
Waktu menunjukkan pukul 5 sore, itu menandakan sudah tiba saatnya pulang kerja. Saras merapikan meja dan berkas-berkas yang dikerjakannya. Karena hari ini Wulan lembur, jadi Saras harus pulang sendiri dengan naik kendaraan umum.
Doni, Hera dan Hera pun bergantian pamit untuk pulang terlebih dahulu, sementara Dika sengaja keluar paling akhir, menunggu Saras selesai.
Dirasa tidak ada teman lainnya, Dika memberanikan diri untuk mendekati Saras.
"Hari ini kamu pulang bareng Wulan, Ras?" tanya Dika ragu
"Gak, aku pulang sendiri, Ka. Wulang hari ini harus lembur karena kerjaannya numpuk" jawab Saras sambil terus merapikan meja dan alat tulisnya
"Bagaimana kalau kamu pulang bareng aku?" Dika mencoba menawarkan diri
"Gak usah, makasih Dik. Aku bisa pulang sendiri. Lagian rumah kita kan gak searah? Nanti aku malah ngerepotin kamu" balas Saras, sebenarnya dia sangat canggung dengan suasana ini, ditambah lagi dia tidak menyimpan perasaan khusus pada Dika, jadi dia tidak mau memberikan harapan palsu pada laki-laki itu.
"Gapapa Ras, sekalian aku mau ke rumah kakakku, kan searah sama rumah kamu" Dika masih pantang menyerah
Saras diam memikirkan penawaran Dika, karena badannya juga masih belum begitu fit setelah kejadian itu, jadi daripada berdesakan di dalam angkutan umum, lebih baik dia terima penawaran Dika saja, itung-itung irit ongkos juga.
"Baiklah kalau tidak membuat kamu repot, Dik" jawab Saras akhirnya.
"Gak kog. Kalau gitu kamu tunggu di lobi saja ya, aku ambil mobilku dulu" perintah Dika lalu dia keluar menuju lift dan turun di lantai basement perusahaannya.
Setelah menyetujui permintaan Dika, Saras keluar dari ruangan dan menguncinya, lalu berjalan menuju lift untuk turun ke lobi dan menunggu Dika disana.
Sementara Bintang sudah membereskan berkas-berkas yang sudah ditandatangani dan menyerahkannya pada Anton, lalu dia bergegas keluar dari ruangannya dan turun ke lobi sambil menunggu Anton yang sedang mengambil mobil untuk mengantarnya pulang.
Sesampainya di lobi, dia melihat sosok gadis yang beberapa hari ini selalu bermain di pikirannya. Bintang berniat untuk mendekati gadis itu dan mengingatkan malam panjang yang telah mereka lalui bersama, namun belum juga langkahnya mencapai keberadaan gadis itu, dia melihat ada sebuah mobil yang berhenti di depan pintu lobi dan gadis itu ikut masuk ke dalam mobil itu.
Bintang hendak berteriak dan mengejarnya, namun dia belum lupa kalau disini dia menjabat sebagai CEO, jadi dia tidak mungkin melakukan kekonyolan itu. Bisa-bisa harga dirinya jatuh di depan semua anak buahnya.
Akhirnya Bintang hanya bisa menghembuskan nafas kasar dan merutuki Anton yang sangat lama mengambil kendaraan untuk mengantarnya.
Sesaat kemudian Anton tiba di depan pintu lobi dan seorang pegawai keamanan membukakan pintu untuk Bintang.
"Apa kamu tidak bisa sedikit lebih cepat, Ton?" bentak Bintang pada asistennya
__ADS_1
Anton kaget mendapat pertanyaan seperti itu.
"Aku sudah mengambil kendaraan dengan kecepatan tinggi seperti biasanya. Memangnya ada hal urgen apa sehingga kamu meminta agar aku mengambil kendaraan cepat-cepat?" tanya Anton dengan nada ketus dan non formal karena mereka sekarang berada di luar kantor.
"Tadi aku melihat gadis itu di lobi. Dia dijemput seseorang, sepertinya pria tidak asing, apa mungkin dia bekerja di perusahaan juga? Apakah dia kekasihnya? Bukankah dia bilang benci dengan kekasihnya, lalu mengapa tadi dia mau saja dijemput oleh laki-laki brengs*k itu?" Bintang mulai nyerocos
Anton hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir dengan bos sekaligus sahabatnya itu yang tiba-tiba jadi super cerewet setelah mengenal gadis yang bernama Saras.
