CINTA SANG CEO

CINTA SANG CEO
Episode 69


__ADS_3

Malam semakin larut,hujan pun sudah mulai reda.menyisakan rintik-rintik yang masih berjatuhan dari langit yang gelap itu.


Rumah sakit gempar dengan kedatangan tamu tak di undang.seluruh perawat,staf rumah sakit maupun orang-orang di dalamnya terlihat panik.kedatangan seorang pria dan tubuh kecil seorang wanita di dalam gendongannya dengan bersimbah darah sangat memprihatinkan.


"Dokterrrrrrr..... tolong wanita ini.... cepatttttt" Teriakan pria itu menyadarkan mereka dari keterkejutan.


Langsung saja para perawat yang sedang bertugas mengambil tindakan.tubuh kecil Shafira diletakkan di atas brankar dan langsung di dorong oleh beberapa perawat menuju ruang UGD. Dan jangan lupakan pria yang bertubuh tegap itu,ia juga mendorong brankar itu dengan perasaaan panik yang berlebihan.


Bagi pria itu,sekarang yang terpenting adalah keselamatan wanita ini,wanita yang sudah ia tabrak.hatinya kecilnya menciut saat melihat banyaknya darah yang keluar dari tubuh gadis ini.ia panik,ia khawatir,ia takut...... takut jika gadis ini tidak bisa di selamatkan lagi.


"Tuan silahkan tunggu di luar,kami akan berusaha semaksimal mungkin" suara seorang perawat membuyarkan lamunannya.Dengan berat hati ia menganggukkan kepalanya,menunggu di luar bukanlah masalah besar asalkan wanita yang ia tabrak selamat.


Kakinya mundur beberapa langkah kemudian mendudukkan bokongnya di kursi tunggu.pria yang memiliki nama lengkap "Aaron Carter Maaz" itu duduk dengan gelisah.ia berharap keberuntungan masih berada di pihaknya,ingin sekali berteriak tapi ini di rumah sakit.sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu seraya berdoa memohon pada Tuhan.


Setelah tiga jam lamanya menunggu, akhirnya seorang dokter laki-laki keluar dari ruangan.Dengan raut wajah yang tidak terbaca dokter paruh baya itu keluar dari ruang UGD.


"Bagaimana keadaannya sekarang dokter?" Aaron bertanya dengan gurat khawatir di wajahnya tampannya.


"Anda siapanya pasien?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Aaron,dokter itu malah bertanya balik.sedangkan Aaron langsung terdiam saat mendengar pertanyaan itu.apa yang harus ia jawab? Tidak mungkin kan jika ia mengatakan bahwa dirinyalah yang telah menabrak wanita yang entah siapa namanya? Ahhh ini konyol, pikir Aaron.


"Saya kekasihnya dok?" satu kalimat itu keluar dari bibirnya.ahhh apa-apaan bibirnya ini,kenapa bisa bicara seperti itu? Aaron merutuki dirinya sendiri.


"hmmm begini Tuan....."


"Aaron... panggil saya Aaron dok" Aaron langsung menyebutkan namanya saat dokter di depannya merasa bingung memanggil dirinya.

__ADS_1


"Jadi begini Tuan Aaron...... pasien mengalami kehilangan banyak darah.Namun masalah itu sudah kami tangani dan sekarang pasien mengalami koma.Tidak ada masalah serius di organ bagian dalam" ujar dokter itu.


"kira-kira berapa lama pasien bisa segera siuman dok?" mendengar penjelasan dari dokter,Aaron merasa lega.namun kenyataan pahit juga harus ia hadapi.


"Kemungkinan bisa satu bulan atau bahkan satu tahun,kami hanya bisa bekerja semaksimal mungkin, namun semua kembali kita serahkan pada yang maha kuasa" jawab Sang dokter.


"kalau begitu saya permisi,pasien bisa di kunjungi saat sudah di pindahkan ke ruang perawatan" lanjut Sang Dokter.


"Baiklah terimakasih dokter" ucap Aaron.kemudian setelah itu dokter pun berlalu dari hadapannya.


**************


Cahaya mentari telah menyinari seluruh isi bumi,menggantikan cahaya bulan yang temaram.


Di mansion,lebih tepatnya di kamarnya, Alan mengerjapkan matanya.mata indah yang memiliki bulu mata lentik itu terbuka secara perlahan ketika telinga indahnya mendengar suara ketukan pintu.


