Cinta Satu Malam

Cinta Satu Malam
Festival


__ADS_3

Kartika berlutut di kaki Dahlan. Namun, Pria tua itu tidak mengindahkan permohonan cucunya. Dahlan menjambak rambut dan mencakar wajah Kartika hingga berdarah.


Keluarga lain mendengar keributan segera berlari begitupun dengan Royadi dan Titin. Keduanya menghampiri Kartika untuk mengamankannya dari tindakan Ayahnya yang berbuat kasar pada putrinya.


Sementara Kartika hanya diam saja menerima perlakuan kasar dari kakeknya tidak melawan. Tangannya terus menutupi wajahnya untuk melindungi wajahnya dari tindakan kekerasan yang di lakukan kakeknya kepadanya.


Kartika menghormati Dahlan sebagai kakeknya sehingga tidak berani melawan.


Di saat Dahlan lengah, Kartika berhasil mengambil pistol yang ada di tangan kakeknya dengan cepat. Dahlan terkejut tertegun untuk sesat.


Kartika berlari keluar pintu gerbang tujuannya ingin meminta pertanggung jawaban atas  ucapan Kevin ternyata dugaannya salah dirinya tetap tidak di terima di rumah ini.


Dahlan tertegun melihat Kartika berhasil mengambil pistol darinya. Apa yang akan di lakukannya? ini bahaya! naluri seorang kakek tiba-tiba muncul. Ada sedikit kekhawatiran dalam dirinya. Jika dia melenyapkan nyawanya sendiri atau orang lain. Ini tidak bisa di biarkan.


Royadi mengikuti Kartika yang terus saja berjalan sambil membawa pistol di tangannya, Royadi khawatir pada Kartika, apa yang hendak di perbuat nya dengan pistol di genggamannya.


Langkah Kartika berhenti pada sebuah pintu gerbang di sebuah rumah.


Kartika berteriak lantang supaya orang di dalam rumah mendengar teriakannya segera keluar.


"Kevin ..., Kevin ..., ternyata yang kamu katakan itu salah. Sekarang juga aku akan menembak diriku sendiri jika kamu tak keluar!" ancam Kartika pada Kevin.


Kartika berteriak menodongkan pistol ke arah pelipisnya dengan satu tekan saja melayang nyawanya.


Kevin yang sedang berganti pakaian langsung bergegas menghampiri Kartika yang dilihatnya sedang memegang senjata.


Kevin berlari memeluk wanita berambut ikal, hatinya sedih melihat keadaan Kartika yang tersiksa atas ulahnya. Mengapa Tuhan begitu kejam Padanya.


Suci menangis sesenggukan, dalam derai Isak tangisnya berucap," Lenyapkan aku jika sekiranya kedua keluarga bisa berdamai dan hidup berdampingan aku ikhlas."


Kartika merenggangkan dan melepaskan pelukannya. Pistol yang sedari tadi ada dalam tangannya di serahkan pada lelaki di depannya.


Royadi yang mengikuti sampai di rumah itu pun mengarahkan pistol di tangannya mengarah pada Kevin. Royadi berjaga jika Kevin akan bertindak tidak waras.

__ADS_1


Pistol sudah berpindah tangan, Kevin memasukan pistol ke dalam saku jasnya. Tidak ada niat di hatinya untuk melenyapkan orang yang sangat di kasihinya."


Walaupun Kevin tahu Kartika belum sepenuhnya menerima dirinya, ia akan terus bersabar.


Royadi yang melihat Kevin memasukan pistol ke dalam balik jas nya bernafas lega. Berjalan mendekati Kevin memeluk pundaknya pelan. Lelaki paruh baya membiarkan anaknya bersama suami palsu nya.


"Masuklah! Biar kita berbincang di dalam."


"Tidak, aku tidak mau!"


"Ayolah, apakah kamu tidak rindu padaku? Setiap hari aku mencari ke beradaan mu. Tega nya kamu pergi dariku begitu saja, sekarang. Apa Kamu belum sepenuhnya percaya dengan perasaanku padamu. Cintaku tulus suci padamu, Kartika."


Kartika menatap lekat pria yang berdiri di depannya,


Benarkah ucapannya itu bukan hanya buaian seperti angin lalu. Hanya untuk membuatku percaya dan kemudian mencampakkan ku lagi dan lagi.


Tidak aku tidak akan pernah percaya karena yang ada dalam hatimu hanya niat untuk balas dendam bukan cinta.


"Jika tidak percaya, beri aku kesempatan satu hari saja bersamamu. Jika dalam satu hari itu kamu tidak menemukan ketulusan dalam hati dan cintaku kamu boleh pergi dariku untuk selamanya."


