Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Tolong beri tahu aku


__ADS_3

Kartika baru saja membuka mata, ketika di lihatnya Halim yang masih tertidur di sisi ranjang sambil menggenggam tangannya. Kartika menatap lelaki yang sudah di anggap sebagai kakaknya dengan mata sayu.


Mengapa kau menyimpan rasa cinta yang begitu dalam padaku, sedangkan aku tidak bisa membalas perasaan itu. Lelaki yang ku inginkan bukan dirimu tapi Kevin. Takdirku menjadi istrinya walaupun sakit dan derita terus menerus menghampiri dirinya jika terus bersamanya.


Kartika perlahan menghapus buliran bening yang lolos dari matanya begitu saja.


Dadanya sesak setiap kali mengingat Kevin.


Suara Isak Kartika membangunkan pria yang sedang tertidur pulas di atas kursi yang sebagian tubuhnya menelungkup di tempat tidur tidak jauh dari tubuh Kartika.


"Kenapa menagis? apa ada yang sakit! aku panggilkan suster ya?" Ilham duduk tangannya memeluk bahu Kartika.


"Tidak apa-apa hanya saja aku ingin sekali bertemu dengan Kevin!" Isak Kartika menjawab pertanyaan Halim.


Halim kesal usahanya sama sekali tidak bernilai di mata Kartika. Wajah pria itu berubah merah, tangannya mengepal.


"Cukup. Jangan lagi kau sebut nama itu di depanku!" Wajah Halim merah padam menahan amarahnya yang memuncak ke ubun-ubun.


"Aku sudah berusaha ingin mengeluarkan mu dari rasa sakit yang dia berikan padamu dan aku ingin melindungi mu dari amarah Kakek. Tapi kau sama sekali tidak paham.


Cukup berada di sisiku dan tidak menyebut namanya bisa kan? Aku hanya ingin sedikit perhatian darimu walaupun aku tahu itu tidak mungkin. Bahagiakan aku walaupun itu palsu dan hanya pura-pura tidak apa," ucap Halim marah-marah.


Kartika tertegun baru sadar jika telah sangat dalam melukai hati kakaknya.


Sementara itu Kevin terus mencari Kartika.


"Cari sampai ketemu di mana keberadaan Kartika dan Halim. Jika tidak aku akan melenyapkan kalian semua!" tunjuk Kevin pada para pengawal yang ada di hadapannya.


Para lelaki gagah itu hanya bisa menjawab "iya." Nyawanya kini ada dalam taruhan sekarang ini.


"Ayo, lekas kita lacak keberadaan mereka." Komando salah satu ketua dari mereka.


Setelah memberi hormat pada Kevin para penjaga itu memohon diri untuk mengerjakan tugas yang di berikan Kevin.


Tika, kamu pergi kemana bersama Halim? aku tidak percaya kamu meninggalkan ku. Pasti ada yang salah. Kamu bersikap manis kemarin. Seharusnya aku tidak mudah percaya ucapanmu yang meminta untuk tinggal tidak mau ikut berbelanja bersamaku. Seandainya kita pergi bersama pasti kejadian ini tidak akan pernah terjadi.

__ADS_1


Aku yang salah, aku yang tidak peka. Bahwa sanya di luar sana banyak para pengawal yang akan memisahkan kita.


Seandainya kejadian bisa di putar ulang aku pasti tidak akan pernah melepaskan genggaman tanganku darimu lagi


Aku janji jika aku menemukanmu tidak pernah akan kulepaskan genggaman tanganku walaupun harus di tukar dengan nyawaku sendiri.


Ya Allah tolong pertemukan kembali aku dengan istriku jika benar dia memang jodohku sampai akhir.


Reflek Kevin mengangkat kedua tangan untuk berdoa dan setelahnya mengusap wajah dengan kedua tangan.


Sudah satu Minggu Kartika di rawat di rumah sakit, kini tiba waktunya untuk pulang. Kartika sebetulnya ingin pulang ke rumah. Namun, Halim memberikan pilihan ikut dengannya atau terbunuh di tangan para pengawal kakek, karena kakeknya pun sedang mencarinya.


Kartika pun terpaksa menerima tawaran Halim untuk menyewa sebuah rumah yang dekat dengan rumah sakit.  Di sana mereka hidup berdua. Halim masih sabar menunggu supaya Kartika mau untuk di dipersunting olehnya. Walaupun sudah tinggal satu rumah tetapi Kartika masih menjaga jarak dengan Halim. Wanita itu masih berpikir dirinya masih milik Kevin walaupun pernikahannya palsu tetapi ijab kabul tetaplah Syah menyatukan dua hati dan raga mereka.


