CINTA SANG CEO

CINTA SANG CEO
Episode 47


__ADS_3

Setelah mengatakan itu,Haris langsung melangkahkan kakinya yang diikuti juga oleh Raffles dan Richard untuk menuju sebuah pintu yang terletak di sudut ruangan.tangan Richard langsung bergerak untuk memutar kenop pintu dan membukanya.setelah pintu terbuka,terlihat suasana di dalam yang agak berantakan serta tercium bau anyir yang menyengat.


Haris diikuti Raffles dan Richard langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan dan terlihat di dalam jeruji besi yang terletak di tengah-tengah ruangan,dua orang pria yang badannya terikat di kursi kayu dengan posisi duduk di kursi serta keadaan yang tidak sadarkan diri alias pingsan.Raffles yang melihat itu tidak merasa kasihan sama sekali melainkan dirinya merasa senang dan hasrat di dalam dirinya bergejolak hebat.


"siram mereka dengan air dingin" titah Raffles dengan suaranya yang dingin dan tegas.


"Baik Bos" Richard yang mendengar titah dari Raffles langsung bergerak untuk mengambil air yang ada di dalam kamar mandi yang ada di sudut ruangan.tak lama kemudian Richard kembali dengan membawa seember air dan tanpa basa-basi lagi,langsung saja ia menyiram kedua pria yang tengah pingsan itu.


Dan tak lama kemudian kedua pria yang tengah pingsan itu perlahan-lahan membuka kedua matanya.mereka menatap ke sekeliling ruangan yang agak gelap ini,dan tanpa mereka sadari, sedari tadi mereka di tatap oleh Raffles dengan tatapan yang seakan mematikan.kedua pria itu saling tatap,mereka bingung dengan keadaan mereka yang terikat di kursi saat ini.


"siapa kalian? dan dimana kami?" teriak salah satu pria yang terikat dengan suaranya yang terdengar gelisah.

__ADS_1


"kalian tidak perlu tau siapa kami, karena sebentar lagi ajal akan menjemput kalian" ucap Haris dengan suaranya yang tegas.kemudian Haris perlahan melangkahkan kakinya menuju kedua pria yang terikat karena memang jarak mereka cukup jauh.setelah berada di tengah-tengah kedua pria yang terikat dengan posisi menghadap ke arah Raffles dan Richard,kedua tangan Haris tergerak untuk meraba wajah kedua pria itu.


"sungguh,kedua pria yang malang" ucap Haris yang seakan berbisik di telinga kedua pria itu.sedangkan kedua pria itu hanya menatap Haris dengan memohon karena mereka tau,bahwa nasib mereka berada di tangan Haris.


"aaah jangan menatapku dengan tatapan seperti itu,karena aku tidak akan peduli" seakan tau dengan ekspresi wajah kedua pria itu,Haris berbicara dengan nada yang dingin dan ditekan.setelah itu Haris melepaskan tangannya dari wajah kedua pria yang ada di samping kiri-kanannya saat ini.


Setelah cukup lama memperhatikan kegiatan Haris, Raffles yang semula diam langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Haris dan kedua pria yang terikat tak berdaya.Haris yang melihat Raffles mendekat langsung berpindah tempat dan langsung berdiri di samping kanan Raffles.sedangkan Richard tidak ada niat sama sekali untuk mendekat karena dirinya tau bahwa saat ini dirinya tidak perlu ikut campur dengan apa yang akan bosnya lakukan.


"kau tidak perlu tau siapa yang menyuruh kami,karena aku tidak akan memberitahu dirimu" jawab pria yang duduk terikat tak berdaya di kursi sebelah kanan.Raffles memang bisa berbahasa Indonesia sejak lama karena ini bukan yang pertama kalinya ia berada di negara yang berkembang ini,sebab itulah ia mengerti bagaimana berbicara yang baik dan benar.


"ahhh benarkah,kalau begitu bagaimana kalau aku memaksamu" ujar Raffles dengan nada suaranya yang tidak pernah berubah,melainkan suaranya itu membuat orang merinding.

__ADS_1


"sekeras apapun kau memaksaku,aku tetap tidak akan memberi tahumu" jawab pria yang sama.sedangkan pria satunya lagi hanya menyaksikan dan mendengarkan percakapan antara rekannya dan Raffles.


Dorr


karena geram dengan pria yang selalu membantahnya Raffles langsung melayangkan satu tembakan yang tepat mengenai bahu sebelah kanan pria itu.pria itu langsung meringis tak berdaya ketika bahunya terkena tembakan sedangkan satu pria rekannya kaget dengan apa yang baru saja terjadi.terapi tidak dengan Haris dan Richard,mereka sudah terbiasa dengan kepribadian Raffles yang tidak sabaran dan terkesan membahayakan.


"aku tanya sekali lagi,siapa yang menyuruh kalian?" Raffles kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama.tetapi yang namanya setia pada atasan tidak akan mudah membuka identitas atasannya,begitu juga dengan kedua pria ini mereka seakan tidak takut dengan kemarahan Raffles yang akan mereka terima.


"tembak saja kami berdua sampai mati,karena kami tidak akan memberitahu dirimu" jawab pria sebelah kiri yang belum di tembak.


"jangan terburu-buru,aku tidak akan membiarkan kalian terlalu cepat mati,karena aku akan menyiksa kalian terlebih dahulu" ujar Raffles disertai senyumannya yang menyeringai.kemudian setelah Raffles mengatakan itu, Richard mendekat sambil mendorong troli yang di atasnya ada beberapa alat bedah serta pisau yang sangat tajam.kedua pria yang terikat itu langsung bergidik saat melihat benda-benda yang sangat tajam itu.mereka tidak tau saja,bahwa permainan baru saja di mulai.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2