
Tidur yang nyenyak.tubuh terbalut dengan hangat dan mata indah dan mata indah yang perlahan terbuka, membiasakan pandangannya hingga terlihat jelas.masih tersisa gurat kelelahan dari wajah cantik itu.namun dengan malas ia meregangkan ototnya dan memaksa untuk duduk.
"sudah bangun?" suara yang agak dingin, seperti biasa.
ia menoleh,mendengus kecil saat melihat senyum tipis Alan yang perlahan mendekat padanya dengan langkah ringan.
"ck ck....kenapa kamu sampai melupakan sarapan pagi,lihat sekarang kau pingsan karena tidak ada energi dalam tubuhmu" ujar Alan dan tangannya yang putih menyentil dahi Shafira dengan lembut.
"aku terlalu stres hingga lupa merawat diriku sendiri" ucap Shafira sambil mengusap dahinya kilas,tidak sakit sebenarnya.
"lupakan masalah itu,cobalah untuk tetap tenang dan pikirkan kesehatanmu" dengan tangan yang dilipat di atas dada Alan berujar dengan tenang.
"....." tidak ada jawaban dari wanita cantik di depannya,entah apa yang ia pikirkan sekarang,Alan juga tidak mengerti.
"hei...kenapa diam!apa lagi yang kamu pikirkan. sekarang makan bubur itu sebelum dingin dan segera minum obatnya" bukan sekedar ucapan sebenarnya,melainkan itu kalimat perintah dari Alan yang harus segera di laksanakan,Shafira mengerti itu.
Sedikit mendengus kecil,terpaksa menuruti perintah sang tuan yang berdiri dihadapannya,tangan kecil itu menjangkau semangkuk bubur yang terletak di atas nakas lengkap dengan segelas air putih dan beberapa obat yang harus ia makan.
"segera habiskan,bubur itu spesial aku buat sendiri untuk calon tunanganku" dengan wajah yang berpaling,tidak ingin menatap gadis di depannya,Alan berujar dengan santai.tetapi ketahuilah,sekarang jantungnya berdegup dengan sangat kencang.oh ayolah,kenapa jantungnya seperti ini,apakah ia memiliki riwayat penyakit jantung.tidak,itu tidak mungkin,ia sangat menjaga kesehatannya selama ini.
Dengan wajah yang memerah,Shafira menatap Alan yang berdiri di hadapannya.apa yang tuannya ini katakan "calon tunangan" woahh yang benar saja,kata itu sangat canggung walaupun ada sedikit rasa bahagia di hatinya saat mendengar kata itu terucap dari bibir manis Alan.Namun ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatinya,tetapi Shafira tidak untuk menanyakannya langsung pada Alan.
"tuan" Alan yang merasa dirinya di panggil pun langsung menolehkan kepalanya menatap gadis di depannya.
"apa?" Alan bertanya dengan gurat wajah yang penasaran dengan apa yang ingin di ucapkan gadis ini.
__ADS_1
"hmmm...tidak ada" Shafira menelan kembali kata yang ingin ia ucapkan pada Alan dan menguburnya dalam-dalam di otaknya.
"oh baiklah...setelah minum obat istirahatlah kembali,dan ingat jangan memikirkan apapun yang membuatmu stres" entah itu ucapan perhatian atau hanya mengasihani dirinya,Shafira juga tidak tahu.
Dengan langkah ringan,Alan meninggalkan Shafira yang masih terdiam di atas ranjangnya yang empuk.sedangkan Shafira hanya menatap kepergian Alan sampai punggungnya tidak terlihat lagi.
*************
Di dalam ruang kerjanya,Alan diam seorang diri di kursi kerjanya.Alan ingat saat pertama kali ia melihat gadis itu hati dan jantungnya mulai berdetak kencang seakan menemukan belahan jiwanya.
Lalu saat gadis itu mulai bekerja sebagai asisten pribadinya,di situlah semuanya di mulai,ia mulai menyadari perasaanya pada gadis itu bukanlah sebagai atasan kepada bawahannya,melainkan ia melihat Shafira sebagai seorang wanita yang berhasil masuk ke dalam hatinya.ya,gadis itu adalah Shafira, asisten sekaligus wanita yang ia cintai.
