CINTA SANG CEO

CINTA SANG CEO
Episode 71


__ADS_3

Malam hari,ketika sang mentari tak terlihat lagi dan digantikan dengan bulan dan cahaya bintang.


terlihat Shafira terbaring di atas brankar dengan selang infus di tangannya.perlahan mata gadis itu terbuka,bulu mata lentiknya berkedip mengikuti gerakan mata indah itu.


Sedangkan Aaron yang saat ini duduk di sofa yang tak jauh dari tempat Shafira,langsung bergegas menghampirinya.ia terkejut bukan main,lantaran ini sangat jauh dari perkiraan Dokter.ia masih ingat betul bahwa dokter mengatakan bahwa pasien mungkin koma lebih lama,namun ini belum genap satu Minggu dan gadis ini sudah bangun dari komanya.


"hei...... apa ada yang sakit? katakan padaku jika kau merasa sakit" ujar Aaron dengan suara lembutnya.


"a-air......." satu kalimat yang terucap dari bibir gadis itu dan itu membuat Aaron sadar bahwa saat ini gadis itu ingin minum.tangan kekarnya langsung menjangkau segelas air putih yang ada di atas nakas samping tempat tidur Shafira dan membantu Shafira meminumnya.


Setelah itu Aaron langsung menekan tombol yang ada di dinding untuk memanggil dokter atau perawat yang bertugas.


Sedangkan Shafira menutup matanya kembali,saat ini kepalanya terasa sangat pusing.ia bahkan tak sanggup untuk membuka matanya.ia hanya ingin beristirahat untuk saat ini,seluruh badannya terasa sangat sakit,tangan maupun kakinya sulit untuk di gerakkan, mungkin ini efek dari tidur panjangnya.


Tak lama kemudian,terlihat seorang dokter paruh baya muncul dari balik pintu bersama seorang perawat di belakangnya.melihat pasiennya sudah siuman ia sangat senang,ini anugerah baginya.kemudian ia bergegas memeriksa sang pasien.


"Ini sangat luar biasa...... kondisi pasien sudah membaik,hanya butuh pemulihan sebentar lagi.mungkin besok pasien sudah bisa pulang" Dokter paruh baya itu sangat terkejut.ia sama sekali tidak menyangka bahwa pasiennya siuman secepat ini.sungguh anugerah yang luar biasa,pikirnya.


Mendengar ucapan sang dokter,Aaron menghela nafas lega.


"Terimakasih dokter" ucapnya dan kemudian dokter paruh baya keluar bersama dengan sang perawat.


Shafira yang mendengar itu juga merasa lega,setidaknya untuk saat ini ia hanya perlu beristirahat.Namun pikirannya kembali teringat pada kejadian malam itu,ya malam saat ia mencoba kabur dari mansion "pria" itu dan berakhir dengan kecelakaan tragis.


"hei....... apa kau bisa mendengarku?" alam sadarnya kembali saat seorang pria berbicara padanya.


"ha...... apa...... kau berbicara padaku? bukannya ia tak mendengar namun Shafira hanya memastikan bahwa sosok pria di sampingnya ini benar-benar berbicara padanya atau bukan.


"iya... aku bicara denganmu..... memangnya siapa lagi di ruangan ini jika bukan dirimu dan aku?" pertanyaan dari Aaron sontak membuat Shafira menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri,mencoba mencari orang lain di ruangan ini namun ia tak menemukan siapapun kecuali pria di sampingnya dan dirinya sendiri.


"oh ya.... aku tidak menemukan kartu identitas mu...... karena itu aku tidak bisa menghubungi keluargamu.kalau boleh tahu,kau tinggal di mana? jika kau memberitahuku,aku bisa mengantarmu pulang" tanya Aaron pada Shafira.


Shafira bingung ingin menjawab apa,ia tidak ingin berurusan dengan pamannya lagi,ia juga tidak mau bertemu dengan Alan lagi.jika ia menghubungi Raffles maka otomatis Alan juga akan menemukannya.


"hei........ melamun lagi?" Aaron sangat bingung dengan wanita di hadapannya ini.suka melamun dan sedikit pendiam,setidaknya itulah yang dipikirkannya mengenai karakter Shafira.


"Aku........ aku tidak punya keluarga lagi" Aaron yang mendengarnya hanya terdiam,alisnya terangkat sebelah seolah mengerti dengan keadaan Shafira.

__ADS_1


"ahhh.....ekhem..... aku baru ingat kita belum berkenalan,perkenalkan namaku Aaron dan siapa namamu?" ujarnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan kanannya.


"a-aku..... namaku Shafira" jawab Shafira sambil menjabat uluran tangan Aaron.


"ohhhh baiklah Shafira,sekarang kau beristirahatlah.aku akan keluar sebentar" Shafira mengangguk saat mendengar ucapan Aaron. saat ini ia memang membutuhkan privasi,setidaknya agar ia bisa lebih tenang.


Setelah melihat anggukan kepala dari Shafira, Aaron langsung bergegas keluar dari ruangan.


**************


Sedangkan saat ini Alan tengah duduk di sofa dengan gelisah menunggu kabar dari Raffles. seharian sudah Raffles mencari di seluruh rumah sakit yang ada di kota ini,namun belum ada kabar sama sekali darinya.