Satu hari di rumah ini lagi, rumah yang mewah tetap saja seperti kurungan. lepas dari kandang satu masuk lagi ke dalam perangkap yang lain. Apa hidupku selucu itu.


Kartika sempat berpikir setelah menikah hidupnya bisa bebas. Namun, pemikiranku ternyata salah aku malah terjebak di dalam rumah Djaja seperti tahanan.


Haruskah aku memberi kesempatan kedua! Akankah kali ini dia betul-betul tulus?


Baiklah semoga aku tidak salah mengambil keputusan kali ini. Rasa itu memang masih ada, masih ingin bersamanya tidak ingin terpisahkan lagi.


Kartika ingin membuktikan ucapan Kevin untuk ikut bersamanya lagi.


Dalam satu hari itu kebetulan ada festival perayaan hari jadi kota ada beberapa perlombaan yang diadakan Kevin mengajak Kartika untuk menontonnya.


Kevin juga mengajak Kartika untuk mengikuti lomba layangan. Dalam mengikuti lomba ini Kartika antusias membantu Kevin menerbangkan layangan, menarik ulur benang dengan riang. Senyumnya terkembang sempurna pertanda sangat senang dan menikmati perlombaan, hingga tidak terasa tangannya tergores benang karena menariknya terlalu kuat. Layangan pun oleng karena Kartika melepaskan pegangan tangannya. Kevin yang berada di sebelah yang sedang menggulung benang menghampiri, mengambil jari Kartika yang tergores menghisapnya sesaat.

__ADS_1


"Sudah tidak apa hanya tergores sedikit."


"Maaf, Karena aku layangannya jadi telap."


"Tidak apa-apa, kita ikut lomba hanya untuk senang-senang. Yuk cari perlombaan lain yang sekiranya seru."


Kartika mengangguk berjalan di samping Kevin.


"Ayo siapa lagi yang ingin ikut lomba peragaan baju pengantin hadiahnya lumayan lima ratus ribu untuk pemenang utama." Terdengar pengumuman lomba dari pengeras suara. Keduanya mencari arah suara itu. Sebuah lomba yang cukup menarik untuk keduanya.


Hingga tiba di tempat area lomba. Terlihat banyak orang yang berkerumun, ingin menyaksikan siapa yang akan mengikuti berlomba. Beberapa pasangan telah berbaris mengantri untuk di rias.


Kevin mengangkat tangan dan menarik tangan Kartika untuk menghampiri presenter pembawa acara.


"Kami ingin ikut, masih bisakah?"


"Silahkan masih bisa."


Kartika tertegun, hanya bisa menurut. Wanita itu tidak menyangka jika Kevin akan mengajaknya mengikuti lomba.


Satu persatu pasangan selesai dirias. Kira-kira ada sepuluh pasangan yang akan berjalan di atas catwalk untuk mendapat penilaian.


Saat giliran Kartika berjalan beriringan dengan Kevin tiba-tiba high heelsnya patah karena Kartika berjalan terlalu kaku. Kartika tidak terbiasa menggunakannya al hasil langkah kakinya bertubrukan dengan kaki sebelahnya yang mengakibatkan jatuh. Kartika pun jatuh terduduk dengan kaki satu di tekuk dan satu lagi ber selonjor. Kevin yang menyadari Kartika terjatuh menghentikan langkah kakinya. Berpaling di lihatnya Kartika sedang meringis menahan sakit. Tanpa pikir panjang Kevin menggendong tubuh Kartika. Kartika diam saja tidak protes. Hanya wajahnya saja yang berubah merah karena menahan malu. Tepuk tangan penonton pun mengiringi langkah kaki Kevin hingga hilang di balik panggung.


Setelah selesai berjalan di catwalk Kevin memeriksa kaki Kartika yang sedikit memar karena terjatuh.


"Maafkan, jika bukan karena aku tidak mungkin kamu terjatuh!" Wajah Kevin berubah sendu, merasa menyesal mengajak Kartika untuk mengikuti lomba.


Kevin memegang pergelangan kaki Kartika yang terkilir, bermaksud akan memijat kakinya.


"Tidak ada yang tahu jika aku akan jatuh saat mengikuti lomba itu."


Tangan Kartika memegangi tangan Kevin yang memijat kakinya. Ingin rasanya menyingkirkan tangan kekar itu. Namun, Kevin menegaskan untuk menurut supaya rasa sakitnya berkurang dan ia bisa berjalan walaupun harus tertatih.

__ADS_1


Di luar ruangan terdengar presenter mengumumkan para pemenang lomba baju pengantin berpasangan.


__ADS_2