dengan segala pekerjaan serta pikirannya yang sedari tadi memikirkan Shafira,Alan tidak sadar bahwa ia telah melewatkan jam makan siangnya.bahkan perutnya sedari tadi sudah meronta-ronta minta diisi.
Dengan perasaan dongkol,Alan menekan angka satu telepon kantor yang ada di atas mejanya dan langsung terhubung dengan Raffles.
"cepat kemari dan bawakan aku makan siang Raffles" ucap Alan dan tentu langsung diiyakan oleh orang di seberang telepon.
Setelah itu tak lama kemudian muncullah sosok Raffles yang tegas dan berwibawa.tangan kekarnya menenteng satu paper bag yang mungkin itu adalah pesanan dari sang tuan.
__ADS_1
"selamat siang tuan" sapaan Raffles tentu membuat sang tuan langsung mendongakkan kepalanya ke atas menatap sang bawahan yang berdiri tegak di depannya.
"hmmm" hanya deheman yang keluar dari mulut Alan dan kemudian ia langsung menutup laptop yang ada di atas mejanya.
Sang tuan langsung menyantap makanan yang di bawa Raffles dengan lahap,karena memang sedari tadi perutnya sudah berbunyi.Sedangkan Raffles hanya menatap Alan dengan tatapan yang sulit di baca.
Tak lama kemudian Alan menyelesaikan acara makannya,terlihat saat dirinya meminum segelas air putih kemudian membersihkan bibirnya dengan tisu.
"sudah selesai tuan?" tanya Raffles.
"......." tidak ada jawaban dari Alan,melainkan hanya tatapan yang ia berikan.tatapan itu seakan mengatakan dengan jelas bahwa ia sudah selesai makan dan Raffles dengan santainya bertanya.bukankah itu cukup untuk membuat seorang Alan terlihat sangat kesal.
"Bagaimana pekerjaanmu sejauh ini?" Alan bertanya dengan nada dinginnya dan tangan yang bersedekap di dada.
"pekerjaanku baik-baik saja" jawab Raffles dengan nada yang tak kalah dingin.
"ck...bukan itu yang ku maksud.Holmes...apa kau sudah mendapatkannya?" ujaran dari Alan tentu saja membuat Raffles langsung menatap Alan.
"cih...bilang dong dari tadi.Belum...aku belum mendapatkan pria tua itu,sepertinya di cukup baik dalam hal bersembunyi" jawab Raffles sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.sudah tahukan sebelumnya jika ruangan Alan memiliki sofa!tentu saja kalian(para readers) tahu.
"tidak usah terburu-buru,karena untuk menangkap mangsa kita harus bersikap tenang dan jangan tergesa-gesa.Biarkan saja pria tua itu menikmati sedikit sisa hidupnya sebelum ia mati di tanganku" ucap Alan dengan nada suara yang dingin.sedangkan Raffles menatap ngeri pada sang majikan.
Bersambung.
__ADS_1