
Ini tidak adil. Pasti ada yang salah. Air mata terus berderai bak air hujan yang turun dengan derasnya. Hati Ati hancur ia membenci Kartika saudaranya sendiri. Jika tidak ada dia pasti dirinya yang sedang memakai henna sekarang.
Ati terduduk di lantai yang seperti kapal pecah. Entah malam ini dia bisa tertidur atau tidak. Karena memang sedang ramai banyak tamu yang datang. Ia pun enggan untuk turun. Hati wanita berambut pirang itu sedang tidak dalam ke adaan baik.
"Kartika ..., Kartika ..., aku akan membatalkan ini. Ini sungguh sakit."
Renata berteriak di luar pintu gerbang. Hatinya sungguh sakit, walaupun sejak kemarin ia bisa bersikap baik-baik saja tetapi tidak dengan hatinya kini. Renata kini tidak bisa berdamai dengan hatinya saat ini.
Dirinya bukan batu yang bisa di perlakukan sesukanya. Ia punya hati. Hatinya sangat perih seperti tertusuk sembilu. Bagaimana bisa Kevin mengirim dirinya untuk melamar kan calon madu untuk dirinya, mengantar, memilihkan gaun pengantin dan sekarang harus menyaksikan calon madunya dalam upacara henna.
"Lelaki macam apa, dirimu? Tega sungguh, kamu kejam! tak punya hati!"
__ADS_1
Renata memukul dada Kevin yang menghalangi dirinya untuk masuk. Air mata mengalir begitu saja tanpa diminta.
Kevin memeluk Renata dan berbisik di telinganya.
"Ini hanya satu hari saja. Mohon mengertilah." Kevin menuntun Renata untuk masuk ke dalam mobil dan mengantarkannya kembali ke rumah. Dengan terpaksa Renata menuruti Kevin. Sepanjang perjalanan wanita di sampingnya terus saja menangis. Namun, Kevin tak mempedulikannya.
Pagi harinya.
Pengantin pria telah datang dan di sambut oleh keluarga wanita dengan mengalungkan bunga, di susul dengan saweran beras putih bercampur kunyit yang telah di potong, beserta permen dan uang receh.
Ia seolah tersihir dengan kecantikan Kartika yang bagaikan putri raja. Sempurna tidak ada sedikit cela di pandangannya.
__ADS_1
Setelah keduanya berada dalam satu meja untuk mengucapkan ijab kabul pernikahan dan menandatangani kedua surat nikah. Acara berlanjut kedua mempelai berpindah menuju pelaminan untuk berpoto dan bersalaman dengan para tamu undangan.
Ati akhirnya turun dan ikut dalam jamuan makan. Antingnya terjatuh. namun, ia tak menyadarinya. Hingga seseorang datang menghampiri dirinya dan memberikan antingnya yang terjatuh. Laki-laki itu tak lain adalah Ilham.
Keduanya akhirnya berkenalan dan saling bertukar nomor ponsel.
Setelah acara selesai kira-kira hampir tengah malam, Kevin memboyong Kartika untuk di bawa ke rumahnya. Tangisan keluarga mengiri mobil pengantin yang terus melaju meninggalkan rumah.
Sampai di tengah jalan Kartika mencoba bertanya, karena heran dari tadi hanya berputar-putar di daerah itu.
"Maaf sebetulnya kita mau ke mana?"
__ADS_1
Wajah Kevin berubah tampak kalut dan frustasi entah ada apa. Kartika di buat bingung dengan tingkah lakunya pria yang baru di kenalnya beberapa hari ini. Tidak biasanya ia bersikap kacau.
"Sudah, diam saja. Tidak usah bertanya," bentak Kevin kasar. Namun, dalam hati Ridwan ia sebenarnya tidak tega jika harus berbuat jahat pada Kartika. Karena gadis itu sama sekali tidak tahu- menahu tentang balas dendam yang hendak di lancarkan nya. Entah mengapa hatinya juga terasa sakit setiap kali ia berniat akan mencelakakan Kartika.