
Titin menarik tangan putri nya menyuruh untuk duduk.
"Biar Ibu jelaskan."
"Mengapa Ibu tidak berterus tentang sebelumnya? Mengapa Ibu menyembunyikannya? Sekarang bagaimana dengan ku?"
"Tenanglah dulu, dengarkan apa yang ingin Ibu ceritakan padamu jangan menyanggah perkataan Ibu dulu."
Titin berusaha bersikap lembut walaupun dalam hati kecewa karena putrinya berani mengambil surat itu darinya dan tanpa ijin darinya terlebih dulu.
"Kamu dan Kevin tetap suami istri karena tidak ada pertalian darah?"
"Maksud Ibu bagaimana? di surat itu jelas-jelas ditulis bahwa Kevin anak Royadi yang berarti dia itu kakakku!"
"Kebenarannya tidak seperti itu sayang. Dengarkan cerita Ibu dulu baru kau boleh menyela."
Kartika menghapus air matanya menatap Titin.
Titin menarik nafas panjang dan mulai bercerita.
"Semua berawal dari kesalahan yang Ibu lakukan, bermain hati dengan Royadi.
Ibu tertarik padanya karena sikapnya yang lembut sehingga ayahmu meninggalkan Ibu dan tidak percaya jika anak yang ku kandung adalah anaknya."
Mendengar penuturan dari Ibunya, Kartika merasa langit runtuh menimpanya. Iya tidak menyangka jika orang yang sudah dianggap sebagai ayahnya ternyata bukanlah ayahnya.
Dadanya sesak, Kartika menjerit menumpahkan rasa kecewa pada Ibunya yang terus menyembunyikan kebenaran sehingga baru terungkap sekarang.
Bagaimana kini dirinya melewati harinya yang mengetahui jika dirinya bukanlah bagian dari keluarga ini.
Kartika menangis menjambak rambut ikalnya kembali. Titin yang melihatnya Kartika seperti itu meraih putrinya ke dalam pelukannya kembali.
"Maafkan Ibu, sayang."
Titin membelai rambut, menghapus air mata yang tak kunjung berhenti dari sudut mata putrinya.
Dadanya kini sesak, terluka melihat keadaan putrinya yang syok mendapati kebenaran tentang siapa dirinya.
__ADS_1
Pantas saja kakeknya tidak pernah menerima dirinya ternyata memang dirinya bukanlah bagian dari keluarga ini. Kakek tidak salah akulah yang tidak tahu diri ingin mendapatkan perhatian yang lebih darinya padahal aku bukanlah cucunya.
Air mata terus mengalir dari sudut mata Kartika bak anak sungai yang tak mau berhenti.
Kartika terpuruk mengetahui dirinya bukanlah anak dari Royadi yang dianggap sebagai ayahnya yang selalu dibanggakan olehnya. Pria penyayang dan penuh perhatian itu ternyata bukanlah ayahnya. Dunianya hancur berkeping mengetahui hal itu.
Kartika berlari keluar dari rumah Dahlan. Wanita itu sedih sekaligus kecewa pada kedua orang tuanya. Karena sudah menyembunyikan status dirinya hingga hari ini. Seandainya dari kecil tahu mungkin dirinya tidak akan merasakan sesakit ini.
Titin yang tidak bisa menahan anaknya untuk pergi menjadi kalut. Wanita itu segera menyambar gagang telepon kemudian menekan beberapa nomor yang hafal. Titin menghubungi Royadi yang masih ada di kantor, belum jamnya untuk pulang.
Setelah tersambung Titin menceritakan kondisi Kartika yang telah mengetahui bahwa dia bukanlah anaknya dan keadaannya sekarang buruk putrinya kabur dari rumah entah kemana. Titin tidak bisa mencegah putrinya karena itu ia menyuruh Royadi untuk membujuknya pulang kembali ke rumah.
Royadi yang mendapat telpon serta berita kepergian Kartika merasa kaget hatinya menjadi resah tidak karuan. Pria itu sama sekali tidak menyangka jika Kartika akan mengetahui status dirinya secepat ini.
Royadi menutup telpon. Wlaupun Kartika bukan anak kandungnya, tetapi ia sudah menyayanginya layaknya anak sendiri tidak membedakannya dengan mentari yang memang anak kandungnya.
Baginya mentari dan Kartika adalah bagian dari dirinya. Ia akan menjaga keduanya sebisa yang ia mampu hingga nafasnya tiada.
