
Ketika siang telah berganti dengan malam,bulan dan ribuan bintang yang bertaburan di angkasa seakan menerangi gelapnya suasana malam.Alan yang saat ini baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan lewat alat canggih yaitu laptop yang bermerek apel di gigit itu.dirinya langsung meregangkan otot-otot tangannya yang terasa nyeri lantaran harus menari dibatas keyboard laptopnya.setelah itu barulah dirinya beranjak dari kasur dan langsung menuju kamar mandi, lantaran sudah sedari tadi Alan menahan sesuatu yang bergejolak dan ingin segera di tuntaskan.
Tak lama kemudian Alan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang berseri dan sumringah layaknya baru saja memenangkan lotre.
"ahhh akhirnya aku puas dan tidak gelisah lagi" gumam Alan sambil ia menepuk-nepuk perutnya.
"menahan-nahan buang air kecil itu sangat menyiksaku" ucap Alan yang mengatakan jika ingin buang air kecil dan ditahan itu sangat menyiksanya.setelah itu Alan langsung melanjutkan langkahnya dan kali ini tujuannya adalah untuk makan malam karena ini sudah waktunya untuk ia mengisi perut yang sedang kosong dan sedari tadi sudah berbunyi minta diisi.
Alan berjalan dengan langkah yang pelan dan kemudian menuruni anak tangga satu persatu.di lantai bawah tepatnya di sebuah sofa terlihat Raffles yang sedang mengutak-atik handphonenya,entah apa yang ia lihat Alan juga tidak tahu.langsung saja Alan menghampiri Raffles yang sama sekali tidak mengetahui keberadaannya saat ini.
"apa yang sedang kau lakukan Raffles?" tanya Alan pada Raffles ketika ia sudah mendudukkan bokongnya di sofa hadapan Raffles.
"tidak ada,aku hanya sedang menikmati waktu senggang ku" jawab Raffles sambil meletakkan handphonenya di atas meja yang ada di depannya.
"tugas yang aku berikan padamu,apakah sudah kau lakukan?" tanya Alan lagi pada Raffles dan pembicaraan mereka kali ini terbilang cukup serius terlihat dari perubahan ekspresi keduanya yang menunjukkan wajah serius.
"tentu saja sudah kulakukan,ada tiga puluh bodyguard yang sudah bekerja, masing-masing mempunyai tugas dan kelompok.sepuluh orang akan standby menjagamu dan nona Shafira dan sisanya menjaga rumah" ucap Raffles dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.
__ADS_1
"kerja bagus,aku selalu mengandalkan dirimu" jawab Alan yang memuji kinerja Raffles yang terbilang cukup gesit.
"aku akan selalu melindungi dirimu,apapun caranya" batin Raffles.dirinya memang akan selalu melindungi dan menemani Alan baik itu susah maupun senang.
"Permisi tuan,makan malam sudah siap" seakan tersadar Raffles kaget saat tiba-tiba suara bik sumiarti memecahkan keheningan dirinya.
"Baiklah,tolong beritahu nona Shafira kalau saya menunggunya di meja makan" ucap Alan memberi titah pada bik Sumiarti.
"maaf tuan,nona Shafira sudah menunggu di meja makan dan nona Shafira juga yang sudah memasak untuk anda makan malam" ujar bik Sumiarti yang mengatakan bahwa Shafira lah yang sudah memasak hidangan makan malam.
"ohh baiklah kalau begitu, Raffles ayo kita makan malam" ucap Alan sambil beranjak dari duduknya dan langsung menuju dapur utama untuk makan malam.
Sambil menuju meja makan,Alan terus memikirkan tentang keadaan Shafira.karena Shafira baru saja keluar dari rumah sakit, dirinya berpikir Shafira membutuhkan waktu untuk beristirahat penuh tetapi apa yang ia pikirkan berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan bik Sumiarti beberapa saat yang lalu.Shafira bukannya beristirahat justru Shafira memasak di dapur untuk dirinya makan malam.
"apa dirinya sudah sembuh total? tapi kata dokter Shafira masih membutuhkan istirahat yang cukup.dasar perempuan keras kepala,tidak mementingkan diri sendiri,kalau jatuh sakit lagi siapa yang repot tentu saja aku" batin Alan seakan sedang memarahi Shafira tetapi ketahuilah,jauh di dalam lubuk hatinya Alan mengkhawatirkan keadaan Shafira.
"selamat malam tuan" sapa Shafira saat ia melihat Alan serta Raffles yang masuk ke dapur utama.
__ADS_1
"malam" jawab Raffles dan setelah itu ia duduk di kursinya.sedangkan Alan,dirinya langsung duduk tanpa menjawab sapaan dari Shafira.
Tak perlu berbasa-basi,Alan, Raffles serta Shafira langsung melahap makanan yang ada di depan mereka.Shafira makan dengan sangat lahap seakan-akan dirinya tidak makan selama seminggu,karena dirinya sakit kemarin maka asupan makanan dan gizi Shafira menurun drastis.
sedangkan Alan yang melihat tingkah Shafira hanya bisa menghela nafas kasar,jika perasaannya terhadap Shafira memang cinta,maka bagaimana bisa ia mencintai wanita konyol seperti Shafira,pikir Alan.
*************
Di ruang kerja Alan,saat ini dirinya dan Raffles sedang membicarakan masalah yang serius.teringat di pikiran Alan saat mereka kembali dari rumah sakit dan dikejar oleh mobil yang tidak dikenalnya sama sekali.kalau saja tidak ada Shafira waktu itu,maka dirinya akan menghadapi orang-orang itu dan mengungkap tujuan orang-orang itu mengejar mereka.
"aku sudah menyewa detektif untuk menyelidiki siapa dalang di balik kejadian pagi tadi" ucap Raffles mengawali pembicaraan.sedangkan alan langsung tersadar dari lamunannya.
"menurutmu, apa tujuan mereka mengejar kita dan siapa dalangnya?" tanya Alan pada Raffles dengan ekspresi wajahnya yang serius.
"entahlah,aku juga tidak tahu.tetapi dalang di balik semua itu mungkin orang yang iri dan ingin menjatuhkan mu,secara kaulah orang kedua yang memiliki kekayaan terbesar di Indonesia" ucap Raffles sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa serta tangannya yang terlipat di dada.
"aku juga berpikir seperti itu" jawab Alan sambil berdiri dari duduknya dengan satu tangannya yang di masukkan ke dalam saku celana yang di pakainya dan tangan yang satunya lagi memegang secangkir kopi yang sesekali ia minum.
__ADS_1
Bersambung.