
Di sebuah ruangan terlihat Shafira yang terbaring di atas ranjang dan seorang dokter pria yang sedang memeriksa keadaannya.sedangkan Alan dan Raffles hanya mengamatinya sambil berdiri tidak jauh dari ranjang.
Setelah memeriksa tekanan darah pada Shafira,dokter Zendy langsung mengeluarkan stetoskopnya untuk memeriksa detak jantung Shafira dengan sedikit menempelkan stetoskopnya di dada Shafira. Alan yang melihat itu langsung mendekat ke arah dokter Zendy dan langsung menarik tangan dokter itu agar menjauh dari Shafira.dokter Zendy sedikit terkejut dengan reaksi tiba-tiba dari Alan yang menariknya menjauhi Shafira.
"apa yang kau lakukan! apakah seperti itu pekerjaan seorang dokter?ahh tidak bisa di percaya" rasa khawatirnya terhadap Shafira saat ini hilang dan digantikan dengan rasa amarah yang mendominasi.apa pekerjaan seorang dokter harus seperti ini? tidak bisakah sopan sedikit kepada seorang wanita,apalagi ini wanita Islam yang berhijab.walupun ia tidak mengerti dengan agama Islam tapi setidaknya Alan sangat menghormati wanita apalagi wanita ini juga yang telah mengambil hatinya.
"....." dokter Zendy sangat terkejut dengan ucapan Alan,bukankah ini memang pekerjaan dokter!memeriksa pasien yang sedang sakit,lalu di mana letak kesalahannya sebagai dokter?
"kenapa kau tidak menjawab dokter?kenapa kau harus memeriksa di bagian itu,bukankah itu termasuk melecehkan seorang wanita!" tanya Alan pada dokter Zendy dengan nada suara yang sedikit meninggi.
"Tuan Alan tolong tenanglah" ujar dokter Zendy dengan senyumannya yang tidak pernah pudar.
"saya akan menjelaskannya" ucap dokter Zendy lagi.masih dengan senyuman yang sama ia menarik nafasnya perlahan terlebih dahulu sebelum menjelaskan kepada Alan.
"Pekerjaan seorang dokter memang seperti itu tuan,jika saya tidak melakukannya bagaimana bisa saya mengetahui detak jantung nona Shafira bekerja dengan baik atau tidak dan itu bukanlah pelecehan terhadap wanita tuan,karena saya mengerti aturan agama kami" penjelasan dari dokter Zendy berhasil membungkam Alan,sedangkan Raffles yang sedari tadi menyimak hanya diam dan tidak berniat untuk menyela ucapan antara Alan dan Zendy.
"ahh seperti itu" ucapan yang keluar dari mulut Alan bukanlah karena ia mengerti dengan penjelasan Zendy melainkan ucapan itu hanya untuk menutupi rasa malunya terhadap dokter itu.
__ADS_1
"sebenarnya nona Shafira tidak apa-apa,ia hanya sedikit stres yang mengakibatkan nona Shafira tidak bernafsu makan dan itu sangat berpengaruh pada energi di dalam tubuhnya.setelah nona Shafira siuman pastikan ia mengkonsumsi makanan yang bergizi sebelum meminum obat yang saya berikan" ucap dokter Zendy sambil tangannya menyodorkan beberapa obat yang sebelumnya ia ambil di dalam tas kerjanya.
"terimakasih dokter" ucap Alan sambil menerima obat dari tangan Zendy.
"kalau begitu saya permisi" ucap dokter Zendy yang berpamitan pada Alan .
"biar saya antar ke depan dokter" Raffles langsung menawarkan untuk menemani dokter Zendy keluar.sebelum keluar dokter Zendy terlebih dahulu membungkukkan badannya dan kemudian ia berjalan menuju pintu diikuti oleh Raffles.
Sedangkan Alan hanya menatap kepergian dua orang pria itu sampai punggungnya tidak terlihat lagi.kemudian Alan berjalan menuju Shafira yang tengah berbaring di atas ranjang dengan mata yang masih tertutup.kemudian Alan meletakkan obat yang di berikan dokter Zendy padanya beberapa saat yang lalu di atas nakas samping tempat tidur.ia sempat menatap wajah Shafira sedikit lama sebelum akhirnya ia memutuskan untuk keluar karena takut menganggu kenyamanan Shafira.
Di ruang tamu,saat ini Alan dan Raffles tengah duduk di sofa yang berhadapan.lama mereka terdiam sebelum akhirnya Raffles mengeluarkan suara.
"apa rencana anda selanjutnya tuan?" tanya Raffles pada Alan.
"entahlah,untuk sementara ini awasi terus markas Holmes,pria itu pasti tidak akan tinggal diam melihat hotel GRENUSA semakin berjaya" ucap Alan.
"bukan itu yang aku maksud" ujar Raffles dengan nada dinginnya yang tentu saja membuat Alan langsung menatapnya dengan intens.
__ADS_1
"lalu,masalah mana yang kau bahas?" jawab Alan dengan suaranya yang santai.
"tentu saja masalah percintaanmu dengan nona Shafira,tuan Alan. apa yang akan kau lakukan setelah kekacauan ini?" tanya Raffles,tentu dengan suara dinginnya yang khas.
"......" Alan terdiam seribu bahasa,ia tidak bisa menjawab pertanyaan Raffles yang ini.ia bahkan tidak tau bagaimana perasaan Shafira kepadanya,apakah Shafira mencintainya? tentu saja Alan tidak tau.tetapi Alan akan memperjuangkan cintanya itu,tidak peduli dengan cara apa yang penting ia bisa mendapatkan apa yang ia mau.yah,tentu saja Alan akan melakukan itu.
"kalian berbeda negara,kalian berbeda agama,dan masih banyak lagi perbedaan kalian tuan.apakah masih yakin ingin melanjutkan?" ujar Raffles.
"tentu aku akan melanjutkannya,apapun caranya,termasuk dengan berbohong padanya" ucap Alan dengan sangat yakin apa yang ia lakukan adalah hal yang benar.
"berbohong? berbohong untuk apa?" wajarkah jika Raffles curiga dengan atasannya sendiri,sebenarnya apa yang di rencanakan Alan? ahh ini sangat membingungkan dan penuh dengan teka-teki yang rumit.masalah satu belum selesai dan sekarang,masalah lainnya timbul tidak ada habisnya.
"kau akan tau nanti,terlalu panjang untuk menjelaskannya sekarang,lakukan saja apa yang aku perintahkan" dengan wajah yang sangat yakin,Alan menyandarkan tubuhnya ke sofa yang ia duduki.apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan apa yang ia mau,bagaimanapun caranya.
Bersambung.
HAPPY READING 🖤
__ADS_1