Tok Tok Tok
"masuk" ujaran Alan lantas membuat orang yang ada di balik pintu langsung masuk ke dalam ruangan ini.pria tinggi dan cukup tampan tidak kalah dari Alan perlahan masuk dan melangkahkan kakinya menuju Alan sanga atasan yang tengah duduk di sebuah kursi.
"maaf mengganggu waktumu tuan,saya membutuhkan tanda tangan anda" suara serak dan dingin,seperti biasa.
"tidak masalah,yang mana yang harus ku tanda tangani Raffles?" mendengar itu lantas Raffles memberikan sebuah map yang ada di tangannya pada sang atasan.kemudian dengan membaca sekilas isi dari surat itu,Alan langsung membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu.
Dengan perlahan Raffles mendudukkan bokongnya di atas kursi di hadapan Alan yang hanya terhalang meja.tidak perlu lagi berpura-pura jika mereka berdua saja,layaknya kakak adik yang sedang berdiskusi,seperti itulah kehidupan mereka berdua.jika di tepat ramai atau kantor maka Raffles berperan sebagai sekretaris yang menjelma menjadi bodyguard pribadi Alan dan harus melindungi sang tuan,tetapi ketika berdua saja maka Raffles akan berperan sebagai kakak yang baik, yang punya tanggung jawab besar atas keselamatan adiknya.
"bagaimana dengan nona Shafira?" tanya Raffles pada Alan.
"dia baik-baik saja" dengan menatap manik mata Raffles Alan berujar dengan santai.
__ADS_1
"baguslah kalau begitu" menatap Alan sekilas kemudian ia memejamkan matanya dengan badan yang ia sandarkan di kursi.
"tentu,mulai sekarang dia tidak boleh sakit lagi" masih dengan menatap wajah lelah Raffles,Alan menyunggingkan senyumnya sekilas.
"ahh benar aku hampir lupa....apa kau ingat bahwa Shafira sempat ingin di jodohkan dengan orang lain sebelum dengan mu?" dengan penasaran yang dalam Alan mengangguk mengiyakan ucapan Raffles.
"apa kau tahu bahwa paman Shafira itu ingin menjodohkannya dengan siapa?" tanya Raffles lagi.
"aku tidak mencari tahunya saat itu,karena aku terlalu khawatir" ujar Alan dengan sedikit menggelengkan kepalanya.
"astaga..woahh luar biasa...cinta memang merubah seseorang,Alan yang sangat teliti ternyata bisa bodoh hanya karena cinta...hahahaha aku tidak percaya ini" sudut mata yang berair namun bukan menangis melainkan karena terlalu semangat tertawa, Raffles tertawa terpingkal-pingkal,namun kemudian ia menghentikan tawanya dan langsung menatap Alan dengan tatapan serius.
"sudah berhenti....kau masih sama seperti dulu,senang sekali mengejekku" ujar Alan sesaat setelah tawa Raffles menghilang.
"tentu saja...aku memang tidak berubah sejak dulu" cicit Raffles dengan sedikit senyuman di sudut bibirnya.
"Berhenti menggodaku dan katakan siapa orang yang akan di jodohkan dengan Shafira sebelum aku,walaupun itu tidak penting bagiku tapi tetap saja aku penasaran" dengan wajah yang kembali serius Alan menatap Raffles yang sedang memperbaiki posisi duduknya.
"kau tidak akan percaya ini tapi itulah faktanya" Raffles menarik nafasnya sebentar sebelum melanjutkan ucapannya itu.
"paman Shafira ingin menjodohkannya dengan si Holmes bajingan itu" What? apa yang dikatakan Raffles?apa Alan tidak salah dengar,bagaimana bisa itu terjadi,walaupun sekarang Shafira adalah miliknya tetapi tetap saja hatinya terasa panas seketika,bagaimana bisa David ingin menjodohkan keponakannya sendiri dengan pria tua seperti itu,Alan tidak habis pikir.
"cari pria tua itu sampai dapat dan bawa dia hidup-hidup kehadapanku.sudah cukup ia bermain-main denganku selama ini" habis sudah kesabaran Alan hari ini,ia sudah benar-benar muak dengan pria tua itu.selama ini sudah cukup ia bersabar dengan perbuatan Holmes dan sekarang tidak akan ia biarkan pria tua itu bermain-main lagi dengannya.tunggu saja tanggal mainnya dan Holmes tidak akan bisa kabur darinya.
Bersambung.
__ADS_1