Alan sangat khawatir dengan keadaan Shafira.ia tidak tahu bagaimana keadaan Shafira saat ini,melihat apa yang terjadi dalam video tempo lalu membuat Alan sangat tertekan.ia tidak bisa membayangkan keadaan Shafira saat ini mengingat betapa tragisnya kecelakaan yang terjadi dalam video itu.


Lamunan Alan buyar ketika handphonenya berbunyi sebagai pertanda ada yang menghubunginya.langsung saja Alan bergegas mengambil handphonenya yang ada di atas tempat tidurnya.ia langsung menggeser tombol hijau saat tau siapa yang menghubunginya.


"Apa kau sudah menemukannya? bagaimana keadaannya? dimana dia sekarang!" pertanyaan beruntun itu ia lontarkan pada orang di seberang telepon.


"Maaf tuan..... saya belum berhasil menemukannya.ada satu rumah sakit lagi yang tersisa dan kami dalam perjalanan kesana" ucap orang di seberang telepon.


"Baiklah tuan......."


Tut Tut Tut


Alan langsung mematikan sambungan teleponnya.untuk saat ini ia ingin sendiri.belum genap satu Minggu Shafira menghilang namun ia saat ini ia kehilangan nafsunya.makan hanya sedikit,pekerjaan pun tidak bisa ia selesaikan,beruntung Raffles sudah merekrut direktur baru yang bisa di andalkan.sehingga perusahaan tidak terbengkalai.


***************


Sedangkan di sebuah rumah sakit,rombongan Raffles baru saja tiba menggunakan lima buah mobil yang beriringan.


Kedatangan mereka tentu saja menyita perhatian semua orang.perawat,pasien maupun orang yang berkunjung di rumah sakit seakan terpanah saat melihat Raffles turun dari mobil dengan para bodyguard yang berbadan kekar yang juga turun dari dalam mobil.


Tanpa berlama-lama Raffles langsung memberi kode kepada para bawahannya untuk memeriksa di setiap sudut rumah sakit.melihat itu semua pria berbadan kekar itu langsung berpencar mencari "Nyonya" mereka.


Sedangkan Raffles langsung menghampiri resepsionis yang bertugas.


"Permisi,apa di rumah sakit ini ada pasien yang bernama Shafira?" ucapnya bertanya pada seorang wanita yang bertugas di bagian resepsionis itu.

__ADS_1


Sedangkan wanita itu langsung terperangah saat melihat ketampanan Raffles. matanya melotot dengan bibir terbuka, terperangah melihat Raffles yang bak dewa itu.


"hei....... saya berbicara dengan anda.apa anda mendengar ucapan saya?" melihat wanita di depannya ini diam saja,lantas membuat Raffles merasa geram.namun ia tahan demi sebuah informasi.


"ha.... iya tuan.... sebentar saya akan mencari datanya" akhirnya wanita itu terbebas dari rasa kagumnya ketika mendengar nada dingin dari Raffles.lantas bergegas ia melihat komputer yang ada di hadapannya guna mencari data seseorang yang bernama Shafira.


Tak lama kemudian wanita itu menemukan apa yang ia cari,dan langsung mendongak menatap wajah tampan Raffles seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Apa benar namanya Shafira?" Raffles yang mendengar itu langsung menganggukkan kepalanya.


"Ya benar...... namanya Shafira. di ruangan berapa dia?" ucap Raffles yang bertanya dengan tidak sabaran.


"Maaf sebelumnya tuan,tapi pasien yang atas nama Shafira sudah pulang dengan keluarganya beberapa saat yang lalu"


"Sudah pulang?" bagai tersengat listrik,tubuhnya tegang seketika.berarti Shafira memang ada di rumah sakit ini.tapi yang membuat ia bingung adalah siapa keluarga yang membawa Shafira pergi.


"iya tuan...." jawab wanita itu dengan menatap Raffles.


"Baiklah terimakasih" ucap Raffles dan kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan sang resepsionis yang terperangah.


Setelah ia berada di parkiran rumah sakit dan langsung masuk ke dalam mobilnya.Raffles merogoh saku celananya dan mengambil handphonenya.kemudian ia menghubungi salah satu bawahannya.


"periksa cctv yang ada di dalam rumah sakit dan tempat parkiran.nyonya Shafira di rawat di rumah sakit ini sebelumnya namun ia sudah bawa oleh seseorang,lihat cctv dan temukan orang itu dan kirim file cctv itu padaku,cepat aku menunggu kalian di mobil" ucapnya memberi titah pada bawahannya.


"Baik Bos.." jawab orang di seberang telepon.


Tut Tut Tut


kemudian Raffles mematikan sambungan telepon itu.saat ini dirinya benar-benar di Landa kebingungan.Shafira di bawa oleh seseorang yang bahkan ia tidak tahu siapa orang itu.Namun ia tidak menyerah,demi Sang Tuan ia akan melakukan apapun,apalagi dengan terkumpulnya petunjuk yang ia dapat dari rumah sakit akan mempermudah pencariannya.


Bersambung.


Hay guys author kembali👋👋


Maaf lama update soalnya terkendala dengan tugas yang numpuk dan Kouta internet pastinya🤭


Happy Reading guys🖤

__ADS_1


__ADS_2