CINTA SANG CEO

CINTA SANG CEO
Episode 70


__ADS_3

Ketika sinar matahari tepat di atas kepala.sinarnya yang terang menerangi seluruh isi bumi.membuat siapa saja yang berada di luar ruangan merasakan hangatnya sang mentari.


Di ruangannya,Alan berdiri menatap indahnya kota metropolitan dari dinding ruangan yang terbuat dari kaca.begitu indahnya kota ini,pikirnya.


Namun di satu sisi Alan juga merasa sedih dan kecewa,lantaran Sang pujaan hati hilang entah kemana.Bagai di telan bumi,Shafira belum juga di temukan.


Segala upaya telah ia lakukan untuk menemukan Shafira.semua anak buah Raffles sudah di kerahkan sebanyak mungkin.Namun sampai saat ini belum ada kabar dari Raffles maupun anak buahnya.


Tok Tok Tok


Lamunan Alan buyar ketika telinganya mendengar suara ketukan pintu.Alan hanya diam,sama sekali tidak berniat mengeluarkan ataupun menoleh ke arah pintu.dirinya terus menatap pemandangan kota yang banyak berdiri gedung-gedung tinggi dan mewah.


"Selamat siang Tuan" suara yang sangat di kenalnya menyapa dirinya.Alan tahu bahwa saat ini yang tengah berdiri di belakang dan menyapa dirinya adalah Raffles.


"hmmm...... apa yang ingin kau katakan Raffles...... jika itu bukan tentang Shafira maka aku tidak akan mendengarnya" kalimat itu keluar dari bibir Alan. dapat Raffles simpulkan bahwa saat ini Sang Tuan tidaklah bersemangat sama sekali.suara itu tidaklah seperti biasanya,kali ini terdengar sangat lemah dan putus asa.


Raffles sangat tahu sifat Alan.bertahun-tahun ia mengabdi pada Sang Tuan,namun baru kali ini ia mendengar suara lemah itu.lemah bagaikan tak berdaya,ibarat langit yang kehilangan senjanya,redup tak bercahaya.


"Tuan...... ini tentang nona Shafira" kalimat yang terucap dari bibir Raffles seakan membawa kembali setitik cahaya itu.membawa harapan bagi sang Surya.


"........." Tidak ada jawaban dari Sang Tuan,maka dengan segenap jiwa dan raga Raffles melanjutkan kembali ucapannya.


"cctv di sepanjang jalan ibu kota hilang tak ada bekas,seperti ada yang sengaja memblokirnya.Namun walau begitu kami terus mencari,hingga bawahanku yang berprofesi sebagai hacker mendapatkan salah satu video yang di unggah salah satu akun media sosial" sejak awal perkataan Raffles,Alan sudah tersulut emosi,namun saat mendengar kalimat terakhir Raffles ia jadi penasaran apa maksud Raffles mengatakan ini padanya.


"Video apa yang kau maksud Raffles?" tanyanya pada Raffles. Alan sangat yakin video ini pasti berhubungan dengan Shafira,kalau tidak Raffles tidak akan mungkin mengatakan ini padanya.


Raffles mengutak-atik iPad berlogo apel yang ia bawa,setelah menemukan apa yang ia cari Raffles langsung berjalan mendekat ke arah Alan dan menyerahkan iPad itu.

__ADS_1


Dengan wajah yang bertanya dan mata yang menatap manik mata Raffles berniat mencari keseriusan di wajah itu.tangan panjangnya terulur menerima apa yang Raffles berikan padanya.mata indah yang semula menatap mata Raffles beralih menatap layar iPad di tangannya.


Di layar itu tampak sebuah video yang menunjukkan seorang gadis yang berjalan sendirian di tengah hujan yang deras tanpa payung yang melindungi tubuh kecilnya.gadis itu terus berjalan seakan tidak menghiraukan tubuhnya yang sudah basah kuyup.Namun tak lama kemudian tiba-tiba sebuah mobil Ferrari melaju kencang ke arah gadis itu dan terjadilah tabrakan yang cukup keras.seketika itu layar mati seketika,cuplikan video itu terjadi begitu cepat.


Alan terdiam melihat video itu, ia menyangkal pikiran kotornya jauh-jauh.gadis itu bukan Shafira kan? pasti bukan, tidak mungkin gadisnya mengalami kecelakaan yang mengerikan itu,iya kan? hahaha ini konyol,pikir Alan.


Melihat Alan yang diam tak bergerak sama sekali,membuat Raffles merasa bersalah.jika bukan karena kelalaian para bawahannya yang berjaga di mansion,pasti tidak akan terjadi hal ini.tapi semua sudah takdir,takdir yang tidak bisa di ubah.


"Raffles..... katakan padaku..... itu bukan Shafira kan? itu bukan gadisku kan? RAFFLES KENAPA KAU DIAM SAJA! BICARA PADAKU!!" Alan berteriak dengan kencang.setetes air jatuh dari pelupuk mata Alan.bibirnya mengatakan bahwa itu bukan Shafira, namun pirasat-nya mengatakan yang sebaliknya.