Dari kejauhan seseorang menatap Kartika dengan rasa rindu yang menggebu. Ya dialah Kevin yang baru saja menemukan Kartika, di sebuah kampung kecil di dekat kota Bandung, Sumedang nama kampung tersebut.


Kartika tengah asyik memilih sayuran dan beberapa buah-buahan untuk stok makanan di kulkas.


Kartika bertanya dan tersenyum pada penjual sayur. Sikapnya yang ramah membuat pedagang sedikit menggodanya. Ketika akan membayar belanjaan tangan Kartika di tahan oleh lelaki si penjual dan di elus punggung tangannya. Kartika kaget langsung bersikeras menarik tangannya kembali. Hingga hampir terjatuh ke belakang. Namun, ada seseorang yang menahan tubuhnya hingga tidak jadi terjatuh. Kartika melirik ke arah pria yang menolongnya. Ketika mengetahui bahwa yang menolongnya adalah Kevin, Kartika kaget.


"Tidak sesulit mencari jarum di tumpukan jerami untuk mencari keberadaan mu."


Wajah Kartika memerah mendengar jawaban atas pertanyaannnya. Lelaki itu selalu saja bisa membuatnya tersipu malu.


"Ikutlah pulang bersamaku, bukankah kita akan memulai semuanya dari awal lagi?"


"Maaf tapi rasanya itu tidak mungkin semua orang hanya ingin melenyapkan diriku."


"Itu tidak benar. Aku akan melindungimu, percayalah padaku."


"Baiklah, aku ingin mempercayaimu sekali lagi."


Keduanya masuk ke dalam mobil


Sementara Halim mencari Kartika yang tidak di dapatinnya di dalam rumah.

__ADS_1


"Kemanakah perginya Kartika, di seluruh ruangan dan penjuru rumah tidak ada. Sial aku lengah lagi jangan-jangan dia kabur dariku kali ini."


Halim memukul tembok dengan tinjunya, melampiaskan amarahnya.


Padahal tinggal selangkah lagi dirinya akan mendapatkan hati Kartika. Namun, Tuhan berkata lain Dia malah menjauhkan Kartika darinya. Seharusnya Halim sadar bahwa Kartika bukanlah takdirnya. Tapi dia terus saja mengejar. Yang pada akhirnya hanya torehan luka yang didapatkannya.


Merasa di tempat itu kini hanya sendiri, Halim berniat untuk kembali ke rumah Dahlan untuk berkumpul kembali dengan keluarga yang sudah beberapa bulan di tinggalkan.


Satu demi satu helai baju di masukan ke dalam koper, teringat kembali saat hari-harinya bersama Kartika walaupun Kartika lebih sering terlihat murung tapi Halim tidak peduli yang terpenting Kartika bersamanya itu sudah membuatnya bahagia.


Kartika pun menurut tak pernah sekalipun menyebut nama Kevin orang yang paling ingin di singkirkan dari hati Kartika


Halim mengunci pintu dan melangkah keluar pagar. Menatap sesaat rumah yang membuatnya bahagia walaupun hanya sesaat. Pria itu menghampiri rumah yang tidak begitu jauh untuk mengembalikan kunci sekaligus berpamitan pada pemilik rumah.


Sungguh senang hati Kartika dapat kembali berkumpul dengan keluarganya. Itu semua berkat Kevin yang membawanya kembali ke rumahnya.


Kartika bergegas masuk menerobos para penjaga dan berteriak memanggil ibunya.


"Ibu, kamu di mana ?"


Kartika terus melangkah memasuki teras rumah. Baru saja beberapa langkah suara keras mengagetkannya.


"Cukup ..., berhenti di situ! Jangan teruskan langkahmu lagi. "


Satu tembakan di lepaskan ke atas sebagai tanda peringatan.


Kartika menoleh ke arah suara tembakan yang memekakkan telinganya.


Kartika melihat kakeknya sedang berdiri menghadang langkah kakinya di depannya.


"Kakek, aku ini cucumu biarkan aku tinggal di sini bersama ibu."


"Kamu bukan cucuku, tapi pembawa sial. Harga diriku jatuh karena ulahmu!"


"Maafkan aku kakek, maafkan aku. Aku sungguh tidak tahu apa-apa tentang perseteruan mu dengan keluarga Kevin Ada apa sebenarnya tolong beri tahu aku?"

__ADS_1


__ADS_2