Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Pingsan


__ADS_3

Hari sudah malam ketika Kevin sampai di rumah, biasanya dia tidak pernah telat karena tadi ada rapat dan harus menandatangani beberapa dokumen.


Kartika yang tertidur terkejut dengan kecupan yang di berikan Kevin di bagian kening, seketika membuka matanya. Menatap dengan mata yang susah terbuka karena kantuk. Namun, memaksakan diri untuk membuka mata.


Kartika memaksakan dirinya untuk duduk bersandar pada ujung tempat tidur dan selimut masih menutupi setengah badannya.


"Kamu pulang malam sekali."


Kartika melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 22.30 menit


"Maaf, tadi ada rapat jadi aku pulang telat. Lihatlah ini."


Kevin menunjukkan paper bag coklat yang di berikan Ati.


Kartika menatap paper bag yang ada di tangan kanan Suaminya.


"Apa itu?"


Kartika mengerutkan kening, seolah menebak-nebak isi papaer bag tersebut.


"Ini hadiah dari teman kantor yang memberikannya sebagai ucapan selamat atas kehamilanmu."


"Wah, Sungguh."


Wajah Kartika berseri bergegas turun untuk melihat isi di dalam paper bag tersebut .


Memasukan tangannya ke dalam paper bag diambilnya sebuah benda kotak berwarna putih transparan kemudian dikeluarkan isinya. Terlihat bistik beraroma rempah yang sangat menggoda hingga Kartika menelan ludahnya. Wanita itu membuka twin wall, spontan aroma semerbak dari bistik menguar menggangu indera penciumannya hingga tidak sadar jemariya mengambil sepotong daging memasukannya ke dalam mulutnya. cukup satu, dua, tiga Kartika memakannya.


"Ini betul-betul enak."


Kartika menjilati jarinya yang tertempel bumbu, niatnya ingin menyudahi memakan bistik tadi. Tetapi mulutnya masih ingin. Pada akhirnya jemari yang sudah bersih di jilatinya kembali merogoh bistik dari twin wall sehingga jemari kotor kembali.


Kartika melangkah duduk di tepi ranjang masih dengan tangan memegang twin wall, kemudian meletakkannya di atas pangkuannya. Ia hendak menghabiskan bistik daging tersebut sendirian.


Tangan Kartika belum ingin berhenti terus mengambil satu iris daging lagi kemudian memasukkannya lagi ke dalam mulutnya. Belum tertelan semua Kartika tiba-tiba memegangi perutnya, setelah  mengaduh kemudian wanita berambut ikal itu tidak sadarkan diri.


Kevin yang hendak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri menjadi urung. Kaget melihat Kartika tidak sadarkan diri di tempat tidur.


Pria tersebut melepaskan handuk yang tergantung di lehernya, kemudian menghampiri Kartika dengan tergesa.


Kevin menepuk pipi Kartika berniat membangunkannya. Namun, usahanya nihil. Kevin berteriak karena panik di depan pintu kamar.


"PENGAWAL!"


Dua orang pengawal pria datang dengan berlari menghampiri Kartika, yang menyuruh kedua penjaga untuk mengeluarkan mobil.

__ADS_1


Kartika yang tidak sadarkan diri membawanya, memasukannya ke dalam mobil.


Kevin menemaninya di belakang ia terus menepuk pipi Kartika supaya tersadar.


"Cepatlah!"


"Iya, tuan ini sudah kecepatan maksimal."


Agh kenapa lagi ini, apa ada yang salah dengan makanannya!


Salah dirinya harusnya sebelum memberikannya pada Kartika, Kevin seharusnya uncicipinya terlebih dahulu. Pasti kejadian ini bisa di hindari.


Sampai di depan UGD. Kartika langsung di bawa Kevin menerobos masuk dan membaringkannya di tempat tidur, seorang perawat yang mengikutinya langsung memeriksa keadaan Kartika dan menanyai sebab Kartika pingsan.


Kevin memberikan penjelasan jika istrinya baru saja memakan bistik daging dan tiba-tiba tak sadarkan diri sambil memegangi perutnya.


Seorang berpakaian serba putih datang menghampiri keduanya kemudian bertanya pada suster yang menangani Kartika


"Bagaimana tanda vitalnya?"


"denyut nadinya lemah Dok."


"Beri dia infus dektros untuk meningkatkan cairan."


"Baik, Dok."


Sementara Kevin duduk di kursi memegangi jemari Kartika yang terasa kian dingin.


"Bukalah matamu, aku tidak bisa jika harus hidup tanpamu, tolong bukalah matamu."