Sedangkan Raffles hanya bisa diam,ia tidak bisa berkata-kata lagi.melihat Sang Tuan yang mengeluarkan air mata,hatinya juga ikut sedih.dirinya terus merasa bersalah,bahkan untuk menatap wajah Sang Tuan saja ia tidak berani.


"Tuan..... ini memang salahku..... hukum saja aku.jika aku tidak lalai dalam bekerja mungkin ini tidak akan pernah terjadi" kata penyesalan pun keluar dari bibir Raffles.semua ini memang salahnya,ia pantas untuk di hukum.bahkan jika Alan merenggut nyawanya sekarang,maka ia akan dengan senang hati menerima itu.


"haaaaa..... tidak ada gunanya menghukummu. lebih baik sekarang kau cari Shafira di seluruh rumah sakit yang ada di kota ini.....bahkan jika perlu periksa seluruh rumah sakit di negara ini.jangan harap kembali jika Shafira belum di temukan" titah Alan penuh penekanan terhadap Raffles. Alan tidak bisa menyalahkan siapapun atas kejadian ini.emosi pun tak akan bisa menyelesaikan masalah.beruntung dirinya di ciptakan dengan pemikiran yang dingin,sehingga ia bisa mengontrol emosi.


"Raffles...... aku sangat mempercayaimu.kau sahabatku sekaligus kakak bagiku...... bagaimana mungkin aku menghukummu jika Daddy dan Mommy saja sangat menyayangi mu" Alan berkata dengan penuh kelembutan,tidak lagi di penuhi emosi seperti beberapa saat yang lalu.ya,memang benar selama ini Raffles selalu berada di sisinya.bahkan Raffles menjelma menjadi sosok kakak yang selalu mendukung dirinya.


Alan menghela nafas panjang,sebelum melanjutkan kembali ucapannya.


"Tolong cari Shafira untukku..... " lanjut Alan dengan mata yang menatap penuh harap pada Raffles.


"Aku akan mencarinya untukmu..... tunggu sampai aku membawanya kembali" jawab Raffles dengan penuh tekad.ia akan melakukan apapun asalkan Alan bahagia.selama ini hanya Alan, Daddy dan Mommy lah yang menjadi keluarganya.maka dari itu ia akan mengabdi dengan penuh suka cita terhadap keluarga ini.


**************


Sedangkan di rumah sakit,tepatnya di dalam ruang perawatan.seorang gadis terbaring lemah di atas brankar rumah sakit.

__ADS_1


Saat ini,Shafira terlihat sangat memprihatinkan.selang infus dan alat bantu pernapasan terpasang di tubuhnya.


Sedangkan di sisi ranjang,terlihat Aaron duduk dengan tenang.tapi walaupun begitu,jauh di lubuk hatinya ia khawatir dan merasa bersalah.saat ini ia hanya ingin gadis di depannya ini segara sadar.


Aaron memang dari keluarga terpandang,maka dari itu ia bisa menyewa ruang perawatan selengkap ini.ruangan dengan sebuah televisi,lemari,kamar mandi bahkan memiliki sebuah dapur kecil di sudut ruangan,sangatlah mewah.


Namun untuk saat ini,harta tidaklah sebanding dengan nyawa seseorang.ia melihat ke arah Shafira sekilas lalu kembali menatap langit-langit kamar.Aaron tidak tahu harus menghubungi siapa,bahkan keluarga gadis ini saja ia tidak tahu.


Untuk saat ini,ia hanya berharap agar keberuntungan masih berpihak padanya.Aaron akan melakukan apapun untuk kesembuhan gadis ini.bahkan jika harus mengorbankan seluruh harta dan nyawanya maka akan dengan senang hati ia lakukan.


Tok Tok Tok


Lamunannya buyar ketika telinganya mendengar suara ketukan pintu.Tak lama kemudian masuklah seorang pria yang mungkin umurnya tidak berbeda jauh darinya.


"Tuan anda memanggil saya" ucap laki-laki itu.sebelum masuk ke ruangan ini,Aaron memang terlebih dahulu memanggil pria ini lewat sambungan telepon.


"hmmm..... cari tahu identitas gadis ini.aku mau besok pagi semua sudah ada di sini" titah Aaron dengan suara yang penuh penekanan.


"Baiklah....akan saya laksanakan Tuan" jawab pria yang dihadapannya.


"aku serahkan padamu Jastin" ujar Aaron pada pria yang di hadapannya yang ternyata bernama Jastin itu.


"Baik... saya permisi" setelah mengatakan itu dan membungkukkan badannya sedikit Jastin berlalu dari hadapan Aaron.


Siapa wanita ini? pertanyaan itu selalu muncul di pikiran Aaron. ia sangat penasaran dengan wanita yang sedang terbaring lemah di hadapannya ini.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2