Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
KERAGUAN


__ADS_3

Bintang terbangun saat cahaya matahari menelusup masuk ke dalam kamarnya lewat tirai jendela yang sedikit terbuka.


Dia mengernyitkan dahinya sambil duduk di tepi ranjang, mengingat kejadian yang dialaminya semalam karena kamarnya terlihat sangat berantakan. Setelah kesadarannya kembali, barulah dia sadar kalau gadis yang semalam menyerahkan kesuciannya itu sudah tidak berada di tempat yang sama dengannya.


"Dimana gadis itu?" gumamnya lirih.


Bintang lalu melangkah ke ruang tamu dan berlanjut ke dapur, barangkali gadis itu ada disana, namun nihil.


"Nanti saja aku pikirkan bagaimana mencari gadis itu, sekarang aku harus bersiap ke kantor" pikirnya, lalu kembali masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri di kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Anton, asisten pribadi Bintang, datang ke apartemen itu. Dia memang terbiasa menjemput boss nya agar tidak terlambat berangkat kerja sesuai perintah Bagas, ayah Bintang.


Bintang memang belum sepenuhnya menerima perintah ayahnya untuk mengambil alih semua tugas ayahnya sebagai seorang CEO di perusahaan yang telah dirintis ayahnya sejak lama itu, oleh karenanya Bagas memerintahkan Anton untuk selalu mengawasi Bintang dan melaporkan setiap kegiatannya dan Anton selalu melakukannya, kecuali saat Bintang datang ke bar untuk sekedar minum untuk melepas kepenatan selama bekerja.


Anton langsung menyiapkan sarapan pagi lalu bergegas menyiapkan baju kerja untuk Bintang. Ya, meski sebenarnya Anton enggan melakukan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh istri Bintang nanti, tapi jika tidak disiapkan, Bintang pasti akan berlama-lama dan waktunya akan terbuang sia-sia, oleh karenanya Anton terpaksa mempersiapkan semua keperluan sekaligus makan untuk Bintang.


Setelah kurang lebih 15 menit mandi, akhirnya Bintang keluar dari kamar mandi dan melihat pakaian kerjanya sudah siap diatas tempat tidur. Lelaki itu juga melihat kalau kamarnya tidak berantakan lagi seperti sebelum dia masuk ke kamar mandi.


"Bin, apakah semalam ada gempa di kamarmu? Mengapa sangat berantakan sekali? Dan mengapa ada noda darah di sprei?" protes Anton setelah membersihkan kamar bossnya yang mirip kapal pecah sesaat setelah dia masuk.


"Iya, semalam aku mengambil keperawanan seorang gadis" ucap Bintang sambil memakai kemeja dan celananya dengan nada tak bersalah.


"Apa katamu?" tanya Anton hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Kamu kan sudah dengar, jangan berlagak seperti orang tuli" jawab Bintang acuh sambil berlalu ke depan cermin untuk mematut diri.


"Bagaimana bisa, Bin? Katamu tidak akan pernah membawa jal*ng kesini? Bagaimana jika ada wartawan yang tahu dan membuat berita yang tidak-tidak tentang dirimu? Ayahmu bisa marah besar karena keteledoran mu ini" kembali Anton memrotes sikap Bintang yang seolah tenang setelah melakukan sebuah skandal.

__ADS_1


Bintang tidak menanggapi, dia keluar kamar dan menuju ke dapur yang menjadi satu dengan ruang makan untuk mengisi perutnya yang sudah sangat lapar. Anton hanya mengekorinya dan menunggu penjelasan Bintang.


Setelah menuntaskan rasa laparnya, akhirnya Bintang menceritakan semua kejadian yang dialaminya semalam sambil meminum kopi yang sudah disiapkan oleh Anton, mulai dari seorang gadis yang tiba-tiba menabraknya di bar hingga gadis itu menyerahkan mahkota yang seharusnya diserahkan hanya untuk laki-laki yang menikahinya.


Anton hanya bisa terperangah mendengar semua penjelasan Bintang. Setelah itu Bintang bergegas keluar apartemennya menuju kantor dan Anton pun menyusulnya setelah selesai merapikan bekas sarapan mereka.


30 menit kemudian mereka sampai di sebuah gedung bertingkat yang tidak lain adalah perusahaan milik ayah Bintang. Setelah menyerahkan kunci mobil kepada salah satu bagian keamanan, Anton langsung menyusul langkah Bintang menuju lobi kantor.


Bintang tetap melamun, dia tidak memperhatikan Anton yang sedang membacakan jadwal kegiatannya hari itu. Sesampainya di depan pintu lift, Bintang tetap berdiri mematung hingga suara Anton mampu mengejutkannya.


“15 menit lagi rapat direksi lanjutan akan segera dimulai Pak, apakah Anda akan terus mematung disini?” Anton membuka suara. Bintang lalu memasuki lift yang pintunya hampir tertutup kembali.