Kevin menciumi punggung tangan Kartika berkali-kali. Berharap istrinya dapat membuka matanya lebih cepat. Matanya kini berkaca-kaca, akhirnya luluh jatuh di pipinya. Ini kedua kalinya Kevin merasa sangat takut bila ditinggalkan oleh Kartika


Hidupnya tidak berarti lagi jika harus hidup tanpa Kartika di sisinya.


"Cepatlah Suster tolong istri saya secepatnya."


Kevin tidak sabar menunggu perawat untuk memberikan tindakan pada Kartika yang terbaring lemah.


Suster wanita dengan nama Reni di dadanya datang dengan membawa baki peralatan.


Menghampiri Kartika yang terbaring, Kevin berdiri memberikan ruang pada Suster untuk melakukan tindakan.


Perawat dengan nama Reni duduk dan meraih tangan kanan Kartika memeriksa nadi wanita yang terbaring untuk menusukkan jarum suntik. Setelah mengolesnya dengan kapas alkohol, Reni menancapkan jarum di tangan Kartika kemudian di sambungkan dengan selang infus.


"Sus, bagaimana dengan kondisi janin di dalam perut istri saya. Apakah tidak apa-apa?"

__ADS_1


"Istri Tuan, hamil? nanti bisa di periksa dengan USG, ya untuk mengetahui kondisi janinnya. Semoga saja tidak ada apa-apa."


Kevin tidak segera memberikan kabar pada kedua orang tua Kartika. Kevin takut di salahkan jika dia tidak bisa menjaga Kartika dengan baik.


Biarlah untuk saat ini, Kartika berada di rumah sakit dulu sampai kondisinya kembali stabil.


Aku harus membuat perhitungan dengan Ati, jika Kartika dan bayiku kenapa-kenapa.


Kevin harus bersabar dulu untuk mengetahui kondisi Kartika yang harus menjalani beberapa pemeriksaan lagi untuk mengetahui kondisi Kartika dan bayinya.


"Dimana aku?"


Kartika kaget ketika membuka mata hanya warna putih yang di dapatkannya.


Kevin yang masih memegangi tangan Kartika tersenyum, mencium punggung tangannya.


"Kamu sudah sadar? Aku sangat khawatir."


"Kenapa dengan ku, kenapa aku di pasang infus?"


"Kamu tidak ingat sama sekali, sebelum pingsan tadi?"


Kartika terdiam mengingat kembali kejadian sebelum tidak sadarkan diri.


Seingatnya ia sedang menikmati bistik daging dan tiba-tiba perutnya berkontraksi hingga tidak bisa menahannya karena rasa sakit yang teramat sakit seketika pandangannya kabur tidak ingat apa-apa lagi. Ketika bangun sudah ada di ruangan ini.


"Yang aku ingat, aku sedang makan bistik. Lantas aku kenapa ada di sini?"


"Sudah tidak apa-apa. Mungkin kamu kecapean."


Kevin mengecup punggung tangan Kartika sekali lagi, Kevin tidak ingin istrinya khawatir akan dirinya sendiri. Itu akan berakibat buruk untuknya dan calon bayi di dalam perutnya. Sebisa mungkin Kevin menutupi keadaan Kartika yang sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Kamu haus?"


Kevin beranjak dari kursi mengambil air lemon yang berada di atas meja di berikan pada Kartika.


Kartika memang menyukai air lemon dengan sedikit gula yang bisa di minum selagi hangat atau dingin. Karena dia tidak bisa minum teh. Jika minum teh rasa kantuknya akan berkurang mungkin pengaruh dari kafein di dalam teh. Sama halnya dengan kopi yang mengandung kafein sehingga mengusir rasa kantuk.


Karena Kartika sedang hamil tidak bisa minum teh dan kopi beralih lah ke air lemon yang kaya akan manfaat dan tidak ada efek damping seperti kopi dan teh.


Jika wanita hamil tidak bisa tidur itu berbahaya untuk ibu dan janin, Kevin paham akan hal itu.


Pagi harinya Kartika sudah terlihat lebih segar walaupun selang infus masih terpasang di tangannya.


Kevin mendorong kursi roda yang di naikin Kartika untuk memeriksa janin di dalam perutnya. Kevin mendorong kursi roda ke arah ruang khusus untuk USG.

__ADS_1


begitu sampai Kevin di suruh untuk masuk karena kebetulan Kartika Pingsan berada di nomor urut satu jadi tidak usah menunggu giliran.


__ADS_2