
"Kamu saya maafkan,asalkan kamu melakukan satu hal untuk saya" ucap Alan sambil ia mengerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan.
"apapun akan saya lakukan asalkan anda memaafkan saya tuan" jawab Shafira.
"Berhubungan dengan tangan saya yang terasa nyeri jadi saya tidak bisa makan dengan tangan sendiri,bisakah kamu menyuapi saya?" Shafira yang mendengar itu langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Alan dengan tatapan yang sangat dalam seolah-olah mencari keseriusan di manik mata Alan.
Namun di mata itu memang menyiratkan keseriusan yang sangat dalam.
"Apakah anda serius tuan?" tanya Shafira dengan suaranya yang kecil seakan berbisik namun telinga Alan masih bisa mendengarnya.
"Tentu saja,apakah saya terlihat bercanda sekarang" jawab Alan dengan sudut bibirnya yang sedikit tersenyum.
"Baiklah tuan" ucap Shafira dan kemudian ia duduk di kursi yang memang tersedia di tempatnya berdiri dan itu berhadapan dengan Alan yang hanya terhalang meja saja.kemudian dengan perlahan Shafira mengarahkan satu sendok nasi yang ada di tangannya ke mulut Alan.sedangkan Alan yang melihat itu langsung mendekatkan wajahnya ke tangan Shafira dengan bibirnya yang sudah siap menerima suapan dari Shafira dan matanya yang terus menatap wajah asisten pribadinya itu.Shafira yang di tatap Alan dengan tatapan seperti itu langsung salah tingkah dan memang di saat seperti ini wajah mereka agak berdekatan yang tambah membuat wajah Shafira maupun Alan memerah seperti kepiting rebus. adegan itu terjadi sampai ke suapan terakhir yang di berikan oleh Shafira ke pada Alan.
__ADS_1
**********
Tidak terasa,sinar matahari telah di gantikan dengan sinar bulan dan bintang yang membuat suasana malam menjadi sangat indah bagi orang-orang yang menyukai malam.
Malam ini Alan, Raffles maupun Shafira harus pulang larut malam di karenakan mereka harus menyelesaikan pekerjaan yang sangat penting.terlihat di meja kerjanya, Alan yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan kemudian ia meregangkan otot-otot tangannya yang terasa sedikit nyeri.kemudian matanya melirik jam yang ada di tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.setelah itu mata Alan beralih ke arah Shafira yang masih sibuk dengan komputer yang ada di hadapannya.
Alan meraih handphonenya yang ada di atas mejanya yang tidak jauh dari berkas-berkas penting.kemudian terlihat Alan yang menghubungi seseorang lewat handphonenya.
"Cepat kemari Raffles" titah Alan pada Raffles yang ada di seberang telepon agar Raffles cepat mendatanginya.kemudian setelah mendengar jawaban dari Raffles, Alan langsung mematikan teleponnya.
"Baik tuan" sedangkan Shafira yang mendengar itu langsung mematikan komputernya dan segera membereskan barang-barangnya.
**********
__ADS_1
Saat ini Alan, Raffles dan Shafira sedang berjalan di basement perusahaan untuk menuju mobil mereka.di basement ini tidak ada orang sama sekali, hanya ada mereka bertiga saja.
Suasana tampak sepi dan sunyi,tidak ada pembicaraan sama sekali.mereka bertiga hanya diam dan tetap berjalan dengan kecepatan sedang.namun tiba-tiba Shafira berhenti karena telapak kakinya terasa sedikit sakit tetapi Alan maupun Raffles tidak menyadari bahwa Shafira berhenti dan tertinggal di belakang.Alan dan Raffles tetap berjalan meninggalkan Shafira yang tertinggal.
Shafira berhenti untuk melihat apa penyebab kakinya bisa sesakit ini dan ternyata hanya batu kerikil yang masuk ke dalam sepatu high heels yang ia kenakan.setelah ia memperbaiki sepatunya, Shafira mendongakkan kepalanya dan ternyata Alan dan Raffles sudah agak jauh darinya.
Saat Shafira berniat mengejar Alan dan Raffles,ia tiba-tiba saja melihat bayangan seseorang yang bersembunyi di tiang basement yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.awalnya Shafira tidak curiga sama sekali namun saat ia melihat orang itu memegang pistol dan mengarahkannya tepat ke arah dada Alan,Shafira baru menyadari bahwa Alan dalam bahaya.
"Tuannn awaaaaaaas" Shafira langsung berlari menuju Alan dan kemudian terdengar bunyi tembakan yang sangat memekakkan telinga.
Dooor
"akhhhhhh" teriak Shafira.
__ADS_1
Bersambung.