Sepanjang rapat pun Bintang tetap tidak bisa konsentrasi, bayangan gadis yang menghangatkan ranjangnya semalam masih terbayang dalam benaknya. Dia merasa pernah bertemu gadis itu sebelumnya, tapi dia lupa dimana pastinya.


Akhirnya Bintang membubarkan rapat dengan alasan kurang enak badan dan akan mengulang rapat keesokan harinya lagi. Hampir semua direksi kecewa karena kembali rapat ditunda dan belum menemukan titik temu atas permasalahan yang dihadapi perusahaan itu.


Dengan langkah gontai Bintang kembali ke ruangannya. Setumpuk berkas di atas mejanya enggan dijamahnya. Hal itu membuat Anton jengah dan memilih meninggalkan Bintang dengan kegelisahannya.


-------------------------------


Saras masih terlelap di ranjangnya hingga waktu makan siang terlewati. Dia merasa pusing dan sakit di sekujur tubuhnya. Dia sangat lapar, namun enggan beranjak dari tempat tidur. Akhirnya dia hanya minum air putih yang terdapat di atas nakas. Dia langsung menghabiskan satu gelas penuh air putih itu tanpa sisa.


Karena dirasa tidak bisa mengganjal rasa laparnya, akhirnya Saras memutuskan untuk memesan makanan lewat aplikasi online, karena dia merasa sangat lelah jadi tidak sanggup rasanya jika harus memasak terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan makannya saat ini.


Beberapa menit kemudian, ada suara bel dari luar. “Sepertinya makanan yang aku pesan sudah datang” pikir Saras. Dia bergegas bangun dan keluar dari kamar untuk mengambil pesanannya.


Meski makanan yang dia pesan adalah menu favorit dari restoran langganannya, namun tidak bisa menuntaskan rasa lapar yang dirasakannya. Saras tetap sedih dan menyesali semua yang terjadi padanya semalam dan itu membuat nafsu makannya menghilang.

__ADS_1


“Apa yang harus aku lakukan jika aku hamil gara-gara semalam? Apakah aku harus mencari pria itu? Sepertinya wajahnya tidak asing. Tapi aku meninggalkannya tanpa mengatakan apa-apa, apakah dia akan mempercayai perkataanku, bahwa dia yang sudah mengambil kehormatanku? Tapi bukankah aku yang menyerahkan diriku padanya tanpa paksaan? Aaarrgghh....” Saras membatin sambil meremas rambutnya. Dia benar-benar tidak bisa memikirkan apapun saat ini.


Akhirnya Saras kembali ke kamar dan berniat tidak akan memikirkan hal itu lagi. “Semoga saja aku tidak hamil, jadi aku masih bisa melanjutkan kehidupanku lagi dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa" batinnya.


Sore harinya Wulan menepati janjinya untuk mengunjungi Saras. Dia membawakan mie ayam kesukaan Saras. Dia yakin Saras belum makan, karena jika sedang sakit gadis itu pasti malas untuk makan.


Setelah cukup lama memencet bel rumah Saras, akhirnya gadis itu keluar juga untuk membukakan pintu untuk Wulan.


"Kamu jadi mampir Lan?" tanya Saras sesaat setelah mereka berdua masuk ke dalam rumah.


"Iya, aku khawatir sama kamu Ras. Biasanya kalau sakit, kamu tuh gak mau makan. Nih aku bawakan mie ayam langganan kita di depan kantor" balas Wulan sambil menyerahkan bungkusan yang dibawanya.


"Waah kamu baik banget sih Lan. Tadi aku sudah pesan makanan, tapi kog selera makanku tiba-tiba hilang, jadi aku gak jadi makan" jawab Saras.


"Ya sudah kamu makan dulu, nanti keburu dingin" perintah Wulan lagi dan dibalas anggukan oleh Saras.


"Kog cuma satu, kamu gak beli sekalian?" tanya Saras.


"Gak aku masih kenyang. Lagipula nyokap pasti marah kalau aku gak makan masakannya" Wulan menjelaskan.


"Oh gitu, ya udah aku tinggal sebentar ya?"


Saras langsung menuju dapur untuk mengambil piring dan sendok, lalu kembali ke ruang tamu dimana Wulan sahabatnya berada.


"Kamu sudah periksa ke dokter?" tanya Wulan kembali.


"Gak perlu Lan, paling aku cuma kecapekan. Besok aku sudah masuk kog" jawab Saras sambil memasukkan mie ayam ke dalam piring dan segera menyendokkan ke dalam mulutnya. Sepertinya mie ayam itu mampu mengembalikan nafsu makannya yang tadi sempat hilang.

__ADS_1


Saras tidak ingin menceritakan tentang kejadian yang dialaminya semalam. Selain malu, Saras pikir semua hanya kebetulan dan dia berharap tidak akan bertemu kembali dengan pria yang sudah menidurinya itu.


Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya Wulan pamit pulang dan mengatakan agar Saras bisa segera pulih dan kembali bekerja keesokan hari.


__ADS_2