Royadi menelpon Kevin untuk meminta bantuan mencari Kartika karena Dia tahu pria itu juga tentu akan mengkhawatirkan Kartika.
Setelah menceritakan apa yang terjadi pada Kartika, Kevin ingin ikut mencari Kartika.
Royadi sampai di tempat itu terlebih dulu. Betul saja ketika sampai di sana pria itu melihat Kartika sedang duduk di kursi menatap lurus ke depan.
Royadi menghampiri Kartika duduk di sebelahnya.
Kartika yang mengetahui ada seseorang yang duduk di sebelahnya menoleh. Menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya.
Kartika kaget ketika melihat sosok yang duduk di sisinya adalah Royadi orang yang dianggap sebagai ayahnya sendiri.
Kartika menjadi canggung berusaha tidak memeluk Royadi seperti yang biasa di lakukannya jika sedang sedih. Pria paruh baya paham dengan rasa canggung Kartika sehingga pyia itu meraih bagi Kartika, menariknya ke dalam pelukannya.
Mendapat perlakuan dari yang di anggap sebagai Ayah. Tangis Kartika pecah dadanya kian sesak mengetahui pria yang duduk disampingnya bukanlah Ayahnya sendiri.
Royadi membelai rambut Kartika kemudian mengecup kepalanya.
Royadi melepaskan rangkulannya menatap wajah putrinya, Royadi mengusap buliran bening yang terus mengalir dari sudut mata Kartika.
__ADS_1
"Kartika bagaimana pun kau tetaplah putri ayah. Jadi janganlah bersedih setelah tahu kenyatannya. Ayah tetap menganggap dirimu sebagai bagian dari jiwa ayah. Masih sama seperti sebelum kamu mengetahui kenyataannya.
Air mata Kartika semakin deras, wanita itu tidak kuasa menahan tangis. Pria di sisinya tidak berubah sama sekali. Kasih sayang yang di berikan padanya masih sama.
"Ayah."
Hanya kata ayah yang terucap dari bibir Kartika yang tidak kuasa menahan tangis. Kartika memeluk Royadi kembali menumpahkan sesak di dadanya yang terasa masih ada yang menghimpit.
Sementara itu Kevin memperhatikan dari kejauhan. Pria itu tidak ingin mengganggu momen keduanya.
Kevin pun baru tahu jika Kartika bukanlah bagian dari keluarga Dahlan.
Keesokan harinya Kartika memberi tahu Kevin bahwa dirinya bukanlah anak dari Royadi dan menunjuk Kevin sebagai anak kandungnya.
Mendapat penurunan dari Kartika, Kevin tidak percaya mana mungkin Royadi adalah Ayahnya.
Kartika meminta Kevin untuk mengingat kembali kejadian saat Royadi di rumah sakit dan membutuhkan transfusi, bukanlah hanya darahnyalah yang cocok. Apa itu tidak menjadi cukup bukti.
"Dan ini."
Kartika mengeluarkan sepucuk surat yang di ambil dari kamar ayah dan Ibunya seperti yang di sarankan kepadanya.
Kevin mengambil kertas dari tangan Kartika kemudian membaca isinya.
Kevin tersentak kaget mengetahui isi dari surat itu, memang benar dirinya memiliki tahi lalat di leher bagian belakang. Tapi bukankah banyak orang yang mempunyai tahi lalat di bagian leher bukan hanya dirinya saja.
Kevin tidak ingin percaya masih pada pendiriannya bahwa dirinya bukan anak dari Royadi.
Walaupun sudah jelas cincin itu membuktikan bahwa dirinya memanglah anaknya. Tapi Kevin tetap menyangkalnya, menurutnya itu tidak mungkin dan tidak masuk akal.
Walaupun Kartika bukanlah bagian dari keluarga ini, wanita itu masih ingin membantu kevin.
Kartika dan Royadi membawa Kevin untuk menemui Ibunya yang berada di desa. Supaya ia percaya bahwa ibunya masih hidup dan tinggal di tempat yang berbeda.
Tempat yang jauh dari tempat tinggalnya. Namun keduanya belum mengatakan apa pun tentang Humaira.
Ketika tiba di sebuah gubuk kecil sederhana Royadi menghentikan mobilnya dan mengajak Kevin dan Kartika untuk mengikutinya turun.
__ADS_1
Dilihatnya ada seorang wanita setengah baya sedang menjemur rengginang. membolak-balik rengginang yang sudah agak kering, kemudian di masukan ke dalam wadah.