"Lalu urusanmu apa?" Apa kamu mau mengejarnya lalu bilang pada kekasihnya kalau Saras sudah kamu tiduri, begitu?" ejek Anton
Bintang tidak menjawab. Dia membenarkan perkataan Anton. Dia juga tidak habis pikir, mengapa dia harus larut dalam permasalahan gadis yang bahkan mungkin tidak mau bertemu apalagi berhubungan dengannya.
"Besok kita harus pulang lebih dulu, jadi aku bisa mengikutinya dan tahu dimana alamat rumahnya" kata Bintang
Anton kembali menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak bisa mengerti kemana jalan pikiran sahabatnya ini.
"Kenapa kau bertingkah seperti orang bodoh?" tanyanya
"Apa maksudmu mengatakan kalau aku bodoh?" jawab Bintang sinis
"Oiya, aku hampir lupa. Terima kasih sudah mengingatkan ku Ton"
"Jangan bilang kalau kau sudah jatuh cinta pada Saras" cebik Anton
"Entahlah, setiap saat bayangannya selalu berada dalam otakku Ton. Bisa gila aku kalau tidak segera menemuinya" kata Bintang sambil meremas rambutnya.
"Tenang saja. Nanti malam kamu bisa datang kerumahnya langsung, kalau kamu penasaran dengan Saras"
"Lalu aku harus ngomong apa Ton? Aku tidak punya alasan untuk datang kerumahnya secara mendadak. Dia pasti menyangka kalau aku akan menuntut sesuatu padanya. Padahal niatku hanya ingin mengenalnya lebih dekat dan berusaha mempertanggungjawabkan perbuatanku" jawab Bintang lemah.
"Kalau kamu belum yakin, sebaiknya kamu ikuti saranku saja. Jadi kamu bisa dekat dengannya setiap hari"
"Baiklah akan aku pertimbangkan saranmu. Semoga dia bisa menerimanya, karena rasanya ini mustahil bagiku"
"Belum juga dicoba, udah nyerah duluan" ejek Anton
__ADS_1
"Jangan ngomong macam-macam. Apa mau gajimu kupotong? Sejak tadi kau terus saja mengolokku" jawab Bintang tak kalah sinis
"Iya deh iya, aku mengaku salah. Jangan sampai gajiku habis kau potong gara-gara gadis satu malammu itu" jawab Anton dengan nada rendah.
Bintang pun memukul bahu Anton pelan dan tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah berada di parkiran gedung apartemen Bintang.
Setelah menyerahkan kunci mobil pada Bintang, Anton segera mengendarai mobilnya yang diparkir di apartemen Bintang. Setiap hari dia memang memarkirkan mobilnya disana, karena dia harus mengantar Bintang saat pulang pergi kerja.
Tidak ada percakapan yang terjadi antara Saras dan Dika. Mereka terlihat diam dan larut dalam pikiran masing-masing.
Dika yang terlihat canggung berada di dekat Saras, merasa bingung harus bertanya apa. Kalau di kantor, mereka biasa membicarakan masalah pekerjaan. Di saat begini, Dika benar-benar kehabisan akal untuk memulai pembicaraan dengan gadis yang sudah lama disukainya itu.
Pun juga Saras, dia tidak berinisiatif untuk membuka percakapan, karena dia merasa memang tidak ada yang perlu dia bicarakan dengan Dika. Lagi-lagi dia berpikir tidak mau memberikan harapan palsu pada laki-laki itu.
Setelah mobil yang mereka tumpangi dekat dengan alamat rumahnya, Saras memberitahu Dika agar menurunkan nya di salah satu bangunan yang terdapat di jalan itu.
"Jadi rumah kamu disini?" tanya Dika
"Iya"
"Kamu tinggal bersama siapa?"
"Aku tinggal sendirian. Orangtuaku sudah lama meninggal"
"Oh, maafkan aku"
"Iya gapapa. Terima kasih atas tumpangannya ya Dik?"
"Oke Ras, santai saja. Apa kamu mau aku jemput besok pagi?"
"Gak usah Dik, aku sudah biasa dijemput Wulan" tolak Saras
"Baiklah kalau begitu. Aku langsung cabut ya Ras?" pamit Dika dan dijawab anggukan oleh Saras.
Setelah bayangan mobil Dika menghilang di tikungan jalan, Saras langsung membuka pagar dan masuk ke rumahnya.
__ADS_1