"Selamat pagi Tuan Alan" Raffles langsung menyapa sambil membungkukkan sedikit badannya ketika melihat Sang Tuan muncul dari balik pintu.


"hmmm....... kenapa kau membangunkanku sepagi ini Raffles? aku kan sudah bilang hari ini tidak usah pergi bekerja" jawab Alan dengan suara serak khas bangun tidur.


"Maaf Tuan,tapi ada yang harus saya sampaikan kepada anda..... ini sangat penting" suara dingin,seperti biasa.Raffles berujar dengan gurat wajah yang tidak bisa di baca.


Alan menatap lekat-lekat mata Raffles.apa yang akan Raffles sampaikan sepagi ini? apakah memang sangat penting? pertanyaan itu muncul di pikiran Alan.


"Sepenting apa hingga kau datang sepagi ini padaku" Alan berujar dengan santai dan tenang.jika ini menyangkut perusahaan,dengan percaya diri ia pasti bisa menyelesaikannya,pikir Alan.

__ADS_1


"Ini tentang nona Shafira" apa-apaan Raffles ini,memangnya ada apa dengan Shafira.palingan wanita itu hanya tidak mau sarapan jika tidak ada dirinya.itu adalah rutinitasnya setiap hari,tidak mau sarapan jika tidak ada dirinya.ahhh mendengar nama Shafira di sebutkan,ia jadi rindu pada gadis itu,pikir Alan.


"Jadi dia tidak mau makan jika tidak ada aku.... Baiklah akan aku menemaninya sarapan.kau tunggulah aku sebentar Raffles" baru saja ingin masuk ke dalam kamar kembali,Alan sudah dikejutkan dengan suara lantang Raffles.


"Nona Shafira menghilang" Raffles mengatakan itu dengan kepala tertunduk.ia tidak berani menatap wajah Sang Tuan.


"Apa yang kau katakan ini Raffles? BICARA YANG BENAR PADAKUUU" teriakan Alan menggema di sepanjang lorong mansion.bahkan teriakan itu sampai kepada pendengaran pelayan mansion yang juga sangat khawatir.semua para pelayan memang sudah tau bahwa Calon Nyonya muda mereka hilang entah ke mana.


"KENAPA KAU DIAM? CARI SHAFIRA SAMPAI DAPAT!" Raffles tidak bisa berkata-kata lagi.selama ini Alan tidak pernah semarah ini padanya.namun baru kali ini Raffles melihat raut marah dan khawatir menjadi satu di wajah tampan Alan.


"Saya sudah memeriksa cctv di mansion tuan,di laya terlihat sangat jelas nona Shafira keluar dari mansion saat cuaca tengah hujan deras.saya juga sudah mengerahkan seluruh anggota untuk mencari nona Shafira" Raffles menjelaskan pada Alan dengan sabar.ia tahu saat ini pasti Alan sangat mengkhawatirkan Shafira.


"Itu saja tidak akan cukup Raffles,lihat semua cctv di jalan ibu kota.pasti Shafira tidak akan pergi jauh dari kota ini" Alan mengontrol emosinya,Alan sangat tahu bahwa dengan emosi tidak akan bisa menyelesaikan masalah.karena itulah ia harus mengontrol emosinya dan menemukan Shafira secepatnya.


"Baik Tuan" setelah mendengar titah dari Alan, Raffles langsung membungkukkan badannya dan langsung berlalu dari hadapan Alan.


Alan melihat kepergian Raffles hanya bisa menghela nafas.saat ini ia sangat mengkhawatirkan Shafira.bagaimana jika Shafira terluka atau di culik seseorang? ohhh tidak tidak tidak...... Alan tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.


Sepertinya ia harus turun tangan sendiri,menunggu saja tidak akan cukup baginya.kali ini,jika ia mendapatkan Shafira maka tidak akan ia lepaskan lagi.tapi satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul di pikirannya adalah Mengapa Shafira kabur dari mansion ini? apa alasannya? Sangat tidak mungkin Shafira kabur hanya karena menghindari pertunangan,pikir Alan.


Namun Alan tidak sadar apa yang ia pikirkan adalah kenyataannya.Shafira kabur memang untuk menghindari pertunangan dan memutuskan takdir bodoh yang menjerat dirinya dan Alan.


"Takdir Yang Tidak Seharusnya Di Lanjutkan"


Bersambung.

__ADS_1


Happy Reading 🖤


__ADS_2