
Jauh di dalam hutan dan pemukiman warga,terlihat sebuah rumah tua yang tampak tak berpenghuni.rumah yang sudah usang itu terlihat menyeramkan dan sunyi,sebuah pohon besar tampak berdiri kokoh di depan rumah itu.dengan gerbangnya yang terlihat sudah berkarat dan di kelilingi rumput-rumput liar serta pohon-pohon yang besar.
Semua orang yang melihat rumah ini mungkin akan lari terbirit-birit lantaran suasana di sekitar rumah sangat mencekam di tambah letak rumah ini berada jauh di dalam hutan.menyeramkan,mencekam,serta sunyi,itulah gambaran suasana di sekitar rumah yang tak berpenghuni ini.terlihat sebuah mobil Ferrari berwarna hitam melaju dengan kecepatan sedang masuk ke halaman rumah tua itu dan tak lama kemudian turunlah sosok pria yang tampan dengan raut wajah yang dingin.ya,pria itu adalah Raffles sekretaris sekaligus sahabat Alan.Raffles yang baru saja turun dari mobil langsung disambut dengan dua orang pria kekar yang keluar dari dalam rumah.
"selamat datang tuan" sapa dua orang pria kekar dengan sedikit membungkukkan badan pertanda hormat pada atasannya.sedangkan Raffles hanya menganggukkan kepalanya tanpa ekspresi.
"silahkan tuan" ucap salah satu pria yang menyuruh Raffles untuk masuk terlebih dahulu sedangkan pria satunya bertugas untuk memasukkan mobil Raffles ke dalam bagasi rumah yang tertutup rapat.
Raffles langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.jika dari luar rumah ini nampak tak berpenghuni,lain halnya jika di dalam,rumah yang berlantai dua ini tampak mewah dan elegan dengan setiap sudut rumah terdapat banyak barang antik dan hiasan dinding yang bermerek terkenal.Raffles memang sudah tahu seluk beluk rumah ini lantaran ini bukan pertama kalinya ia ke sini,karena rumah ini memang markasnya ketika ia berada di Indonesia.
Dengan langkahnya yang santai, Raffles melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan bawah tanah yang sangat berbeda dengan ruangan lainnya.Raffles langsung menuju lift yang ada di sudut berdampingan dengan anak tangga karena memang untuk menuju ruangan bawah tanah Raffles harus menaiki lift terlebih dahulu.
__ADS_1
Raffles langsung masuk ke dalam lift kaca setelah pintu lift terbuka diikuti juga pria kekar di belakangnya.setelah mereka berdua masuk,pria yang ikut dengan Raffles langsung menekan tombol tanda panah ke bawah yang mana lift akan membawa mereka ke ruangan bawah tanah.lift ini memang mempunyai dua kegunaan yang mana bisa bergerak ke atas untuk menuju lantai dua dan bergerak ke bawah menuju ruangan bawah tanah.
"bagaimana keadaan dua orang itu Richard?" dengan pandangan yang tetap fokus ke depan, Raffles bertanya kepada bawahannya yang ternyata bernama Richard itu.
"kedua pria itu masih belum sadar dari pingsannya Bos" jawab Richard.
"cihh menyebalkan,jika masih belum sadar juga siram kedua pria itu dengan air dingin" titah Raffles kepada bawahannya.
Tak lama setelah perbincangan mereka,pintu lift kembali terbuka pertanda bahwa mereka telah sampai di ruangan bawah tanah.setelah itu, Raffles dan Richard langsung keluar dari lift dan melangkahkan kaki menyusuri lorong yang redup serta pengap,sangat berbeda dengan lantai atas.lorong yang memiliki cahaya redup ini sangat mencekam dan mistis,lorong ini hanya mempunyai satu ruangan yang ada di ujung lorong.
Richard langsung membukakan pintu saat mereka telah tiba di depan sebuah ruangan.setelah pintu terbuka lebar,barulah Raffles masuk ke dalam dan dirinya langsung di sambut oleh beberapa pria berbadan kekar di dalam ruangan ini.seperti suasana di lorong,ruangan ini juga diterangi dengan lampu yang redup serta suasana yang agak mencekam lantaran semua pria berbadan kekar mempunyai raut wajah yang mematikan.Raffles menghentikan langkahnya tepat di depan seorang pria yang berdiri menunggu kedatangannya.
"selamat datang di markas Bos,setelah sekian lama akhirnya anda datang mengunjungi kami" ucap pria yang di depan Raffles dengan nadanya yang dingin persis seperti Raffles.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu Haris?" tanya Raffles kepada pria yang berdiri tepat di depannya yang ternyata bernama Haris.
"sangat baik setelah melihatmu Bos" jawab Haris dengan kedua sudut bibirnya yang terangkat ke atas.
"sudahi bercanda mu dan katakan padaku, dimana kedua pria itu!" tanya Raffles yang kembali ke dalam mode dinginnya.
"ikuti aku" ucap Haris yang juga kembali ke dalam mode dinginnya.
Setelah mengatakan itu,Haris langsung melangkahkan kakinya yang diikuti juga oleh Raffles dan Richard untuk menuju sebuah pintu yang terletak di sudut ruangan.tangan Richard langsung bergerak untuk memutar kenop pintu dan membukanya.setelah pintu terbuka,terlihat suasana di dalam yang agak berantakan serta tercium bau anyir yang menyengat.
Haris diikuti Raffles dan Richard langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan dan terlihat di dalam jeruji besi yang terletak di tengah-tengah ruangan,dua orang pria yang badannya terikat di kursi kayu dengan posisi duduk di kursi serta keadaan yang tidak sadarkan diri alias pingsan.Raffles yang melihat itu tidak merasa kasihan sama sekali melainkan dirinya merasa senang dan hasrat di dalam dirinya bergejolak hebat.
Bersambung.
__ADS_1