
Saat ini,Shafira berada di dapur perusahaan khusus karyawan yang berada di lantai satu.setelah makanan tiba beberapa saat yang lalu,Shafira memang berniat untuk langsung meletakkan makanan ke atas piring agar ia bisa langsung menyajikannya untuk Alan nanti.
Saat Shafira tengah asik meletakkan semua makan ke atas piring yang ada di atas meja, tiba-tiba saja ia mendengar orang berbicara di balik sebuah pintu yang berada di sudut ruangan dan sedikit terbuka.dengan langkah yang perlahan Shafira mendekat ke arah pintu agar ia bisa mendengar dengan jelas dan sepertinya hanya ada dua orang di dalam ruangan itu,terdengar dari kedua suara yang berbeda.
"setelah ini apa yang harus kita lakukan?"
"sesuai yang di perintahkan,kita harus membunuhnya"
Shafira yang sedang menguping itu langsung menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"siapa yang akan mereka bunuh dan apa tujuan mereka membunuh orang itu?" batin Shafira dan masih banyak pertanyaan yang muncul di kepala Shafira saat ini dan Shafira masih tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia dengar.jika benar apa yang di dengarnya bahwa kedua orang itu ingin membunuh seseorang,maka dirinya harus mengehentikan niat jahat mereka.
Tidak ingin dirinya ketahuan,Shafira langsung keluar dari ruangan ini dan tidak lupa ia juga membawa makanan yang sudah ia siapkan.dengan perasaan takut dan gelisah Shafira berjalan dengan cepat, tidak peduli jika ia menabrak karyawan kantor yang berlalu lalang.
"Bu Shafira tunggu!!" Langkah Shafira terhenti saat tiba-tiba ia mendengar namanya di sebut oleh seseorang yang ada di belakangnya.kemudian dengan perlahan Shafira menolehkan badannya ke belakang dan dirinya langsung bernafas lega saat ia mengetahui orang yang memanggilnya adalah karyawan wanita yang ia kenal.
"iya,ada apa Desi?" tanya Shafira kepada wanita yang ada di hadapannya yang ternyata bernama Desi.
__ADS_1
"Begini buk,saya ingin meminta tanda tangan dari CEO tetapi saya tidak tahu harus menemuinya dimana" jelas wanita berambut coklat itu.
"Oh begitu ternyata....,jika kamu tidak keberatan berikan berkas itu pada saya dan saya yang akan meminta tanda tangan dari CEO" ucap Shafira yang menawarkan bantuan kepada Desi.
"Tentu, terimakasih buk Shafira" jawab Desi sambil memberikan sebuah map merah yang berisi berkas penting.kemudian Shafira mengambil berkas itu dengan tangan kanannya karena tangan kiri sedang memegang makan siang Alan.
"Tidak masalah.tolong tidak usah memanggilku dengan sebutan ibu segala,panggil dengan nama saja itu sudah cukup" ujar Shafira.
"Apa tidak malasah jika aku memanggilmu dengan nama saja? ibuk kan atasan saya bagaimana mungkin saya memanggil anda dengan nama saja" jawab Desi dengan raut wajah seriusnya.
"Tidak akan menjadi masalah jika hanya kita berdua" ucap Shafira dengan raut wajah yang tidak kalah seriusnya dari Desi.
"Baiklah Desi,aku terburu-buru sampai jumpa lagi" ucap Shafira dan kemudian ia pergi meninggalkan Desi sendiri di koridor ini.
**************
Tok Tok Tok
__ADS_1
"Tuan apa saya boleh masuk?" tanya Shafira yang masih berada di ambang pintu ruangan Alan.
"Masuklah" terdengar dari dalam ruangan,suara Alan yang menyuruh Shafira untuk masuk.setelah mendengar itu,Shafira langsung membuka pintu dengan siku tangan kanannya karena kedua tangan Shafira sedang memegang piring dan berkas penting.
"Dari mana saja kamu? ngambil makanan kok lama sekali" tanya Alan saat Shafira baru saja menginjakkan kakinya di depan meja kerja Alan.
"Maaf tuan,tadi saya ada keperluan sebentar" jawab Shafira dengan wajah yang menunduk,dirinya sengaja berbohong karena ia tidak mau membuat keributan jika ia mengatakan ada dua orang pria yang berniat jahat di perusahaan ini.
"Perut saya dari tadi sudah keroncongan akibat menunggu kamu yang terlalu lama mengambil makanan,padahal kamu hanya butuh waktu lima menit menggunakan lift untuk turun ke lantai satu" ucap Alan dengan mimik muka yang serius.
"Maaf tuan" jawab Shafira yang hanya bisa mengucapakan beribu kata maaf kepada Alan.sebenarnya ini memang salahnya yang terlalu lama berada di lantai satu padahal ia sudah janji dengan Alan bahwa ia tidak akan terlalu lama pergi.
"Kamu saya maafkan,asalkan kamu melakukan satu hal untuk saya" ucap Alan sambil ia mengerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan.
"apapun akan saya lakukan asalkan anda memaafkan saya tuan" jawab Shafira.
"Berhubungan dengan tangan saya yang terasa nyeri jadi saya tidak bisa makan dengan tangan sendiri,bisakah kamu menyuapi saya?" Shafira yang mendengar itu langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Alan dengan tatapan yang sangat dalam seolah-olah mencari keseriusan di manik mata Alan.
__ADS_1
Bersambung.