Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Hukum rimba


__ADS_3

Ati yang menjadi penghuni lapas merasa tidak nyaman, Ati yang menjadi penghuni baru sering mendapatkan perintah dari orang yang lebih lama di sana.


"Hei, pembunuh tak seharusnya kau tidur di situ. Itu tempatku. Tempatmu di sana."


Wanita berbadan gemuk itu menunjuk lantai tanpa alas.


Ati yang tak terima harus tidur di lantai tidak mempedulikan ucapan dari wanita gemuk tersebut. Si wanita mendekati Ati kemudian menarik tangannya hingga bangkit berdiri. Wanita itu menampar beberapa kali wajah Ati.


Ati yang tak terima tiba-tiba di tampar balik menampar wanita tersebut.


suasana menjadi gaduh hingga keduanya menjadi tontonan para napi lain dengan rambut dan yang tidak karuan.


Seorang penjaga lapas datang, membuka pintu jeruji kemudian masuk ke dalam.


"Kalian berdua hentikan. Jika tidak aku akan memperlama masa tahanan kalian!"


Suara lantang opsir mengagetkan keduanya hingga dua wanita tersebut menyudahi pertempurannya.


"Kamu ikut saya!"


Ati mengikuti opsir tersebut meninggal wanita gemuk yang hanya bisa menatapnya dengan sinis.


Ati sampai di depan pintu untuk besuk.


"Ati," tegur pria dengan wajah Koreanya.


Ati menghampiri seorang yang ingin menjenguknya, ia tertegun ketika melihat pria tersebut adalah pria yang berada di bar itu.


"Ada perlu apa kamu datang kemari?"


"Aku ingin membebaskan dirimu jika kamu mau menikah denganku."


"Apaaaa, menikahhhh."


Ati sungguh terkejut dengan ucapan pria yang belum di ketahui namanya itu.


"Jangan mimpi, jika aku akan menikah denganmu."


"Ya sudah jika kamu menolak, terus lah di sini hingga membusuk di penjara."


"Hei .... Tidak sopan berbicara kasar seperti itu pada wanita."

__ADS_1


"Kalau sendiri yang mulai berbicara kasar padaku."


Ati yang sedikit emosi mulai mengontrol emosinya kembali. Ia sadar tindakannya tadi salah. Padahal pria di hadapannya berniat baik. Namun, Ati malah menghardiknya.


"Kamu tidak jadi menebusku?"


"Jadi jika kamu mau menjadi istriku? seperti yang tadi kukatakan."


"Bagaimana bisa kamu memintaku untuk jadi istrimu, sedangkan kita kenal saja belum."


"Oleh sebab itu kita kenalan dulu."


"Maaf waktu besuk sudah habis."


"Tolong perpanjangan sebentar lagi!"


"Tidak bisa tuan, tuan bisa berkunjung lagi esok hari di waktu dan jam yang sama."


Harun kecewa mendengar jawaban yang di berikan petugas. Ati pun belum sempatĀ  menanyakan siapa namanya. Pria itu sudah di minta untuk meninggalkan dirinya. Sebetulnya siapa dia kenapa mau repot-repot membebaskanku dan ingin menikahi ku padahal belum saling kenal.


Memang priavitu terlihat tampan tapi Ati belum tahu tingkah lakunya seperti apa.


Ilham yang di kira menyukainya hingga saat ini belum mengatakan apa-apa. Sehingga hatinya terus terpaut pada Kevin yang sempat beberapa bulan menjadi pacarnya.


Kini ada pria itu yang juga menggiginkannya. Apakah ini awal yang baik untuk dirinya ataukah petaka yang menanti dirinya ketika keluar dari jeruji ini.


Ati di antar petugas untuk kembali ke dalam tahanan berkumpul kembali dengan para tahanan lain.


Saat makan siang, Ati turut mengantri untuk mengambil jatah makan.


Setelah piringnya terisi nasi dan lauk pauk sederhana ia duduk di dekat tahanan lain. Baru akan menyendok nasi tiba-tiba ada kecoa yang terbang hinggap di atas makanannya. Ati merasa mual dan meninggalkan makanannya di lantai begitu saja. Ati berlari ke kamar mandi. perutnya merasa mual ketika makanannya di hinggapinya kecoa. Ati memuntahkan isi perutnya hingga terasa lemas.


Sementara tahanan lain yang melihat tindakan Ati menertawainya.


