
"Bagaimana,apa kita bisa menculiknya sekarang?" tanya seorang pria yang duduk di belakang.
"lihat kondisi dulu,saat ia lengah kalian bisa menculiknya" ucap pria yang sedang duduk di belakang kemudi mobil.
Tepat saat kondisi tidak terlalu ramai dan Shafira yang lengah,saat shafira ingin menyebrang kembali ke rumah sakit setelah membeli sate ayam, tiba-tiba sebuah mobil hitam datang menghampirinya dan dua orang pria yang tiba-tiba turun dan langsung menyekap hidung dan mulutnya menggunakan sapu tangan.
"hmmm"
"hmm "
Shafira sempat memberontak dan berteriak tetapi tenaganya tidak berguna karena kedua pria itu mendekapnya dengan sangat kuat dan teriakannya juga tidak berguna sama sekali karena mulutnya di bekap dekan sapu tangan dan kemudian dirinya mulai melemah dan langsung pingsan karena sapu tangan itu sudah di beri obat pingsan oleh kedua pria itu.
**************
Saat Shafira membuka kedua matanya,pertama kali yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang berwarna putih serta lampu gantung yang terkesan mewah.kemudian ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan tempatnya berada saat ini,terlihat sebuah lemari kaca yang menampilkan beberapa barang antik,lalu Shafira bangun dari posisi tidurnya saat ia mendengar suara pintu yang terbuka.matanya dapat melihat seorang laki-laki yang sangat familiar di ingatannya, laki-laki itu berbadan tinggi tegap serta memiliki wajah yang berkharisma sangat mirip dengan mendiang ayahnya.
"apa yang paman inginkan?" ya,pria yang ada di hadapannya saat ini adalah pamannya adik kandung dari mendiang ayahnya sendiri.Shafira tidak habis pikir dengan kelakuan pamannya ini, bagaimana bisa pamannya menculik keponakannya sendiri? tidak cukupkah pamannya menyakitinya selama ini,akhhh rasanya Shafira ingin berteriak saat ini juga tapi entah kenapa tenggorokannya seakan tercekat.
__ADS_1
"Tenanglah sayang,paman tidak akan menyakitimu" kata-kata itu selalu bersarang di otaknya,Shafira sangat ingat ketika pamannya menenangkan dirinya saat kedua orang yang sangat Shafira sayangi pergi meninggalkan dirinya,dan sekarang kata-kata itu muncul lagi dari bibir pamannya.
"Tidak usah berbasa-basi lagi dan cepat katakan apa yang paman inginkan!" teriak Shafira yang menggema di ruangan yang bernuansa putih ini.
"Baiklah karena kamu yang meminta.Shafira,paman membutuhkan uang saat ini,Tante kamu...." ujar paman Shafira dengan wajahnya yang tiba-tiba berubah menyedihkan dan penyesalan sangat tersirat di wajahnya yang tidak lagi muda itu.Shafira yang mendengar itu tentu saja bingung dengan apa yang akan diucapkan pamannya itu dan ada apa dengan tantenya? itu adalah tanda tanya besar yang ada di kepalanya saat ini.
"kenapa dengan tante?" akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibirnya,walaupun selama ini tantenya selalu mengabaikan dirinya tapi tetap saja di hatinya yang paling dalam ada sebuah rasa dan rasa itu tentu rasa khawatirnya terhadap tantenya istri dari pamannya sendiri.
"Tantemu sekarang berada di rumah sakit,ia menderita tumor otak dan sekarang paman membutuhkan dana besar untuk biaya operasinya" ucapan pamannya tentu saja memancing amarah di dalam diri Shafira,bagaimana tidak,apa dengan menculik dirinya pamannya bisa mendapatkan uang?ha itu sangat tidak masuk akal.
"lalu....apa dengan menculik ku sekarang paman bisa mendapatkan uang? bagaimana dengan perusahaan atau seluruh aset harta mama dan papa yang sudah paman rampas dariku,apa itu tidak cukup untuk biaya operasi istrimu" ucap Shafira dengan emosi yang menggebu-gebu.
"ya karena itulah sekarang paman ingin menebus segala kesalahan paman Shafira,paman dan Tante berencana untuk menjodohkan mu dengan anak sahabat paman agar hidup kamu terjamin sepenuhnya" what? apa yang dikatakan pamannya ini,apa Shafira tidak salah dengar?pamannya ingin menjodohkannya dengan seorang yang bahkan Shafira tidak kenal,apa harus itu cara pamannya menebus kesalahannya,Shafira tidak habis pikir dengan pikiran pamannya.
"menjodohkanku? apa paman sudah gila? hahaha tentu saja paman sudah gila,aku tidak akan mau menuruti perintah mu lagi" ucap Shafira dengan tawa yang menyeramkan,Shafira sudah muak dengan kelakuan bejat pamannya ini,sudah cukup selama ini dirinya di permainkan dan sekarang tidak akan terjadi lagi.
"tidak usah membantah Shafira,cukup ikuti apa yang paman perintahkan.besok pagi kamu harus ikut paman menemui calon tunanganmu" ujar paman Shafira dan setelah itu ia melenggang pergi keluar dari ruangan ini meninggalkan Shafira yang terdiam.
__ADS_1
apa yang harus Shafira lakukan sekarang?apakah ini memang sudah takdir yang Tuhan rencanakan untuknya? saat pikirannya tengah kacau tiba-tiba ia di kejutkan dengan suara handphonenya yang berdering dengan sangat nyaring,segera Shafira mengambil handphonenya yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya.lalu kemudian ia menggeser tombol hijau saat tahu siapa yang menelponnya.
"*hallo.." ucap Shafira saat telpon tersambung.
"kamu dimana Shafira?,hari sudah gelap dan kamu belum kembali,apa mencari makanan harus selama itu" ucap seseorang dari seberang telepon.
"maaf tuan Alan,sepertinya malam ini aku tidak bisa kembali ke rumah sakit karena ada keperluan yang mendesak dan sangat penting" tentu saja Shafira berbohong kepada Alan,sebenarnya Shafira tidak mau merepotkan Alan karena masalah yang di hadapinya saat ini.
"Shafira apa kamu habis menangis? Shafira, jika kamu ada masalah ceritakan padaku dan aku akan membantu sebisaku" ucap Alan.
"aku tidak apa-apa tuan,dan terimaksih untuk semuanya*"
"Shafira matikan handphonemu dan segeralah tidur karena besok kita akan bertemu calon tunanganmu" Belum sempat Alan menjawab namun paman Shafira sudah berteriak dari luar ruangan Shafira saat ini.
Tut Tut
Shafira langsung mematikan sambungan teleponnya saat mendengar teriakan dari pamannya yang menyuruhnya untuk tidur.
__ADS_1
Dan di rumah sakit,tepatnya di dalam ruang rawat Raffles,Alan tengah berkutat dengan pikirannya mencerna semua perkataan yang sempat di dengarnya beberapa saat yang lalu.
Bersambung.