
"Tunggu ..., apa Nenek ada hubungannya dengan Kevin."
Kartika mencengkram lengan wanita tua itu ingin mencari tahu ada apa sebenarnya yang terjadi.
Wanita tua itu menatap Kartika dengan senyum sinis. Sesaat kemudian Salamah melepaskan cengkraman tangan Kartika dengan kasar hingga terlepas dengan mudah. wanita tua itu berjalan melewati Kartika meninggal dirinya seorang diri di tengah kerumunan orang banyak.
"Hai, cantik ikut denganku saja." Seorang lelaki mabuk menghampirinya. Kartika terpaksa menghindar. Berlari tak tentu arah untuk menghindari pria mabuk itu.
Kartika tidak punya tidak punya tujuan kemana ia harus berlindung dan meminta pertolongan. Rumah ia tak punya. Suaminya telah membuangnya.
Kartika terus berlari menghindari semua tatapan laki-laki yang menggodanya.
Seorang bapak menghampiri dirinya yang sedang terduduk di tepi trotoar karena capek setelah berlari terus.
"Di sini berbahaya, Ikutlah denganku!"
Kartika menatap pria tua yang ada di depannya. Kartika ingin mempercayai pria tua di depannya. Wanita itu berharap pria yang ada di depannya adalah pria tua yang baik. Namun, Kartika masih berhati-hati ia takut di bohongin lagi. bisa saja ia di jadikan pemuas napsu bapak tua di depannya. Kartika bergidik ngeri jika membayangkannya.
__ADS_1
Ya Allah lindungilah aku dari orang-orang yang ingin berbuat jahat padaku. hanya engkau satu-satunya tempat berlindung ku.
Kartika mengikuti langkah kaki pria tua yang berjalan di depannya. Sampai di sebuah rumah sederhana. Kartika di persilahkan masuk.
Kartika menurut walaupun detak jantungnya kini tak beraturan antara takut dan percaya.
"Beristirahatlah."
Pria tua mempersilahkan Kartika masuk ke dalam kamar. Detak jantung Kartika semakin tak karuan.
Kartika ingin mempercayai pria tua itu sehingga memberanikan diri masuk kedalam rumah.
Kartika menurut membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Kemudian pria tua menyelimutinya dan menyuruhnya untuk memejamkan mata.
"Tidurlah, supaya badanmu segar."
Kartika hanya menatapnya dan mencoba menutup kedua matanya. Lelaki tua keluar dari kamar. Ia tahu Kartika merasa canggung terhadapnya.
__ADS_1
Kartika bisa bernapas lega. Ternyata Pria itu memang lelaki baik.
Baiklah segera lah tidur Suci supaya badanmu menjadi segar kembali.
Kartika terbangun ketika di dengarnya seseorang sedang sibuk di dapur dan tercium bau harum nasi goreng dari arah dapur. Wanita berpakaian pengantin duduk di sisi ranjang.
Kartika merasa tubuhnya sudah lebih segar dari sebelumnya.
Wanita itu melangkah keluar dari kamar. Matanya nanar menatap seluruh ruangan kemudian ia duduk kembali di kursi yang berada di ruang tamu. Pria tua datang menghampiri di tangannya membawa sepiring nasi goreng. Di sodorkannya piring dari tangannya. Kartika menatap pria tua itu menerima piring nasi dari tangannya.
"Makanlah supaya kau, mempunyai tenaga untuk pergi dari sini."
"Anda menyuruhku untuk pergi?"
"Maaf tak pantas jika kita hidup dalam satu rumah, aku hanya berniat menolong mu."
Kartika berhenti mengunyah nasi yang berada di dalam mulutnya. Mengapa dia tadi menolongku? dan sekarang menyuruhku untuk pergi? Seharusnya jika tak ada niat untuk menolong urungkan saja niatmu tadi. Hatiku yang tadi sedikit tenang kini menjadi gundah kembali. Harus kemanakah aku pergi dan mencari tempat bernaung?
__ADS_1
Kartika mengambil gelas berisi air putih dan buru-buru meneguk habis isinya. Tenggorokannya tiba-tiba menjadi serat seketika.
"Pulanglah keluargamu, pasti akan menerimamu kembali."