Sepertinya Ati di kerjain oleh tahanan lain yang lebih senior.


Setiap tindakan pasti ada balasannya, pun Ati mungkin sedang menerima balasan atas perlakuannya terhadap Kartika yang sewenang-wenang.


Saat malam pun Ati tidak bisa tidur gelisah karena kedinginan. Wanita itu harus tidur di lantai tanpa alas, sedangkan yang lain memakai tikar walaupun kucel dan jelek setidaknya tidak merasakan dinginnya lantai.


Ati duduk memeluk lututnya. Menatap seluruh penjuru ruangan. Semua orang tertidur dengan nyenyak nya. Perutnya berbunyi keroncongan. Ati teringat kejadian tadi siang yang makanannya di hinggapi kecoa sehingga wanita itu tidak makan sama sekali dan kini merasa lapar. Itu juga yang menyebabkan tidurnya menjadi gelisah.

__ADS_1


Ah tinggal di sini itu memang tidak enak, aku tidak menyangka jika Kevin yang akan memenjarakannya bukannya membiarkan diriku bebas berkeliaran.


Sial, sial .... Mengapa nasibku senaas ini.


Semua ini gara-gara dia ya dia Kartika sepupu palsu yang tidak ada hubungan keluarga dengannya.


Andai dia tidak ada mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Aku pun tidak mungkin ada di sini gara-gara ingin membunuh Kartika dan bayinya.


Memang nasi sudah terlanjur menjadi bubur tidak bisa di sulap menjadi nasi kembali.


Ati harus menuai derita atas tindakannya sendiri.


Ayah, ibu aku ingin keluar dari sini. Tolong bebaskan aku. Aku berjanji tidak akan berbuat jahat lagiiii ....


Ati menangis dalam keheningan malam dengan menyebut nama ayah dan ibunya. Wajahnya di benamkan di lututnya. Tangisnya tidak bisa di tahan hingga merasa sesak di dada jika tidak di lepaskan. Setidaknya setelah menangis dadanya akan terasa lebih ringan.


Tanpa sadar Ati tertidur dengan posisi seperti itu, sehingga saat bangun pagi badannya terasa sakit seakan telah di pukuli seseorang.


Ati memutar pinggangnya ke kanan dan ke kiri untuk menghilangkan pegal-pegal di tubuhnya hingga berbunyi grek. Memutar leher ke kanan dan ke kiri hingga berbunyi grek. Menekan jari-jarinya hingga berbunyi.


Bangun tidur yang di dapatkan bukannya segar tetapi lelah yang terasa tidak terhingga.


Ati sudah siap untuk mengantri mandi di deretan kamar mandi yang berderet.


Ketika seseorang keluar dari kamar mandi bukannya masuk namun, Ati membiarkan di dului orang karena melamun.


Ati tersadar ketika seseorang menepuk pundaknya dan menyuruhnya untuk masuk.


Ketika masuk kamar mandi dan telah melepas pakaian, keran air yang Ati putar berhenti mengeluarkan air. Sedangkan air yang berada di ember yang tidak begitu besar airnya hanya terisi setengah tidak cukup untuk menyiram tubuhnya.


Setelah berpikir akhirnya Ati mengurungkan niatnya untuk mandi, memakai pakaiannya kembali. Ati hanya menggunakan air yang ada untuk menyikat gigi dan mencuci muka saja.


Saat makan Ati mengalami hal yang sama makanannya di hinggapi kecoa lagi. Namun, kali ini Ati bersikap cuek jika tidak makan nasi tubuhnya akan rentan terkena penyakit jadi walaupun makanan bagiannya di hinggapi kecoa Ati berusaha untuk tidak jijik. Ati membuang kecoa tetap memakan nasi bagiannya hingga tandas. Walaupun Ati merasa jijik tapi ia membuang pikiran itu jauh-jauh.


Ati tidak membiarkan dirinya terus di tindas di dalam lapa. Sebaliknya Ati yang harus menindas untuk memberi mereka pelajaran.


Tahanan lain menatap dan memperhatikan Ati yang sekarang terlihat lebih kuat dari sebelumnya.


Ati sadar jika terus mengalah dirinya pasti akan terus di tindas. Jika ia kuat pasti mereka tidak akan berani menindasnya. Sepertinya hukum rimba berlaku di sini.


Siapa yang kuat dan berani dialah yang akan menjadi pemimpin dan di hormati oleh para napi lain.

__ADS_1


__ADS_2